Uniknya Pemilihan Kades (di Balaraja) Zaman Kuno….

Pilkades Era Kumpeni

Menurut Ong Hok Ham, dalam buku Wahyu Yang Hilang, Negeri Yang Guncang, diterbitkan Majalah Tempo, 2003, di zaman kolonial Pilkades dilakukan benar-benar murni, dan mencirikan demokrasi yang utuh.

pilkades

Gambarannya adalah: para calon kepala desa di beri kursi di ujung lapangan, mereka duduk berdampingan. Lantas di hadapan para calon itu, dipasang garis memanjang, untuk membentuk antrean para pemilih secara rapi. Jika misalnya ada lima calon, maka akan ada lima baris antrian yang berjejer rapi, dari bagian depan hingga mengular ke belakang. Baca lebih lanjut

Iklan

Mengenang Sebuah Zaman Tanpa (Lampu) Listrik

Artikel ini adalah kenangan di Balaraja, pada era 80-an…

Listrik

Mengenang Zaman Tanpa (Lampu) Listrik

—Balaraja Era 80-an—

Masih lekat dalam batok kepala. Ketika Ketua Umum Golkar (saat itu, Tahun 1987), yang bernama Soedharmono (beliau kemudian menjadi Wapres, mendampingi Pak Harto), meresmikan pemakaian Tenaga Listrik PLN untuk daerah Balaraja dan sekitarnya. Lokasi peresmian adalah di Kampung Pekong, Desa Saga, Kecamatan Balaraja. Tepat di sebuah lapangan besar, yang biasa digunakan untuk pertandingan Sepakbola. Baca lebih lanjut

Dua Pahlawan Wanita yang “Bersentuhan” Dengan Balaraja

Artikel Dari Supi El Bala:

Ilustrasi Pahlawan Perempuan

Pascaperang Banten VS Kompeni, tidak begitu saja usai. Kompeni ternyata tidak mulus menguasai Banten dengan tenang. Perlawanan-perlawanan tak begitu saja mereda. Kompeni Belanda harus siaga dan waspada menghadapi milisi yang dimotori Ulama dan Jawara (pendekar).

Dari Ujung Kulon hingga Tangerang Kompeni terus menghadapi perang parsial. Banyak kisah mengenai sempalan perang Banten yang belum terungkap. Selaksana kedigjayaan si Pitung yang menjadi Zoro Betawi. Tentu saja ini menjadi legenda lisan yang jika tak dituturkan via tulisan media, begitu saja terkubur dalam benak wajah generasi mudanya.

Sebut saja, Syech Yusuf, Pangeran Purbaya, Pangeran Kidul di Tangerang, Kiyai Zakariya Ujung Kulon, Ki Asnawi Caringin, generasi berikutnya Nyimas Gamparan Hingga Nyimas Malati yang wilayah teritorial perjuangannya di Tangerang dan sebagian Serang. Dua pejuang wanita Banten ini jarang disebutkan dalam buku matapelajaran sejarah nasional maupun lokal.

Balaraja, catatan lisan menyebutkan bahwa pasukan darat Sultan Ageng Tirtaya ketika hendak menyerang Batavia. Salah satu markas amunisi dan dan dapur umumnya dipasok dari Balaraja.

Sebagai daerah transit, tentu saja banyak meninggalkan catatan sejarah yang tak bisa begitu saja lekang. Termasuk kepahlawanan dua singa wanita ini.

Nyimas Gamparan dan Milisi Srikandi

Pasca perang Banten dan gerilyanya Sultan Ageng Tirtayasa di daerah hutan pinggiran Bogor, Sajera (1683) hingga tertipu oleh utusan keluarga keraton Surosowan atas permintaan anaknya, Sultan Haji. Sekenario selanjutnya, ditangkap dan meninggal dalam penjara Kompeni Belanda, Benteng Batavia (1692). Perjuangan menghadapi penjajah di Bumi Banten tidak begitu saja pupus. Diantaranya, perang dengan milisi pimpinan Nyimas Gumparo (1829-1830).

