Daerah Paling Seram di Balaraja!!!

Serem

Di televisi, saban tahun ada even pemilihan Puteri Indonesia. Dara-dara cantik berlaga mewakili daerah masing-masing. Ada dari daerah Sumatera, Daerah Jawa, Daerah Bali… Tapi, tak ada puteri yang mewakili daerah seram…

Cerita tentang wilayah angker, maka di Balaraja adalah gudangnya (terutama di era 80-an). Jika dikelompokkan, maka ada sejumlah jenis daerah yang menakutkan untuk dilewati (terutama di malam hari). Beberapa diantaranya adalah berbentuk: (1) kuburan atau makam tua; (2) pohon besar; (3) hutan bambu; (4) rawa-rawa; (5) rumah kosong; (6) sumur tua; (7) jembatan; (8) sungai; (9) daerah persawahan yang jauh dari rumah penduduk; dan (10) tempat-tempat khusus yang memang terlihat seram, seperti gedung yang tak terpakai…

Tambahan lain, ada juga lokasi yang tiba-tiba menakutkan. Misalnya, bekas terjadinya kecelakaan, atau lokasi ditemukannya orang tewas dalam karung. Ini bukan khayal. Tahun 80-an, adalah tahun adanya Operasi Penembak Misterius, atau Petrus. Operasi ini dilakukan oleh Militer RI, untuk menghabisi para preman dan begundal yang pentuh tato. Biasanya, mayat di buang dipinggir sawah atau di kolong jembatan.

Sudah pasti, pengelompokan itu tak memasukan manusia yang berwajah jelek dan seram. Karena, itu namanya penghinaan.

Ingat. Semua jenis daerah yang membuat merinding itu terjadi di Balaraja masa silam. Hari ini, tak ada lagi tempat yang sepi. Kalaupun ada, bukan membuat takut. Malah jadi ajang pacaran dan mesum.

Semisal Contoh

Mari lacak contoh satu per satu. Tentang kuburan seram, maka ada beberapa. Di Kedaung, Balaraja (arah mau masuk ke PT Dharma Polymetal) atau makam besar, yang sekaligus dirimbuni pepohonan besar. Ini benar-benar membuat bulu kuduk berdiri. Tahun 80-an, masih jarang rumah di sana. Lalu ada juga kuburan cina di Pasar Sentiong. Waktu itu, melewati (malam hari) Pasar Sentiong sama saja dengan menantang hantu muncul. Hiiii…

Sebetulnya, terlalu panjang jika cerita satu per satu. Pada umumnya, daerah yang dianggap seram adalah lokasi yang jauh dari rumah penduduk. Tetapi selalu dilintasi orang yang berpergian —karena tak ada lagi jalan masuk. Maka lahirlah berbagai versi tentang cerita hantu. Ada yang kesurupuan, ada yang mengaku diganggu suara tertawa, ada yang melihat kuntilanak. Dan lain-lain.

Tak heran pula. Di tahun 80-an, karena masih sepi, maka cerita seram terus berkembang. Terutama untuk membuat orang waspada. Maklum, selain ancaman setan, juga ada ancaman dari para garong yang mengincar barang berharga. Maka, lengkap sudah…

 

 

//

Iklan

Berbalas Pantun Ala Balaraja (era 80-an)

01

Para pelawak di televisi paling hobi berbalas pantun. Mereka bahkan cenderung memperlebar fungsi pantun. Dulu, pantun adalah gaya bahasa yang indah, halus, dan sopan. Kini, pantun menjadi bahan olok-olok, saling ejek, ledek-ledekkan, dan jauh dari etika kepatutan.

