Dua Pahlawan Perempuan Pejuang di Balaraja

Kisah Heroik Nyi Mas Gamparan dan Nyi Mas Melati

Nyi Mas Melati

Tulisan ini duplikasi dari penelusuran dokumen oleh Supi El Bala

Nyimas Gamparan dan Milisi Srikandi
Pasca perang Banten dan gerilyanya Sultan Ageng Tirtayasa di daerah hutan pinggiran Bogor, Sajera (1683) hingga tertipu oleh utusan keluarga keraton Surosowan atas permintaan anaknya, Sultan Haji. Sekenario selanjutnya, ditangkap dan meninggal dalam penjara Kompeni Belanda, Benteng Batavia (1692). Perjuangan menghadapi penjajah di Bumi Banten tidak begitu saja pupus. Diantaranya, perang dengan milisi pimpinan Nyimas Gumparo (1829-1830). Baca lebih lanjut

“Kesaktian” dan Perdukunan di Balaraja (Cerita Kenangan)

Cerita ini sepenuhnya pengalaman pribadi penulis. Tidak untuk promosi, provokasi, apalagi imitiasi (sebab saya tak percaya dukun, dan tak ingin jadi dukun). Dukun yang saya suka adalah: Dedi Dhukun, atau Alam, yang melantunkan Mbah Dukun…

Belum lama ini, keponakan saya, Kiki, tertusuk paku. Ke dokter? Tidak. Ia pergi ke seorang perempuan sepuh. Berobat. Dibuatkan ramuan macam-macam (tetapi paling dominan, bahannya terdiri dari terasi, garam, cabai). Bahan-bahan itu diulek sampai halus. Lalu dibalur ke bagian yang terluka. Disertai dengan jompa-jampi, tentu saja. Dan… Alhamdulillah, atas izin Allah, keponakan saya sembuh. Tak lagi meringis. Suhu tubuhnya yang sebelumnya panas, sontak turun.

Itu petikan contoh kecil. Tapi bukan karangan, melainkan faktual. Sungguh, saya pun dulu melakukan hal yang sama —jika tercucuk paku atau benda tajam lain di bagian telapak kaki, seperti oleh duri, pecahan kaca, atau serpihan kayu dan bambu. Kami tidak ke dokter. Untuk kasus saya dulu, memang dalam rangka menghemat uang. Tahulah, ke dokter pasti lebih mahal tinimbang sekedar uang terima kasih ke dukun desa.

Singkat kata, masih ada praktek perdukunan di Balaraja bahkan hingga detik ini

Tetapi buang jauh-jauh bayangan bahwa “perdukunan” itu melulu gaib, mistis, ada jin ada siluman, dan ada asap mengepul dari dupa kemenyan. Sebab sejatinya, praktek perdukunan juga bermacam-macam.

Ada dukun pengobatan (mengobati orang yang tertusuk paku, mengobati orang yang dipatuk ular, mengobati orang kesurupan, dll). Ada juga dukun pawang tadah hujan —yang ini biasanya disewa orang yang mau hajatan, agat tetamu tidak menjingjing payung lantaran diguyur air dari langit). Terus, ada pula dukun urut, memijat badan pegel atau meluruskan tulang patah. Kelompok ini, adalah praktek perdukunan yang relatif wajar… Kagak pake kemenyan.

Nah, berikut kategori dukun yang “di luar normal”, alias paranormal

Pertama, dukun ramal. Ramal nasib. Ramal kode buntut. Ramal pemenang Sepakbola. Ramal hari peruntungan, dan pelbagai ramalan lain. Di Balaraja, jika dijejer, jumlah dukun ramal bisa mencapai panjang ratusan meter (saking banyak). Dulu, “obyekan” mereka terbatas saja. Misalnya seorang Bapak yang konsultasi tentang nama terbaik untuk anak mereka, hari bagus untuk pesta nikah, atau sekedar mau memulai panen. Kini, “pasien” dukun ramal tambah banyak. Sebab, dikit-dikit orang minta “diterawang” untuk berbagai soal. Mulai dari terawangan bisnis, jual beli tanah, sampai ke perkara Liga Spanyol, Liga Champions, dan siapa juara Eropa?