Nyimas Gumparo alias Nyimas Gamparan bersama 30 milisi wanita dan saudara-saudaranya menyerang kompeni belanda yang waktu itu sedang gencar-gencarnya melaksanakan program Cultuurstelsel (1830) dengan membangun jalan Anyer-Panarukan. Perang Cikande, Rangkas, Serang hingga ke Pandeglang pun tak terelakan. Serangan-serangan dilakukan Nyimas Gamparan beserta pasukannya. Korban dari kedua belah pihak pun tak terelakan.

Pasukan Srikandi ini bermarkas di Balaraja. Tempat singgah para raja (Asal Kata Balai Raja) atau ada yang menyebutkan tempat berkumpulnya BALA tentara RAJA. Serangan sporadis pasukan Nyimas Gamparan ternyata membuat repot kaum penjajah. Disebutkan Kompeni Belanda pada waktu itu telah banyak mengalami kerugian dan kebangkrutan.

Pasukan Nyimas Gamparan tidak mudah ditumpas oleh pasukan Kompeni Belanda. Kenyataannya, pasukan wanita ini mampu bertahan menghadapi serangan pasukan pengalaman perang. Adapun keunggulannya antara lain: Pertama, Pasukan wanita ini tangguh di medan perang (salah satu kaol menyebutkan sakti-sakti mandraguna). Yang kedua, pasukan Nyimas Gamparan menguasai medan perang gerilya di teritorialnya.

Ada satu daerah yang menjadi persembunyian orang-orang Balaraja ketika zaman ngeli (hijrah) yakni di Desa Kubang Kec. Sukamulya (Pemekaran Kec. Balaraja). Banyak diyakini oleh orang Balaraja bahwa jika ngeli ke daerah tersebut susah dilacak oleh tentara penjajah.

Diperkirakan tempat penyumputan (persembunyian) Nyimas Gamparan di daerah tersebut. Sebab daerah ini letaknya berada jauh di pedalaman.

Kalau kita bentangkan garis lurus, Kubang wilayahnya cukup jauh dari proyek Jalan Anyer-Panarukan juga diapit antara Sungai Cidurian dan Cimanceuri. Sehingga transportasi penyerangan bisa dilakukan dari berbagai arah. Selanjutnya, dulu masih banyak peninggalan patung pejuang dan makam tua yang mengarah pada pejuang Banten.

Selain itu, akses dari jalan Anyer-Panarukan (kota Balaraja) menuju Kubang harus melewati hutan lebat (yang sekarang menjadi Kampung Leuweung Gede). Disebelah hutan itulah didirikan barak pasukan yang belakangan disebut Pondok Gede atau rumah besar.

Lagi-lagi, Belanda melancarkan devide et impera. Raden Tumenggung Kartanata Nagara yang menjadi Demang di Jasinga, Bogor (1829) diminta bantuan untuk menumpas milisi Srikandi ini. Dengan iming-iming dijadikan penguasa di daerah Rangkasbitung.

Pasukan Ki Demang inilah yang kemudian diadu dengan Pasukan Nyimas Gamparan. Akibat perang yang berkepanjangan pasukan Nyimas Gamparan yang bergerak dari Balaraja-Cikande menuju Rangkasbitung dapat diperlaya saat perang Pamarayan oleh pasukan Kartanata Nagara. Nyimas Gamparan pun disemayamkan di daerah Pamarayan, Serang-Banten.

Atas perannya tersebut Ki Demang mendapat anugerah dari Kompeni sebagai Bupati Rangkasbitung pertama (1830-1865) dengan gelar Raden Tumenggung Adipati Kartanata Nagara menggantikan penguasa sebelumnya Pangeran Sanjaya. Dari kejadian ini perjuangan pun tak lantas pudar. Perang terus berkobar di bagian lain Bumi Banten atas belenggu penjajah.

Nyimas Melati Putri Sejati                                       

Alkisah tahun 1918, sebagian besar Tangerang telah dikuasai oleh tuan tanah. Sangat sedikit sekali kaum pribumi memiliki tanah pribadi. Sebutan tanah dalam tanam paksa disebut tanah partikelir.

Partikelir antara tahun 1921-1930 di Distrik Blaradja, seperti Blaradja en Boeniajoe, Tigaraksa, Tjikoeja, Karangserang dalem of Kemiri, Pasilian, Djenggati, Tjakoeng of Kresek. Adapun di Distrik Tangerang, diantaranya tjikokol tg., Panunggangan, Pondok Djagoeng, Paroengkoeda, Batoe Tjeper, Tanah Kodja, dll sedangkan di Distrik Maoek antara lain: Kramat en Pakoeadji, Sepatan, Teloeknaga, Ketapang Maoek, Rawakidang, Kampoeng Malajoe, Pekadjangan, Tegalangoes, Bodjong Renget, Ketos dll. Hampir semua tanah dikuasai Tuan Tanah.