Berpantun ala pelawak memang bertujuan meledakkan tawa. Tetapi, sayangnya, kerap bablas. Lantaran mereka tak sungkan lagi menghamburkan kata-kata vulgar. Pokoknya lebay bin alay…

Di luar lingkungan pelawak, penggunaan pantun saat ini sudah menjadi “gaya hidup”. Para pengguna pantun, tersihir oleh kaidah pantun para pelawak. Mereka pun ikut-ikutan main ledek-ledekan dengan menggunakan pantun. Sesekali, pantun juga dipakai untuk merayu dan menggoda lawan jenis. Contohnya:

Ikan hiu pegel-pegel,

I Love You, Girl…

Atau contoh pantun untuk membuat segar suasana, seperti yang ini:

Buha kopi, buah kedondong,

Ngopi dooonggg…

Pantun Balaraja

Jangan salah, generasi Balaraja era 80-an juga mengenal (dan gemar) berpantun. Dengan beragam variasi. Ada pantun yang menggambarkan suasana sepi di tengah sawah; pantun untuk mengejek perempuan; pantun untuk menertawakan orang tua; atau pantun untuk sekedar mencairkan suasana…

Contoh pantun untuk mengejek perempuan atau lawan jenis:

Salawe dua puluh lima, amis henteu ladana bae…

Awewe zaman ayeuna, geulis henteu, lagana bae…

(Artinya: perempuan zaman sekarang, tidak cantik tapi hanya genit! Nah, pantun ini jelas akan membuat pedas lawan jenis).

Malah ada pula pantun yang sifatnya mengolok-olok perempuan:

Salawe dua puluh lima, sireum ateul dina gelas,

Awewe zaman ayeuna, kelek ateul dihampelas…

(Artinya: perempuan zaman sekarang, kalau ketiak gatal, diampelas, digosok pakai ampelas. Ini jelas ejekan, karena tak mungkin dilakukan).

Berikut pantun yang menggambarkan rasa putus asa karena cinta:

Kica-kica, kuku cina

Teu dipiceun kalokopna…

Cita-cita hayang kadinya,

Teu dibikeun ku kolotna!

(Artinya: cita-cita ingin memilikinya, apa daya tak diberikan oleh orang tuanya).

Lalu, ada juga pantun yang kurang ajar, mengolok-olok orang tua:

Dumanini, batu jajar,

Samping beureum disoekeun,

Nini-nini kurang ajar,

Ndeuk dibeuleum teu daekeun…

(Artinya: ada nenek-nenek yang menurut mereka adalah kurang ajar, tetapi mau dibakar tidak mau, jelas dong, siapa yang mau dibakar, emang jagung?)

Nah, itulah sepetik pantun di Balaraja Era Silam.

By Tangereng Barat Posted in Pernik

Mengungkap Tabu (atau Pamali) di Balaraja…

Artikel ini ditulis oleh Supi El Bala:

Ulah ngakan buah urut lalay bisi borok susu….!

Jangan makan buah bekas kalong nanti payudaramu busuk!

 

Begitu anak gadis di kampung Kami selalu diingatkan oleh para orang tua, dari kecil hingga sekarang.

Pantang lain diantaranya, “Jangan makan pisang ambon…” bisi aamboneun, GR sendiri (baca: ngerasa cantik sendiri). Baca lebih lanjut

Campur Mokla, Budaya Balaraja

Main dengan lawan jenis, “Campur Mokla” larang Karuhun Balaraja

 

Gaya anak muda saat ini sudah luar biasa dasyatnya. Lihat saja cara mereka berpakaian, berdandan dan berkendaraan. Gaya zet set seleb Tv menjadi mind set mereka. Tak ketinggalan anak muda Balaraja.

Sebagai mengingat saja. Gaya pergaulan anak muda-mudi tempoe doeloe. Karuhun Balaraja memberi pepatah dan pepitih yang hampir dilupakan generasi kini. “Campur Mokla…!”

Mokla itu darah jadi “Campur Mokla” berarti campur darah. Silokanya, pergaulan laki-laki dan perempuan yang tanpa batas menyebabkan bersatunya darah anak laki-laki dengan perempuan. Mengenai jabaran darah kagak perlu dibahas kalie….

