Bola “Karut” Ala Balaraja Baheula…

Bola

Tendangan cantik Andik Vermansyah ke gawang Singapura tak akan mudah dilupakan. Bukan hanya gol itu indah, tapi juga penting. Meruntuhkan kutukan sejarah pertemuan Indonesia vs Singapura, yang selalu dimenangkan Negeri Singa. Tapi yang lebih seru adalah: membangkitkan kembali kepercayaan publik terhadap sepakbola nasional. Baca lebih lanjut

Gemuruh Dongeng Sunda Era Si RAWING (Tahun 80-90-an)

Model Radio Zaman Dulu untuk mendengarkan dongeng

Jenis Radio paling unik tahun 80-an di Balaraja adalah kotak persegi memanjang. Hanya terlapisi kayu, kadang berwarna kuning lusuh, atau nyaris tak berwarna sama sekali. Tak ada gelombang FM, kecuali AM dan SW. Terlalu jauh untuk membayangkan suara stereo, cuma ada mono dengan latar kresek-kresek (karena suara tak jelas). Hebatnya lagi, banyak radio yang cuma  ada satu channel, karena modulasi frekuensi dipatri di satu gelombang saja (biasanya, untuk orang Balaraja, hanya mau mendengar Radio Agustina). Baca lebih lanjut

Dua Pahlawan Wanita yang “Bersentuhan” Dengan Balaraja

Artikel Dari Supi El Bala:

Ilustrasi Pahlawan Perempuan

Pascaperang Banten VS Kompeni, tidak begitu saja usai. Kompeni ternyata tidak mulus menguasai Banten dengan tenang. Perlawanan-perlawanan tak begitu saja mereda. Kompeni Belanda harus siaga dan waspada menghadapi milisi yang dimotori Ulama dan Jawara (pendekar).

Dari Ujung Kulon hingga Tangerang Kompeni terus menghadapi perang parsial. Banyak kisah mengenai sempalan perang Banten yang belum terungkap. Selaksana kedigjayaan si Pitung yang menjadi Zoro Betawi. Tentu saja ini menjadi legenda lisan yang jika tak dituturkan via tulisan media, begitu saja terkubur dalam benak wajah generasi mudanya.

Sebut saja, Syech Yusuf, Pangeran Purbaya, Pangeran Kidul di Tangerang, Kiyai Zakariya Ujung Kulon, Ki Asnawi Caringin, generasi berikutnya Nyimas Gamparan Hingga Nyimas Malati yang wilayah teritorial perjuangannya di Tangerang dan sebagian Serang. Dua pejuang wanita Banten ini jarang disebutkan dalam buku matapelajaran sejarah nasional maupun lokal.

Balaraja, catatan lisan menyebutkan bahwa pasukan darat Sultan Ageng Tirtaya ketika hendak menyerang Batavia. Salah satu markas amunisi dan dan dapur umumnya dipasok dari Balaraja.

Sebagai daerah transit, tentu saja banyak meninggalkan catatan sejarah yang tak bisa begitu saja lekang. Termasuk kepahlawanan dua singa wanita ini.

Nyimas Gamparan dan Milisi Srikandi

Pasca perang Banten dan gerilyanya Sultan Ageng Tirtayasa di daerah hutan pinggiran Bogor, Sajera (1683) hingga tertipu oleh utusan keluarga keraton Surosowan atas permintaan anaknya, Sultan Haji. Sekenario selanjutnya, ditangkap dan meninggal dalam penjara Kompeni Belanda, Benteng Batavia (1692). Perjuangan menghadapi penjajah di Bumi Banten tidak begitu saja pupus. Diantaranya, perang dengan milisi pimpinan Nyimas Gumparo (1829-1830).

Nyimas Gumparo alias Nyimas Gamparan bersama 30 milisi wanita dan saudara-saudaranya menyerang kompeni belanda yang waktu itu sedang gencar-gencarnya melaksanakan program Cultuurstelsel (1830) dengan membangun jalan Anyer-Panarukan. Perang Cikande, Rangkas, Serang hingga ke Pandeglang pun tak terelakan. Serangan-serangan dilakukan Nyimas Gamparan beserta pasukannya. Korban dari kedua belah pihak pun tak terelakan.