Saat sekelompok tuan tanah mendapat dukungan dari kompeni kehidupan Masyarakat Tangerang dikuasai menyebabkan masyarakat melarat akan pemaksaan, pemerasan, dan tekanan atas tanahnya. Salah satu perjuangan milisi yang terkenal adalah Milisi Raden Kabal.

Milisi Kabal sering mengadakan penghadangan di daerah-daerah Tangerang. Dalam pertempuran melawan Kompeni Belanda Sang Raden dibantu putrinya, Nyimas Melati dan Pangeran Pabuaran Subang.

Salah satu pertempuran yang tertulis pertempuran Pabuaran Subang yang dijadikan tempat gugurnya Pangerang Pabuaran dari Subang saat perang dengan Kompeni.

Keberanian Nyimas Melati terkenal akan ketangguhannya dalam ilmu bela diri maupun olah kanuragan.

Konon, kesaktiannya menjadi tuturan para orang tua tempo doeloe. Saat bentrok pasukan terjadi di daerah perbatasan Balaraja. Sambil mengacungkan centong (baca: keris) berteriak lantang “Serang…!” pasukan Kompeni yang dibantu Cina pro Kompeni langsung ciut nyalinya. Suaranya, yang menggelegar meluluhlantakan semangat pasukan lawan. Bahkan diceritakan burung-burung yang mendengar teriakannya beterbangan karena gaungannya.

Nyimas Melati laksana Singa Betina ketika menyerang musuh-musuhnya kebenaranianya tercatat dalam benak para orang tua dahulu. Sehingga untuk mengubur jejak kepahlawanannya Nyimas Melati akhirnya dimakamkan dibanyak tempat, diantaranya di Desa Bunar Kec. Sukamulya (pemekaran Balaraja), TANGERANG BARAT

Gedoran China di Balaraja (Sebuah Memori Kelam)

Meski lapat nan samar, pecahan kisah tentang China di Balaraja cukup sering terdengar. Pelbagai sumber kerap membuka informasi dengan aneka versi. Terkhusus pada cerita-cerita menyeramkan. Tentang pembunuhan sadis. Penumpasan tanpa perikemanusiaan. Perebutan dan perampasan harta. Serta (maaf) pemerkosaan perempuan China dan penyunatan paksa pria China di seantero Balaraja dan sekitarnya.

Baca lebih lanjut

Campur Mokla, Budaya Balaraja

Main dengan lawan jenis, “Campur Mokla” larang Karuhun Balaraja

 

Gaya anak muda saat ini sudah luar biasa dasyatnya. Lihat saja cara mereka berpakaian, berdandan dan berkendaraan. Gaya zet set seleb Tv menjadi mind set mereka. Tak ketinggalan anak muda Balaraja.

Sebagai mengingat saja. Gaya pergaulan anak muda-mudi tempoe doeloe. Karuhun Balaraja memberi pepatah dan pepitih yang hampir dilupakan generasi kini. “Campur Mokla…!”

Mokla itu darah jadi “Campur Mokla” berarti campur darah. Silokanya, pergaulan laki-laki dan perempuan yang tanpa batas menyebabkan bersatunya darah anak laki-laki dengan perempuan. Mengenai jabaran darah kagak perlu dibahas kalie….

Sangat tidak diperbolehkan anak laki main dengan anak perempuan, katanya: “Jangan nanti campur mokla…!” Dalam benak anak-anak (kami) waktu itu jika main dengan anak perempuan selalu dibayangi monster “Campur Mokla…”

Pembelajaran  tidak langsung orang tua memberikan implisitas bahwa pekerjaan ini, TABU…! Laiknya, Jangan berdiri di tengah pintu, jauh jodoh (padahal: menghalangi jalan). Jangan duduk di atas  meja, banyak hutang (padahal: tak elok dilihat) dan lain-lain (entar kita bahas di  “Tabu-Tabu Karuhun Balaraja”).