Sangat tidak diperbolehkan anak laki main dengan anak perempuan, katanya: “Jangan nanti campur mokla…!” Dalam benak anak-anak (kami) waktu itu jika main dengan anak perempuan selalu dibayangi monster “Campur Mokla…”

Pembelajaran  tidak langsung orang tua memberikan implisitas bahwa pekerjaan ini, TABU…! Laiknya, Jangan berdiri di tengah pintu, jauh jodoh (padahal: menghalangi jalan). Jangan duduk di atas  meja, banyak hutang (padahal: tak elok dilihat) dan lain-lain (entar kita bahas di  “Tabu-Tabu Karuhun Balaraja”).

Ajaran Tetabuan yang didogmakan para karuhun ini sekarang sudah banyak disebodoin, alasannya KOLOT atawa KUNO. Apriori lainnya, menciptakan anak kurang berani, mengajari anak berbohong, mencla-mencle, dan watak negasi lainnya.

Kebaikan ajaran tetabuan ini, ternyata ampuh di zamannya. Sebagai pedoman otomatis tatagaul laki-perempuan dalam membentengi freesex, samen lapen, apalagi sex party. Locals wisdom, ternyata memberi banyak manfaat bagi laku lampah zaman kiwari.***(AR)

“Kesaktian” dan Perdukunan di Balaraja (Cerita Kenangan)

Cerita ini sepenuhnya pengalaman pribadi penulis. Tidak untuk promosi, provokasi, apalagi imitiasi (sebab saya tak percaya dukun, dan tak ingin jadi dukun). Dukun yang saya suka adalah: Dedi Dhukun, atau Alam, yang melantunkan Mbah Dukun…

Belum lama ini, keponakan saya, Kiki, tertusuk paku. Ke dokter? Tidak. Ia pergi ke seorang perempuan sepuh. Berobat. Dibuatkan ramuan macam-macam (tetapi paling dominan, bahannya terdiri dari terasi, garam, cabai). Bahan-bahan itu diulek sampai halus. Lalu dibalur ke bagian yang terluka. Disertai dengan jompa-jampi, tentu saja. Dan… Alhamdulillah, atas izin Allah, keponakan saya sembuh. Tak lagi meringis. Suhu tubuhnya yang sebelumnya panas, sontak turun.

Itu petikan contoh kecil. Tapi bukan karangan, melainkan faktual. Sungguh, saya pun dulu melakukan hal yang sama —jika tercucuk paku atau benda tajam lain di bagian telapak kaki, seperti oleh duri, pecahan kaca, atau serpihan kayu dan bambu. Kami tidak ke dokter. Untuk kasus saya dulu, memang dalam rangka menghemat uang. Tahulah, ke dokter pasti lebih mahal tinimbang sekedar uang terima kasih ke dukun desa.

Singkat kata, masih ada praktek perdukunan di Balaraja bahkan hingga detik ini

Tetapi buang jauh-jauh bayangan bahwa “perdukunan” itu melulu gaib, mistis, ada jin ada siluman, dan ada asap mengepul dari dupa kemenyan. Sebab sejatinya, praktek perdukunan juga bermacam-macam.

Ada dukun pengobatan (mengobati orang yang tertusuk paku, mengobati orang yang dipatuk ular, mengobati orang kesurupan, dll). Ada juga dukun pawang tadah hujan —yang ini biasanya disewa orang yang mau hajatan, agat tetamu tidak menjingjing payung lantaran diguyur air dari langit). Terus, ada pula dukun urut, memijat badan pegel atau meluruskan tulang patah. Kelompok ini, adalah praktek perdukunan yang relatif wajar… Kagak pake kemenyan.

Nah, berikut kategori dukun yang “di luar normal”, alias paranormal

Pertama, dukun ramal. Ramal nasib. Ramal kode buntut. Ramal pemenang Sepakbola. Ramal hari peruntungan, dan pelbagai ramalan lain. Di Balaraja, jika dijejer, jumlah dukun ramal bisa mencapai panjang ratusan meter (saking banyak). Dulu, “obyekan” mereka terbatas saja. Misalnya seorang Bapak yang konsultasi tentang nama terbaik untuk anak mereka, hari bagus untuk pesta nikah, atau sekedar mau memulai panen. Kini, “pasien” dukun ramal tambah banyak. Sebab, dikit-dikit orang minta “diterawang” untuk berbagai soal. Mulai dari terawangan bisnis, jual beli tanah, sampai ke perkara Liga Spanyol, Liga Champions, dan siapa juara Eropa?