Pasukan Srikandi ini bermarkas di Balaraja. Tempat singgah para raja (Asal Kata Balai Raja) atau ada yang menyebutkan tempat berkumpulnya BALA tentara RAJA. Serangan sporadis pasukan Nyimas Gamparan ternyata membuat repot kaum penjajah. Disebutkan Kompeni Belanda pada waktu itu telah banyak mengalami kerugian dan kebangkrutan.

Pasukan Nyimas Gamparan tidak mudah ditumpas oleh pasukan Kompeni Belanda. Kenyataannya, pasukan wanita ini mampu bertahan menghadapi serangan pasukan pengalaman perang. Adapun keunggulannya antara lain: Pertama, Pasukan wanita ini tangguh di medan perang (salah satu kaol menyebutkan sakti-sakti mandraguna). Yang kedua, pasukan Nyimas Gamparan menguasai medan perang gerilya di teritorialnya.

Ada satu daerah yang menjadi persembunyian orang-orang Balaraja ketika zaman ngeli (hijrah) yakni di Desa Kubang Kec. Sukamulya (Pemekaran Kec. Balaraja). Banyak diyakini oleh orang Balaraja bahwa jika ngeli ke daerah tersebut susah dilacak oleh tentara penjajah.

Diperkirakan tempat penyumputan (persembunyian) Nyimas Gamparan di daerah tersebut. Sebab daerah ini letaknya berada jauh di pedalaman.

Kalau kita bentangkan garis lurus, Kubang wilayahnya cukup jauh dari proyek Jalan Anyer-Panarukan juga diapit antara Sungai Cidurian dan Cimanceuri. Sehingga transportasi penyerangan bisa dilakukan dari berbagai arah. Selanjutnya, dulu masih banyak peninggalan patung pejuang dan makam tua yang mengarah pada pejuang Banten.

Selain itu, akses dari jalan Anyer-Panarukan (kota Balaraja) menuju Kubang harus melewati hutan lebat (yang sekarang menjadi Kampung Leuweung Gede). Disebelah hutan itulah didirikan barak pasukan yang belakangan disebut Pondok Gede atau rumah besar.

Lagi-lagi, Belanda melancarkan devide et impera. Raden Tumenggung Kartanata Nagara yang menjadi Demang di Jasinga, Bogor (1829) diminta bantuan untuk menumpas milisi Srikandi ini. Dengan iming-iming dijadikan penguasa di daerah Rangkasbitung.

Pasukan Ki Demang inilah yang kemudian diadu dengan Pasukan Nyimas Gamparan. Akibat perang yang berkepanjangan pasukan Nyimas Gamparan yang bergerak dari Balaraja-Cikande menuju Rangkasbitung dapat diperlaya saat perang Pamarayan oleh pasukan Kartanata Nagara. Nyimas Gamparan pun disemayamkan di daerah Pamarayan, Serang-Banten.

Atas perannya tersebut Ki Demang mendapat anugerah dari Kompeni sebagai Bupati Rangkasbitung pertama (1830-1865) dengan gelar Raden Tumenggung Adipati Kartanata Nagara menggantikan penguasa sebelumnya Pangeran Sanjaya. Dari kejadian ini perjuangan pun tak lantas pudar. Perang terus berkobar di bagian lain Bumi Banten atas belenggu penjajah.

Nyimas Melati Putri Sejati                                       

Alkisah tahun 1918, sebagian besar Tangerang telah dikuasai oleh tuan tanah. Sangat sedikit sekali kaum pribumi memiliki tanah pribadi. Sebutan tanah dalam tanam paksa disebut tanah partikelir.

Partikelir antara tahun 1921-1930 di Distrik Blaradja, seperti Blaradja en Boeniajoe, Tigaraksa, Tjikoeja, Karangserang dalem of Kemiri, Pasilian, Djenggati, Tjakoeng of Kresek. Adapun di Distrik Tangerang, diantaranya tjikokol tg., Panunggangan, Pondok Djagoeng, Paroengkoeda, Batoe Tjeper, Tanah Kodja, dll sedangkan di Distrik Maoek antara lain: Kramat en Pakoeadji, Sepatan, Teloeknaga, Ketapang Maoek, Rawakidang, Kampoeng Malajoe, Pekadjangan, Tegalangoes, Bodjong Renget, Ketos dll. Hampir semua tanah dikuasai Tuan Tanah.