Ada satu istilah dari dunia dukun ramal ini, yaitu naptu, yang maksudnya metode penghitungan hari, tanda-tanda khusus, nama, dan sebagainya, yang dikaitkan dengan permintaan ramalan tertentu. Istilah lain yang lekat dengan ramalan adalah naga. Ya, naga. Maksudnya, jika naga menghadap ke selatan (versi tukang ramal), maka hasilnya akan menjadi a, b,c, dan d. Begitulah…

Kedua, dukun pelet. Tak perlu dijelaskan, Anda semua mahfum. Terutama bagi mereka yang bernasib apes —kenyang ditolak perempuan. Di Balaraja, tenar sejumlah ajaran pelet. Ada pelet Semar Mesem (dari sebilah keris kecil, yang dibagian gagangnya berbentuk kepala semar tersenyum). Pelet lainnya yang populer adalah berbentuk wapak (sejenis ajimat, dari kain putih, digulung, untuk membungkus benda tertentu, bisa bacaan mantera, bisa juga batu akik). Dulu, hampir semua kawan sepergaulan saya mengaku pernah berurusan dengan dukun pelet. Kalau saya… he..he.. belum. Dukun pelet disebut juga dukun pengasihan.

Ketiga dukun, ya, cuma dukun. Atau kita sebut saja dukun sakti mandraguna. Mereka adalah sejenis dukun yang serba bisa. Diminta tolong ngusir kuntilanak, bisa. Disuruh memanggil arwah, bisa. Apalagi kalau cuma urusan menyembuhkan orang kesurupan dan setengah gila, pasti bisa. Konon, dukun sakti mandraguna ini pun hebat pula dalam urusan mendatangkan rezeki dan kekayaan (anehnya, si dukun sendiri, belum tentu kaya).

Keempat, dukun palsu. Jenis ini, sumpah, buanyak bangeeet. Jangan-jangan salah satu dari pembaca adalah dukun palsu juga.

Kelima, dukun politik. Terus terang, kategori yang terakhir ini sesungguhnya sudah lama ada, namun melesat bak meteor belum lama ini. Persis di zaman demokrasi Pilkada. Mereka yang beruntung dipercaya menjadi dukun politik, bisa dipastikan hidupnya berubah. Tidak lagi pegang tasbih atau zimat, tapi Blackberry atau Gadget canggih. Pasien yang datang bukan kakek jompo yang bernafas senin kamis, tetapi orang-orang kaya yang ikutan Pilkada.

Pergantian Istilah Dukun

Namun saat ini terjadi perkembangan yang entah harus disebut positif atau negatif. Ada proses peyorasi, penghalusan kata (seperti proses penghalusan istilah kelaparan yang diganti kata kekurangan pangan). Kini ramai-ramai orang menyebut para dukun sebagai pengamal hikmah. Ilmu perdukunan diganti menjadi ilmu hikmah. Orang yang merapal jampi-jampi, entah dengan wiridan atau dengan tidur di kuburan, disebut memiliki hikmah. Dan kerapkalai sebutan itu tak ada sangkut pautnya dengan makna hikmah dalam kaidah ke-Islam-an. Dalam Islam, hikmah adalah kebijaksanaan. Hikmah adalah olah pikir dan kedalaman dalam tafakur (setelah merenungkan fenomena tertentu). Hikmah adalah saripati ilmu.

 

 

“Gaya Hidup” Orang Kaya di Balaraja Zaman Baheula…

Tulisan kenangan era 70, 80, dan 90-an…

Setrika “Burung” Tempoe Doeloe

Ukuran kekayaan zaman bareto tak jauh dari ini: punya kerbau banyak, rumah banyak, tanah atau sawah banyak, dan sekaligus… bini banyak! Di zaman kumpeni itu, orang kaya tak pernah mau ribet (terutama di sekitar Balaraja dan sekitarnya).

Jangan harap mereka tertarik beli TV, kulkas, mesin cuci, AC pendingin, gadget, dan HP Blackberry. Karena memang belum ada… Lagipula, mengingat “tarap pendidikan” orang dulu masih pas-pasan, bisa-bisa seluruh peralatan canggih itu jadi salah fungsi. HP Blackberry dipakai ganjal pintu, Kulkas untuk menaruh pakaian yang sudah disetrika…

Bagaimana dengan mobil? Setahu saya, mobil masih jaraaaaaannnggg banget (mobil di kenal akhir 70-an saja, dan hanya orang tertentu yang punya). Cukuplah dengan sado, delman, bendi, dokar, atau apalah sebutannya. Sebuah kendaraan khas, ditarik kuda (ditarik janda muda juga boleh, asal siap ngos-ngosan).

Orang-orang kaya tempo doeloe punya hobi yang biasa-biasa saja. Ke sawah. Ngopi. Plus udud (rokok). Ke Mushola, dan… tidur. Kalaupun ada yang bengal, paling-paling juga nyabung ayam, pasang dadu (judi koprok), dan celingak-celinguk nyari tetangga seksi (dulu tak ada istilah cewek seksi, yang ada adalah “mojang parigel”).

Dari Mana Asal Kekayaan Mereka?

Sumber-sumber kekayaan orang-orang Balaraja Zaman duluuuu banget itu tak rumit-rumit amat. Maklumlah, waktu itu belum ada orang Balaraja yang main valas, tanam duit di Bursa Efek, atau kaya mendadak karena jadi Anggota DPR.