Ada satu istilah dari dunia dukun ramal ini, yaitu naptu, yang maksudnya metode penghitungan hari, tanda-tanda khusus, nama, dan sebagainya, yang dikaitkan dengan permintaan ramalan tertentu. Istilah lain yang lekat dengan ramalan adalah naga. Ya, naga. Maksudnya, jika naga menghadap ke selatan (versi tukang ramal), maka hasilnya akan menjadi a, b,c, dan d. Begitulah…

Kedua, dukun pelet. Tak perlu dijelaskan, Anda semua mahfum. Terutama bagi mereka yang bernasib apes —kenyang ditolak perempuan. Di Balaraja, tenar sejumlah ajaran pelet. Ada pelet Semar Mesem (dari sebilah keris kecil, yang dibagian gagangnya berbentuk kepala semar tersenyum). Pelet lainnya yang populer adalah berbentuk wapak (sejenis ajimat, dari kain putih, digulung, untuk membungkus benda tertentu, bisa bacaan mantera, bisa juga batu akik). Dulu, hampir semua kawan sepergaulan saya mengaku pernah berurusan dengan dukun pelet. Kalau saya… he..he.. belum. Dukun pelet disebut juga dukun pengasihan.

Ketiga dukun, ya, cuma dukun. Atau kita sebut saja dukun sakti mandraguna. Mereka adalah sejenis dukun yang serba bisa. Diminta tolong ngusir kuntilanak, bisa. Disuruh memanggil arwah, bisa. Apalagi kalau cuma urusan menyembuhkan orang kesurupan dan setengah gila, pasti bisa. Konon, dukun sakti mandraguna ini pun hebat pula dalam urusan mendatangkan rezeki dan kekayaan (anehnya, si dukun sendiri, belum tentu kaya).

Keempat, dukun palsu. Jenis ini, sumpah, buanyak bangeeet. Jangan-jangan salah satu dari pembaca adalah dukun palsu juga.

Kelima, dukun politik. Terus terang, kategori yang terakhir ini sesungguhnya sudah lama ada, namun melesat bak meteor belum lama ini. Persis di zaman demokrasi Pilkada. Mereka yang beruntung dipercaya menjadi dukun politik, bisa dipastikan hidupnya berubah. Tidak lagi pegang tasbih atau zimat, tapi Blackberry atau Gadget canggih. Pasien yang datang bukan kakek jompo yang bernafas senin kamis, tetapi orang-orang kaya yang ikutan Pilkada.

Pergantian Istilah Dukun

Namun saat ini terjadi perkembangan yang entah harus disebut positif atau negatif. Ada proses peyorasi, penghalusan kata (seperti proses penghalusan istilah kelaparan yang diganti kata kekurangan pangan). Kini ramai-ramai orang menyebut para dukun sebagai pengamal hikmah. Ilmu perdukunan diganti menjadi ilmu hikmah. Orang yang merapal jampi-jampi, entah dengan wiridan atau dengan tidur di kuburan, disebut memiliki hikmah. Dan kerapkalai sebutan itu tak ada sangkut pautnya dengan makna hikmah dalam kaidah ke-Islam-an. Dalam Islam, hikmah adalah kebijaksanaan. Hikmah adalah olah pikir dan kedalaman dalam tafakur (setelah merenungkan fenomena tertentu). Hikmah adalah saripati ilmu.

 

 

Kamus “Lieur” Sunda Balaraja

Berikut ini beberapa lema (kata, istilah) yang populer dalam bahasa ujaran dan komunikasi sehari-hari di Balaraja dan sekitarnya, medio 80-90-an. Beberapa diantaranya sudah menghilang, makanya dihidupkan kembali.