Saat sekelompok tuan tanah mendapat dukungan dari kompeni kehidupan Masyarakat Tangerang dikuasai menyebabkan masyarakat melarat akan pemaksaan, pemerasan, dan tekanan atas tanahnya. Salah satu perjuangan milisi yang terkenal adalah Milisi Raden Kabal.

Milisi Kabal sering mengadakan penghadangan di daerah-daerah Tangerang. Dalam pertempuran melawan Kompeni Belanda Sang Raden dibantu putrinya, Nyimas Melati dan Pangeran Pabuaran Subang.

Salah satu pertempuran yang tertulis pertempuran Pabuaran Subang yang dijadikan tempat gugurnya Pangerang Pabuaran dari Subang saat perang dengan Kompeni.

Keberanian Nyimas Melati terkenal akan ketangguhannya dalam ilmu bela diri maupun olah kanuragan.

Konon, kesaktiannya menjadi tuturan para orang tua tempo doeloe. Saat bentrok pasukan terjadi di daerah perbatasan Balaraja. Sambil mengacungkan centong (baca: keris) berteriak lantang “Serang…!” pasukan Kompeni yang dibantu Cina pro Kompeni langsung ciut nyalinya. Suaranya, yang menggelegar meluluhlantakan semangat pasukan lawan. Bahkan diceritakan burung-burung yang mendengar teriakannya beterbangan karena gaungannya.

Nyimas Melati laksana Singa Betina ketika menyerang musuh-musuhnya kebenaranianya tercatat dalam benak para orang tua dahulu. Sehingga untuk mengubur jejak kepahlawanannya Nyimas Melati akhirnya dimakamkan dibanyak tempat, diantaranya di Desa Bunar Kec. Sukamulya (pemekaran Balaraja), TANGERANG BARAT

Mengungkap Tabu (atau Pamali) di Balaraja…

Artikel ini ditulis oleh Supi El Bala:

Ulah ngakan buah urut lalay bisi borok susu….!

Jangan makan buah bekas kalong nanti payudaramu busuk!

 

Begitu anak gadis di kampung Kami selalu diingatkan oleh para orang tua, dari kecil hingga sekarang.

Pantang lain diantaranya, “Jangan makan pisang ambon…” bisi aamboneun, GR sendiri (baca: ngerasa cantik sendiri). Baca lebih lanjut

Gedoran China di Balaraja (Sebuah Memori Kelam)

Meski lapat nan samar, pecahan kisah tentang China di Balaraja cukup sering terdengar. Pelbagai sumber kerap membuka informasi dengan aneka versi. Terkhusus pada cerita-cerita menyeramkan. Tentang pembunuhan sadis. Penumpasan tanpa perikemanusiaan. Perebutan dan perampasan harta. Serta (maaf) pemerkosaan perempuan China dan penyunatan paksa pria China di seantero Balaraja dan sekitarnya.

Baca lebih lanjut

Campur Mokla, Budaya Balaraja

Main dengan lawan jenis, “Campur Mokla” larang Karuhun Balaraja

 

Gaya anak muda saat ini sudah luar biasa dasyatnya. Lihat saja cara mereka berpakaian, berdandan dan berkendaraan. Gaya zet set seleb Tv menjadi mind set mereka. Tak ketinggalan anak muda Balaraja.

Sebagai mengingat saja. Gaya pergaulan anak muda-mudi tempoe doeloe. Karuhun Balaraja memberi pepatah dan pepitih yang hampir dilupakan generasi kini. “Campur Mokla…!”

Mokla itu darah jadi “Campur Mokla” berarti campur darah. Silokanya, pergaulan laki-laki dan perempuan yang tanpa batas menyebabkan bersatunya darah anak laki-laki dengan perempuan. Mengenai jabaran darah kagak perlu dibahas kalie….

Sangat tidak diperbolehkan anak laki main dengan anak perempuan, katanya: “Jangan nanti campur mokla…!” Dalam benak anak-anak (kami) waktu itu jika main dengan anak perempuan selalu dibayangi monster “Campur Mokla…”

Pembelajaran  tidak langsung orang tua memberikan implisitas bahwa pekerjaan ini, TABU…! Laiknya, Jangan berdiri di tengah pintu, jauh jodoh (padahal: menghalangi jalan). Jangan duduk di atas  meja, banyak hutang (padahal: tak elok dilihat) dan lain-lain (entar kita bahas di  “Tabu-Tabu Karuhun Balaraja”).