Harap percaya: saat itu juga belum ada orang Balaraja yang punya duit segunung karena “jago main limbah”. Artinya, usaha mereka untuk mencari kekayaan benar-benar murni. Mungkin, satu dua ada yang mencari kekayaan dengan jalan gelap: misalnya pergi ke Gunung Kawi, mencuri, atau niup lilin sampai pagi (seperti di film atau sinetron tuyul).

Yang jelas, usaha untuk jadi kaya berbekal pada kekuatan, keberanian, dan tentu saja izin Tuhan (sekuat apapun mereka berusaha, kalau Allah tak berkehendak, ya, teuteup aja cuma segitu…).

Tak heran, hanya orang-orang jago dan berpengaruh yang bisa kaya. Seperti: Jawara, Kyai, Centeng, Lurah, dan Pedagang. Tak seperti saat ini, bisa kaya karena korupsi…

 

Bagaimana Menghabiskan Uang?

Cara cepat menghabiskan uang apalagi kalau bukan dibakar atau dikubur? Tapi, tak ada cerita tentang orang kaya sinting yang melakukan hal itu di Balaraja Tempo Doeloe. Berhubung waktu itu belum ada Mall, belum ada Karaoke dan Tempat Dugem, tentu mereka cari cara sendiri untuk berpoya-poya. Paling jelas tentu memelihara Sinden (penyanyi, penari di pertunjukan Jaipong). Artis dangdut belum ada, jadi belum ada saweran di panggung dangdutan.

Kalau tak hobi yang begituan, paling-paling kawin lagi, kawin lari, dan kawin siri (eh, istilah kawin siri baru dikenal sekarang, ding). Tapi menurut cerita, memang cara paling cepat menguras kekayaan orang-orang tajir di masa itu adalah berjudi. Judi sabung ayam, judi koprok (dadu), judi kartu, dan judi bola pun sudah ada.

Atau, ada lagi cara lain yang bisa menyedut pundi-pundi duit orang-orang kaya tempoe doeloe. Cara ini agak lambat, tapi sering terjadi. Konon, kekayaan orang-orang kaya zaman itu sering kali habis ludes karena kelakuan anak-anak mereka.

 

Cara Unik Orang Kaya

Beberapa keunikan dan cara khas, biasa dilakukan oleh orang-orang kaya di Balaraja zaman baheula. Untuk menghitung ukuran tanah yang dimiliki, mereka tidak membawa alat meteran, melainkan cukup melempar batu sejauh mungkin. Nah, dilokasi batu jatuh itulah batas-batas tanah mereka. Atau, untuk memberi batas di sebelah utara, selatan, timur dan barat, mereka tidak membuat patok (sebagaimana lazimnya saat ini).

Tetapi cukup dengan mengatakan: di sebelah utara, batas tanah saya adalah kuburan…

Di sebelah selatan, batas tanah saya adalah sumur tua…

Di sebelah barat, batas tanah saya adalah pohon beringin…

Di sebelah timur, batas tanah saya adalah sungai…

Nah, kalau begini, bagaimana menghitung ukuran pasti luas sawah mereka? Ada istilah lain, tentang betapa luasnya tanah yang dimiliki orang-orang kaya dulu. Dengan sebuah sebutan: luas tanah saya adalah sepanjang mata memandang…

Begitu juga dengan cara mengukur umur. Maka petugas sensus sering puyeng. Bagaimana tidak? Ketika ditanya berapa umur anak Anda? maka orang yang ditanya menjawab ringan: Anak saya lahir persis berbarengan dengan ditanamnya pohon kelapa itu (sambil jemarinya menunjuk sebuah pohon kelapa yang sudah tinggi di depan rumah).

Berikutnya, kami akan turunkan kembali tulisan lain tentang Orang-Orang Kaya di Balaraja…

 

Sejarah Balaraja, Era “Kumpeni” hingga Kini

Sejarah:

Sejarah Balaraja, Era Kumpeni hingga Kini

Oleh: Supiyatna

Praktisi Pendidikan, Tinggal di Desa Merak, Kecamatan Sukamulya

Historis Tangerang Barat (Tangbar) dan identitasnya tak lepas dari sejarah sebuah kota Balaraja. Gagasan pemekaran Tangbar pun di lontarkan oleh Bupati Tangerang, Ismet Iskandar di kota ini. Balaraja merupakan kota icon Tangbar sesuai dengan perjalanan sejarahnya dari masa ke masa sebagai daerah kewedanaan yang wilyahnya meliputi wilayah Tangbar pada saat ini didesak untuk segera dimekarkan. Baca lebih lanjut