Dulu, persawahan hijau seperti ini bertebaran di Balaraja. Kini? Tak ada lagi…

 

Pungkal: adalah sejenis gundukan tanah yang biasanya ada di pinggiran sawah, dan hanya ada di musim kemarau.

Ceumpal: maksudnya melempar sampai jauh.

Hinis: artinya adalah sembilu (potongan tipis pada kulit bambu,yang dibuat untuk menyayat sesuatu).

Salang: tempat untuk menyimpan lauk-pauk, dengan cara digantung, untuk menghindari jangkauan kucing.

Godag: tempat menyimpan gabah yang dibuat dari bambu (dianyam), tetapi dengan ukuran super besar (berfungsi sebagai lumbung padi).

Hampo: sejenis batuan cadas yang terdapat di pinggir kali, lalu dibakar, dipanggang, dengan aroma wangi (bagi orang tua zaman dulu), dan dimakan.

Berikutnya kami lanjutkan, mudah-mudahan masih bisa ingat…

….

….

Daftar Mainan Tradisional di Balaraja (era 80-an)

Memori Tempo Doeloe, saat libur panjang sekolah.

Mainan Anak Anak Tradisional

Membuat mainan tradisional ala anak kampung, benar-benar mengasyikan. Di sini, kreativitas, imajinasi, dan keterampilan benar-benar menentukan. Semua bahan mainan tersedia di alam. Kagak pake beli… (ada memang yang dibeli, seperti kertas, gundu, atau karet gelang, tapi murah banget).