Ajaran Tetabuan yang didogmakan para karuhun ini sekarang sudah banyak disebodoin, alasannya KOLOT atawa KUNO. Apriori lainnya, menciptakan anak kurang berani, mengajari anak berbohong, mencla-mencle, dan watak negasi lainnya.

Kebaikan ajaran tetabuan ini, ternyata ampuh di zamannya. Sebagai pedoman otomatis tatagaul laki-perempuan dalam membentengi freesex, samen lapen, apalagi sex party. Locals wisdom, ternyata memberi banyak manfaat bagi laku lampah zaman kiwari.***(AR)

“Kesaktian” dan Perdukunan di Balaraja (Cerita Kenangan)

Cerita ini sepenuhnya pengalaman pribadi penulis. Tidak untuk promosi, provokasi, apalagi imitiasi (sebab saya tak percaya dukun, dan tak ingin jadi dukun). Dukun yang saya suka adalah: Dedi Dhukun, atau Alam, yang melantunkan Mbah Dukun…

Belum lama ini, keponakan saya, Kiki, tertusuk paku. Ke dokter? Tidak. Ia pergi ke seorang perempuan sepuh. Berobat. Dibuatkan ramuan macam-macam (tetapi paling dominan, bahannya terdiri dari terasi, garam, cabai). Bahan-bahan itu diulek sampai halus. Lalu dibalur ke bagian yang terluka. Disertai dengan jompa-jampi, tentu saja. Dan… Alhamdulillah, atas izin Allah, keponakan saya sembuh. Tak lagi meringis. Suhu tubuhnya yang sebelumnya panas, sontak turun.

Itu petikan contoh kecil. Tapi bukan karangan, melainkan faktual. Sungguh, saya pun dulu melakukan hal yang sama —jika tercucuk paku atau benda tajam lain di bagian telapak kaki, seperti oleh duri, pecahan kaca, atau serpihan kayu dan bambu. Kami tidak ke dokter. Untuk kasus saya dulu, memang dalam rangka menghemat uang. Tahulah, ke dokter pasti lebih mahal tinimbang sekedar uang terima kasih ke dukun desa.

Singkat kata, masih ada praktek perdukunan di Balaraja bahkan hingga detik ini

Tetapi buang jauh-jauh bayangan bahwa “perdukunan” itu melulu gaib, mistis, ada jin ada siluman, dan ada asap mengepul dari dupa kemenyan. Sebab sejatinya, praktek perdukunan juga bermacam-macam.

Ada dukun pengobatan (mengobati orang yang tertusuk paku, mengobati orang yang dipatuk ular, mengobati orang kesurupan, dll). Ada juga dukun pawang tadah hujan —yang ini biasanya disewa orang yang mau hajatan, agat tetamu tidak menjingjing payung lantaran diguyur air dari langit). Terus, ada pula dukun urut, memijat badan pegel atau meluruskan tulang patah. Kelompok ini, adalah praktek perdukunan yang relatif wajar… Kagak pake kemenyan.

Nah, berikut kategori dukun yang “di luar normal”, alias paranormal

Pertama, dukun ramal. Ramal nasib. Ramal kode buntut. Ramal pemenang Sepakbola. Ramal hari peruntungan, dan pelbagai ramalan lain. Di Balaraja, jika dijejer, jumlah dukun ramal bisa mencapai panjang ratusan meter (saking banyak). Dulu, “obyekan” mereka terbatas saja. Misalnya seorang Bapak yang konsultasi tentang nama terbaik untuk anak mereka, hari bagus untuk pesta nikah, atau sekedar mau memulai panen. Kini, “pasien” dukun ramal tambah banyak. Sebab, dikit-dikit orang minta “diterawang” untuk berbagai soal. Mulai dari terawangan bisnis, jual beli tanah, sampai ke perkara Liga Spanyol, Liga Champions, dan siapa juara Eropa?