  1. Main Petak Umpet (satu orang  jadi “kucing”, yang lain berhamburan bersembunyi di segala tempat). Permainan ini paling asyik dimainkan bersama ketika malam Bulan Puasa.
  2. Main Baledeg! Atau galasin… Caranya, membuat kotak bergaris di tanah (dengan menciptakan ruang-ruang seperti kamar). Ini juga permainan komunal (bersama-sama), dan dibuat dua tim yang bersaing.
  3. Main Congklak, yang dibuat dengan cara melubangi tanah, dan menggunakan  batu kerikil. Nah, percaya, kan? Tak ada yang beli. Gratis melulu…
  4. Main Babedilan, atau pistol-pistolan, yang terbuat dari bambu, dipotong, lalu dibuat pasak untuk mendorong peluru, dan untuk menghasilkan efek gema, maka diujung lubang depan, dilapis dengan pecahan botol. Pong..Pong..Pong.. Begitu bunyinya. Untuk peluru, cukup pergi ke kebon, petik buah Darohak atau Kihuru (maaf, dua nama buah itu tak ada padanannya dalam Bahasa Indonesia).
  5. Main mobil-mobilan. Dibuat dari bambu, berbentuk rangka mobil. Lalu untuk ban atau roda, cukup mencuri sendal bekas di Mushola (he..he..he..). Sandal lalu dikikis melingkar membentuk roda. Jadilah… (Tak pernah membayangkan ada mainan remote control seperti anak-anak sekarang ini).
  6. Main Gatrik. Dengan cara memukul-mukul potongan kayu ke udara, lalu ditepis hingga melambung jauh. Siapa yang sanggup memukul hingga titik paling jauh, maka dialah yang jadi pemenang. Gatrik dalam bahasa Indonesia adalah Gatrok! He..he.. bo’ong, saya tak tahu apakah orang Jakarta mengenal Gatrik…
  7. Main Layangan. Nah, ini paling asyik. Bikin rangka sendiri dari bilah bambu, yang dihaluskan, dibentuk sesuai keinginan. Lalu cari kertas, atau kalau perlu beli di warung. Jenis-jenis layangan sangat beragam. Ada layangan Bulan Satanggal (yang ekornya panjang minta ampun), ada layangan Gagentongan, Papangantenan, Papalisiran, Papetek, Jajalemaan, jeung sajabana. (Wah, maaf, yang ditulis miring itu sama sekali tak ada padanannya dalam Bahasa Indonesia).Hari ini, layangan memang masih jadi favorit. Tapi semuanya kudu beli. Benang gelasan beli… Benang biasa juga beli. Kertas beli.. Eh, layangannya pun beli juga. Kalau dulu, benang gelasan untuk adu kuat (untuk memutuskan benang layangan lawan) tak perlu beli. Cukup dengan menumbuk pecahan gelas atau botol sampai halus, lalu direkat dengan lem yang dididihkan di kompor (atau tungku bakar).
  8. Main Sepeda. Mainan satu ini benar-benar membuat lupa waktu. Dulu, waktu kecil, saya bahkan sanggup mengayuh sepeda bersama kawan-kawan dari Desa Parahu, Kecamatan Balaraja, sampai ke Pulau Cangkir, di Kecamatan Keronjo. Main Sepeda juga sangat menarik dilakukan di Bulan Puasa, sambil nyanyorean atau ngabuburit. Namun jujur saja, khusus untuk main sepeda, tak ada anak-anak yang sanggup bikin sendiri, yang satu ini harus beli (tapi cukup murah, tak seperti sepeda zaman sekarang).
  9. Main Tenda-Tendaan atau Camping. Tak perlu seragam Pramuka atau atribut Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam), untuk beramin tenda-tendaan ini. Karena tinggal pilih lokasi, bisa di tengah  sawah, di pinggir hutan, di dalam kebun, atau malah di pinggir rumah. Lalu pancang dan pasang tenda sederhana, dari tiang bambu, dan untuk atap serta bagian atas, memakai kertas karton, koran atau kain punya Ibu…
  10. Main Jajangkuran atau Engrang. Mainan yang satu ini butuh nyali, sebab memungkinkan anak-anak terpeleset jatuh. Jajangkuran atau Engrang adalah alat mainan dibuat dari bambu. Potongan bambu seperti tongkat, lalu dibagian agak bawah, dibuat pasak untuk meletakkan kaki (seperti alat untuk berpijak). Dan butuh teknik khusus agar bisa berjalan dengan tiang bambu itu…
  11. Main Wayang Golek. Waktu itu, tahun 80-an, jagat Balaraja dan sekitarnya sangat gandrung dengan Wayang Golek. Dalang paling beken, dikenal via Radio dan Kaset, adalah Cecep, Utju Sita, Suwanda, dan entah siapa lagi (lupaJ). Mainan Wayang Golek dibuat dari potongan dahan dan daun pisang, dibentuk menyerupai kepala golek. Atau kalau ada kertas tebal, digunting membentuk tubuh wayang.
  12. Main Sandal Bakiak. Waktu itu, sandal favorit dan dianggap bergengsi adalah Sandal Plastik Merek Lily. Sandal itu bukan main awet, pasti bukan dari bahan plastik limbah. Tapi ada juga sandal bakiak, yang terbuat dari kayu, dan bisa dipakai bermain. Kletok, kletok, kletok…
  13. Main Bakar-Bakaran atau Babeleuman. Maksudnya adalah membakar kayu, sampah, di kandang kerbau atau di tempat terbuka lain. Lalu, setelah api padam dan tersisa abu arang, maka mulailah beraksi. Dengan membuat pais kejo (nasi dibungkus daun pisang), dan dimasukan ke dalam sisa-sisa bakaran api. Kalau tidak begitu, bisa juga dengan memasukkan singkong dan ubi. Semua makanan itu, diangkat atau diambil setelah dianggap matang. Rasanya? Tak tahulah…

//

Daftar Hiburan Era 80-an di Tangerang Barat

Daftar Mainan (dan Hiburan) Moderen di Tangerang Barat

(Berlaku di Balaraja dan Sekitarnya, Era Tahun 80-an)

 

Tahun 80-an, bukan berarti kuno atau Jadul sekali. Karena saat itu, dunia sudah mengenal teknologi moderen. Hanya belum terdigitalisasi seperti saat ini. Bahkan, beberapa cikal bakal teknologi moderen sudah dikenal. Misalnya televisi, film, video, Tetris, Gamewatch, atau bahkan komputer (untuk komputer, saya pribadi mengenalnya di awal tahun 90-an, masih sangat kuno, pakai disket, dan kemampuan komputer saat itu hanya untuk mengolah data).