Ada satu istilah dari dunia dukun ramal ini, yaitu naptu, yang maksudnya metode penghitungan hari, tanda-tanda khusus, nama, dan sebagainya, yang dikaitkan dengan permintaan ramalan tertentu. Istilah lain yang lekat dengan ramalan adalah naga. Ya, naga. Maksudnya, jika naga menghadap ke selatan (versi tukang ramal), maka hasilnya akan menjadi a, b,c, dan d. Begitulah…

Kedua, dukun pelet. Tak perlu dijelaskan, Anda semua mahfum. Terutama bagi mereka yang bernasib apes —kenyang ditolak perempuan. Di Balaraja, tenar sejumlah ajaran pelet. Ada pelet Semar Mesem (dari sebilah keris kecil, yang dibagian gagangnya berbentuk kepala semar tersenyum). Pelet lainnya yang populer adalah berbentuk wapak (sejenis ajimat, dari kain putih, digulung, untuk membungkus benda tertentu, bisa bacaan mantera, bisa juga batu akik). Dulu, hampir semua kawan sepergaulan saya mengaku pernah berurusan dengan dukun pelet. Kalau saya… he..he.. belum. Dukun pelet disebut juga dukun pengasihan.

Ketiga dukun, ya, cuma dukun. Atau kita sebut saja dukun sakti mandraguna. Mereka adalah sejenis dukun yang serba bisa. Diminta tolong ngusir kuntilanak, bisa. Disuruh memanggil arwah, bisa. Apalagi kalau cuma urusan menyembuhkan orang kesurupan dan setengah gila, pasti bisa. Konon, dukun sakti mandraguna ini pun hebat pula dalam urusan mendatangkan rezeki dan kekayaan (anehnya, si dukun sendiri, belum tentu kaya).

Keempat, dukun palsu. Jenis ini, sumpah, buanyak bangeeet. Jangan-jangan salah satu dari pembaca adalah dukun palsu juga.

Kelima, dukun politik. Terus terang, kategori yang terakhir ini sesungguhnya sudah lama ada, namun melesat bak meteor belum lama ini. Persis di zaman demokrasi Pilkada. Mereka yang beruntung dipercaya menjadi dukun politik, bisa dipastikan hidupnya berubah. Tidak lagi pegang tasbih atau zimat, tapi Blackberry atau Gadget canggih. Pasien yang datang bukan kakek jompo yang bernafas senin kamis, tetapi orang-orang kaya yang ikutan Pilkada.

Pergantian Istilah Dukun

Namun saat ini terjadi perkembangan yang entah harus disebut positif atau negatif. Ada proses peyorasi, penghalusan kata (seperti proses penghalusan istilah kelaparan yang diganti kata kekurangan pangan). Kini ramai-ramai orang menyebut para dukun sebagai pengamal hikmah. Ilmu perdukunan diganti menjadi ilmu hikmah. Orang yang merapal jampi-jampi, entah dengan wiridan atau dengan tidur di kuburan, disebut memiliki hikmah. Dan kerapkalai sebutan itu tak ada sangkut pautnya dengan makna hikmah dalam kaidah ke-Islam-an. Dalam Islam, hikmah adalah kebijaksanaan. Hikmah adalah olah pikir dan kedalaman dalam tafakur (setelah merenungkan fenomena tertentu). Hikmah adalah saripati ilmu.

 

 

“Gaya Hidup” Orang Kaya di Balaraja Zaman Baheula…

Tulisan kenangan era 70, 80, dan 90-an…

Setrika “Burung” Tempoe Doeloe

Ukuran kekayaan zaman bareto tak jauh dari ini: punya kerbau banyak, rumah banyak, tanah atau sawah banyak, dan sekaligus… bini banyak! Di zaman kumpeni itu, orang kaya tak pernah mau ribet (terutama di sekitar Balaraja dan sekitarnya).

Jangan harap mereka tertarik beli TV, kulkas, mesin cuci, AC pendingin, gadget, dan HP Blackberry. Karena memang belum ada… Lagipula, mengingat “tarap pendidikan” orang dulu masih pas-pasan, bisa-bisa seluruh peralatan canggih itu jadi salah fungsi. HP Blackberry dipakai ganjal pintu, Kulkas untuk menaruh pakaian yang sudah disetrika…

Bagaimana dengan mobil? Setahu saya, mobil masih jaraaaaaannnggg banget (mobil di kenal akhir 70-an saja, dan hanya orang tertentu yang punya). Cukuplah dengan sado, delman, bendi, dokar, atau apalah sebutannya. Sebuah kendaraan khas, ditarik kuda (ditarik janda muda juga boleh, asal siap ngos-ngosan).