Berikut Daftar Mainan Anak-Anak Tahun 80-an, yang bernuansa moderen, di Balaraja dan sekitarnya:

Tetris atau Gamewatch. Nama Tetris memang belum dikenal, tetapi display dan bentuk permainannya sudah ada. Gamewatch saat itu hanya titik-titik gambar  bergerak, dengan suara berisik, dan “diinstal” di dalam kotak persegi, dengan layar yang sempit.

Video. Tahun 80-an itu, di kampung saya, di Desa Parahu, Kecamatan Balaraja, hanya ada dua orang yang punya piranti video, yaitu Almarhum Haji Astadjaja, beliau adalah Mantri Kesehatan yang buka praktek dan klinik di Desa Parahu (dulu namanya terkenal sekali). Satu lagi adalah Haji Dedi (mantan Kepala Desa Pasir Gadung, dan mantan Anggota DPRD Kabupaten Tangerang, Fraksi Golkar, dulu beliau sering datang ke Desa Parahu, karena isterinya berasal dari situ).

Tapi ingat, file film tersimpan dalam pita seluloid, dalam kotak persegi seperti Batu Bata, kalau tak salah merk video cassete-nya adalah Betamax… Sudah begitu, kualitas gambarnya juga buram berbintik-bintik, dengan suara kresek-kresek. Yang saya ingat, untuk menonton video,harus antri dan duduk berjejer, karena orang berjubel ingin ikut menonton.

Radio. Program Radio Favorit era 80-an, kalau tidak musik Jaipong, musik dangdut, musik pop, maka pastilah bernama: Dongeng Berbahasa Sunda dan Sandiwara Saur Sepuh…

Khusus tentang Dongeng Radio, yang menjadi favorit adalah Abah Selud, Aki Balangantrang, Abah Mangku, dan … (lupa). Judul-judul dongeng dan tokohnya yang terkenal, misalnya, Si Kulub, Si Rawing, Martini Tanding Werjit, Liontin Emas, Harendong, dan entah apalagi. Sementara untuk Sandiwara Radio, yang meledak dan benar-benar ditunggu adalah: Saur Sepuh, Tutur Tinular, dan Nenek Lampir…

Ukuran Radio waktu itu memakai istilah band (dibaca ban, bukan ben). Bentujk radio selalu kotak persegi. Paling kecil adalah ukuran 2 band, paling besar 6 band (itupun yang saya tahu). Belum ada stereo set, minicompo, atau Radio Digital seperti sekarang. Malah, di beberapa tempat, misalnya di warung-warung tempat nongkrong, Radio menggunakan cashing kayu tripleks, dan gelombangnya dipatri hanya di satu saluran, alias tak bisa diputar ada digerakkan ke channel yang lain…

Oh, iya. Energi untuk menyalakan Radio di waktu itu adalah dengan memakai batu baterei, ukuran kecil, sedang dan besar. Merek Batu Baterei yang terkenal bagus saat itu adalah National, ABC, dan Eveready.

Televisi. Hanya ada satu saluran, yaitu TVRI (Televisi Republik Indonesia). Gambar televisi pun hanya hitam dan putih (atau degradasi dari dua warna itu, kalau melah tampak coklat, kalau kuning tampak abu-abu). Tak ada suara bass atau treblle. Agar terlihat berwarna, biasanya dilapisi dengan plastik warna-warni, bagian atas merah, tengah biru, dan bawah kuning…

Bentuk Televisi selalu kotak, dengan layar cembung ke depan, dan bagian belakang menggelembung. Televisi biasanya diletakkan di kotak lemari khusus, dan memakai kaki. Televisi bisa dinyalakan normal, kalau cadangan energi dari Accu (Aki) masih penuh. Kalau Accu (Aki) kosong, maka gambar akan tampak bergoyang-goyang, dan ada lipatan hitam di pinggir kanan, kiri, atas, dan bawah, lalu… pyet, gambar hilang sama sekali. Waktu itu, di Desa Saya, di Parahu, Balaraja, belum ada listrik…