Orang-orang kaya tempo doeloe punya hobi yang biasa-biasa saja. Ke sawah. Ngopi. Plus udud (rokok). Ke Mushola, dan… tidur. Kalaupun ada yang bengal, paling-paling juga nyabung ayam, pasang dadu (judi koprok), dan celingak-celinguk nyari tetangga seksi (dulu tak ada istilah cewek seksi, yang ada adalah “mojang parigel”).

Dari Mana Asal Kekayaan Mereka?

Sumber-sumber kekayaan orang-orang Balaraja Zaman duluuuu banget itu tak rumit-rumit amat. Maklumlah, waktu itu belum ada orang Balaraja yang main valas, tanam duit di Bursa Efek, atau kaya mendadak karena jadi Anggota DPR.

Harap percaya: saat itu juga belum ada orang Balaraja yang punya duit segunung karena “jago main limbah”. Artinya, usaha mereka untuk mencari kekayaan benar-benar murni. Mungkin, satu dua ada yang mencari kekayaan dengan jalan gelap: misalnya pergi ke Gunung Kawi, mencuri, atau niup lilin sampai pagi (seperti di film atau sinetron tuyul).

Yang jelas, usaha untuk jadi kaya berbekal pada kekuatan, keberanian, dan tentu saja izin Tuhan (sekuat apapun mereka berusaha, kalau Allah tak berkehendak, ya, teuteup aja cuma segitu…).

Tak heran, hanya orang-orang jago dan berpengaruh yang bisa kaya. Seperti: Jawara, Kyai, Centeng, Lurah, dan Pedagang. Tak seperti saat ini, bisa kaya karena korupsi…

 

Bagaimana Menghabiskan Uang?

Cara cepat menghabiskan uang apalagi kalau bukan dibakar atau dikubur? Tapi, tak ada cerita tentang orang kaya sinting yang melakukan hal itu di Balaraja Tempo Doeloe. Berhubung waktu itu belum ada Mall, belum ada Karaoke dan Tempat Dugem, tentu mereka cari cara sendiri untuk berpoya-poya. Paling jelas tentu memelihara Sinden (penyanyi, penari di pertunjukan Jaipong). Artis dangdut belum ada, jadi belum ada saweran di panggung dangdutan.

Kalau tak hobi yang begituan, paling-paling kawin lagi, kawin lari, dan kawin siri (eh, istilah kawin siri baru dikenal sekarang, ding). Tapi menurut cerita, memang cara paling cepat menguras kekayaan orang-orang tajir di masa itu adalah berjudi. Judi sabung ayam, judi koprok (dadu), judi kartu, dan judi bola pun sudah ada.

Atau, ada lagi cara lain yang bisa menyedut pundi-pundi duit orang-orang kaya tempoe doeloe. Cara ini agak lambat, tapi sering terjadi. Konon, kekayaan orang-orang kaya zaman itu sering kali habis ludes karena kelakuan anak-anak mereka.

 

Cara Unik Orang Kaya

Beberapa keunikan dan cara khas, biasa dilakukan oleh orang-orang kaya di Balaraja zaman baheula. Untuk menghitung ukuran tanah yang dimiliki, mereka tidak membawa alat meteran, melainkan cukup melempar batu sejauh mungkin. Nah, dilokasi batu jatuh itulah batas-batas tanah mereka. Atau, untuk memberi batas di sebelah utara, selatan, timur dan barat, mereka tidak membuat patok (sebagaimana lazimnya saat ini).

Tetapi cukup dengan mengatakan: di sebelah utara, batas tanah saya adalah kuburan…

Di sebelah selatan, batas tanah saya adalah sumur tua…

Di sebelah barat, batas tanah saya adalah pohon beringin…

Di sebelah timur, batas tanah saya adalah sungai…

Nah, kalau begini, bagaimana menghitung ukuran pasti luas sawah mereka? Ada istilah lain, tentang betapa luasnya tanah yang dimiliki orang-orang kaya dulu. Dengan sebuah sebutan: luas tanah saya adalah sepanjang mata memandang…

Begitu juga dengan cara mengukur umur. Maka petugas sensus sering puyeng. Bagaimana tidak? Ketika ditanya berapa umur anak Anda? maka orang yang ditanya menjawab ringan: Anak saya lahir persis berbarengan dengan ditanamnya pohon kelapa itu (sambil jemarinya menunjuk sebuah pohon kelapa yang sudah tinggi di depan rumah).

Berikutnya, kami akan turunkan kembali tulisan lain tentang Orang-Orang Kaya di Balaraja…

 

Kamus “Lieur” Sunda Balaraja

Berikut ini beberapa lema (kata, istilah) yang populer dalam bahasa ujaran dan komunikasi sehari-hari di Balaraja dan sekitarnya, medio 80-90-an. Beberapa diantaranya sudah menghilang, makanya dihidupkan kembali.

Dulu, persawahan hijau seperti ini bertebaran di Balaraja. Kini? Tak ada lagi…

 

Pungkal: adalah sejenis gundukan tanah yang biasanya ada di pinggiran sawah, dan hanya ada di musim kemarau.

Ceumpal: maksudnya melempar sampai jauh.

Hinis: artinya adalah sembilu (potongan tipis pada kulit bambu,yang dibuat untuk menyayat sesuatu).

Salang: tempat untuk menyimpan lauk-pauk, dengan cara digantung, untuk menghindari jangkauan kucing.

Godag: tempat menyimpan gabah yang dibuat dari bambu (dianyam), tetapi dengan ukuran super besar (berfungsi sebagai lumbung padi).

Hampo: sejenis batuan cadas yang terdapat di pinggir kali, lalu dibakar, dipanggang, dengan aroma wangi (bagi orang tua zaman dulu), dan dimakan.

Berikutnya kami lanjutkan, mudah-mudahan masih bisa ingat…

….

….

KPU Kab. Tangerang Tetapkan Empat Pasang Calon

Sumber: TangerangNews.com

20 Oktober 2012

TANGERANG-KPU Kabupaten Tangerang memutuskan yang berhak maju dalam pencalonan Bupati dan Wakil Bupati Tangerang empat pasang calon. Sedangkan satu pasang calon, yakni dari jalur independen (perseorangan) gugur dengan alasan kurang memenuhi persyaratan dukungan.

Itu semua dikatakan oleh Badrusalam, Pengarah Pencalonan KPU Kabupaten Tangerang saat dihubungi TangerangNews.com Jumat (19/10) sekitar pukul 24.00 WIB.

“Untuk itu, besok keempat pasang calon tersebut akan kami undang untuk mengikuti pengambilan nomor urut di Country Club, Imperial Lippo, Karawaci pukul 14.00 sampai dengan selesai,” ujar Badrusalam.

Ditanya mengapa begitu tertutup memutuskan pasangan calon, apalagi mudur dari pukul 13.00 WIB menjadi pukul 20.00 hingga baru selesai pukul 23.00 WIB, Badrusalam mengatakan, karena ada perdebatan.
“Ya mohon maaf, memang jadwal awal pukul 13.00 WIB, tetapi secara internal kami sudah ralat jadwal dari pukul 13.00 menjadi pukul 20.00. Dan, baru jam 23.00 selesai, itu karena memang ada pembahasan panjang soal pandangan anggota komisioner (KPU) terhadap dukungan kepada Aden Abdul Khaliq-Suryana,” ujarnya.

Kenapa diralat jadwal dari pukul 13.00 menjadi pukul 20.00, alasannya karena beberapa anggota KPU saat itu masih melakukan sosialisasi dan ada juga yang menjadi pembicara dibeberapa acara.

“Sedangkan sejak 20.00 WIB. Memang ada beberapa pemaparan terkait dukungan soal PPNUI. Kami ada bahasan panjang dan masing-masing mengungkapkan pandangannnya, dan berkeyakinan itu sudah sesuai. Semua anggota KPU berpandangan sama,” katanya.

Ditanya soal calon independen, Barusalam mengatakan, pihaknya pada Kamis (19/10) juga telah menetapkan, pasangan Syaiful Hidayat-Een Nurhaeni tidak memenuhi persyaratan. “Syarat paling sedikit dukungan seharusnya 8.8564 kartu tanda penduduk (KTP). Tapi dia hanya mampu 6.066 dukungan KTP,” terangnya.

Usai rapat penetapan calon, KPU langsung membuat membuat pemberitahuan kepada masing-masing calon yang melakukan pendaftaran . “Pemberitahuan selain kepada keempat yang lolos, juga kepada yang gugur pun sama. Hanya bedanya pembertahuannya berisi memberitahukan kalau tidak memenuhi persyaratan,” terangnya.