Acara favorit saat itu, menurut saya, adalah Selekta Pop (hiburan musik Pop, setiap malam minggu, kalau tak salah per dua minggu). Kemudian Aneka Ria Safari (hiburan campuran, musik Pop dan musik Dangdut, yang dikelola oleh Almarhum Eddy Sud). Lalu, Film Boneka Si Unyil. Berikutnya: Film Akhir Pekan…

Begitu memasuki era 90-an, muncul RCTI dan SCTV. Televisi pun sudah banyak yang berwarna. Nah, acara-acara favorit saat itu mulai bermunculan. Seperti film-filem serial yang tayang tiap malam. Saya pribadi, sangat mengidolakan sejumlah film seri, seperti:

–          MacGyver

–         Air Wolf

–         Knight Rider

–          Miami Vice

–         Satria Baja Hitam

–           My Secret Identity

–          The Real American Hero

–           Beverly Hils 90210 dan 21 Jump Street

Bioskop, Gedung Film. Jangan membayangkan bioskop waktu itu menggunakan AC (pendingin ruang, Air Conditioner). Kursi untuk duduk pun dari kayu, terkadang sudah banyak digerogoti rayap. Layarnya hanya satu, sangat lebar, dan warnanya nyaris kusam. Suara yang keluar juga hanya dari speaker TOA, atau Salon Besar, bising tak karuan. Seingat saya, di Tangerang Barat, Bioskop hanya ada di Cisoka dan Ceplak (nama Bioskopnya adalah Ceplak Permai). Pernah juga ada bioskop di Balaraja, tapi umurnya tak lama.

 

Yang menarik dari Bioskop atau Gedung Film tempo doeloe, adalah tiap sore ada promosi dari mobil yang keliling kampung, membagi-bagikan kertas bergambar film yang akan tayang, serta pembicara berteriak-teriak dari speaker, tentang kehebatan film yang akan diputar. Judul dan artis film yang merajai bioskop era 80-an adalah: Jaka Sembung, Si Hantu dari Goa Buta (eh, salah, Si Buta dari Goa Hantu), dengan aktor: Barry Prima dan Advent Bangun. Kalau artis perempuan, diantaranya adalah: Eva Arnaz, Enny Beatrix, dan Suzzana.

Film Layar Tancap. Ini hiburan murah meriah. Ditayang malam hari. Biasanya untuk merayakan pesta pernikahan atau khitan. Yang unik dari Film Layar Tancap era 80-an, adalah penonton datang berjejal-jejal. Tak sedikit dari mereka yang datang membawa tikar, bantal dan selimut (nonton, atau tidur?). Layar tancap dikenal juga dengan Misbar, alias kalau gerimis langsung bubar. Para pedagang pun berbaris di pinggir jalan. Selain jajanan Bakso, ada juga oleh-oleh: seperti leupeut, bacang, lalemper, dan kacang rebus (atau kacang garing).

Wayang Golek, Jaipongan. Topeng (Sandiwara Panggung, atau sejenis Ketoprak). Wayang Golek, tak perlu diceritakan, semuanya sudah tahu, dan sampai sekarang masih bertahan. Begitu pula Jaipongan.

Yang menarik adalah justru Topeng, yang di Betawi disebut Lenong, di Jawa Ludruk, dan di Jawa Timur adalah Ketoprak. Semuanya adalah panggung komedi para pelawak tradisional, yang mengocok perut penonton dengan bahasa-bahasa lelucon, goyangan lucu, dan gabungan musik serta cerita sandiwara. Di Balaraja dan sekitarnya, Grup Topeng ternama adalah Topeng Tolay, Topeng Gentong, Topeng Centong, dan ada beberapa lagi. Kini, hiburan topeng mulai naik daun lagi (mungkin orang bosan dengan jenis hiburan yang lain).