Ajaran Tetabuan yang didogmakan para karuhun ini sekarang sudah banyak disebodoin, alasannya KOLOT atawa KUNO. Apriori lainnya, menciptakan anak kurang berani, mengajari anak berbohong, mencla-mencle, dan watak negasi lainnya.

Kebaikan ajaran tetabuan ini, ternyata ampuh di zamannya. Sebagai pedoman otomatis tatagaul laki-perempuan dalam membentengi freesex, samen lapen, apalagi sex party. Locals wisdom, ternyata memberi banyak manfaat bagi laku lampah zaman kiwari.***(AR)

“Gaya Hidup” Orang Kaya di Balaraja Zaman Baheula…

Tulisan kenangan era 70, 80, dan 90-an…

Setrika “Burung” Tempoe Doeloe

Ukuran kekayaan zaman bareto tak jauh dari ini: punya kerbau banyak, rumah banyak, tanah atau sawah banyak, dan sekaligus… bini banyak! Di zaman kumpeni itu, orang kaya tak pernah mau ribet (terutama di sekitar Balaraja dan sekitarnya).

Jangan harap mereka tertarik beli TV, kulkas, mesin cuci, AC pendingin, gadget, dan HP Blackberry. Karena memang belum ada… Lagipula, mengingat “tarap pendidikan” orang dulu masih pas-pasan, bisa-bisa seluruh peralatan canggih itu jadi salah fungsi. HP Blackberry dipakai ganjal pintu, Kulkas untuk menaruh pakaian yang sudah disetrika…

Bagaimana dengan mobil? Setahu saya, mobil masih jaraaaaaannnggg banget (mobil di kenal akhir 70-an saja, dan hanya orang tertentu yang punya). Cukuplah dengan sado, delman, bendi, dokar, atau apalah sebutannya. Sebuah kendaraan khas, ditarik kuda (ditarik janda muda juga boleh, asal siap ngos-ngosan).

Orang-orang kaya tempo doeloe punya hobi yang biasa-biasa saja. Ke sawah. Ngopi. Plus udud (rokok). Ke Mushola, dan… tidur. Kalaupun ada yang bengal, paling-paling juga nyabung ayam, pasang dadu (judi koprok), dan celingak-celinguk nyari tetangga seksi (dulu tak ada istilah cewek seksi, yang ada adalah “mojang parigel”).

Dari Mana Asal Kekayaan Mereka?

Sumber-sumber kekayaan orang-orang Balaraja Zaman duluuuu banget itu tak rumit-rumit amat. Maklumlah, waktu itu belum ada orang Balaraja yang main valas, tanam duit di Bursa Efek, atau kaya mendadak karena jadi Anggota DPR.

Harap percaya: saat itu juga belum ada orang Balaraja yang punya duit segunung karena “jago main limbah”. Artinya, usaha mereka untuk mencari kekayaan benar-benar murni. Mungkin, satu dua ada yang mencari kekayaan dengan jalan gelap: misalnya pergi ke Gunung Kawi, mencuri, atau niup lilin sampai pagi (seperti di film atau sinetron tuyul).

Yang jelas, usaha untuk jadi kaya berbekal pada kekuatan, keberanian, dan tentu saja izin Tuhan (sekuat apapun mereka berusaha, kalau Allah tak berkehendak, ya, teuteup aja cuma segitu…).

Tak heran, hanya orang-orang jago dan berpengaruh yang bisa kaya. Seperti: Jawara, Kyai, Centeng, Lurah, dan Pedagang. Tak seperti saat ini, bisa kaya karena korupsi…

 

Bagaimana Menghabiskan Uang?

Cara cepat menghabiskan uang apalagi kalau bukan dibakar atau dikubur? Tapi, tak ada cerita tentang orang kaya sinting yang melakukan hal itu di Balaraja Tempo Doeloe. Berhubung waktu itu belum ada Mall, belum ada Karaoke dan Tempat Dugem, tentu mereka cari cara sendiri untuk berpoya-poya. Paling jelas tentu memelihara Sinden (penyanyi, penari di pertunjukan Jaipong). Artis dangdut belum ada, jadi belum ada saweran di panggung dangdutan.

Kalau tak hobi yang begituan, paling-paling kawin lagi, kawin lari, dan kawin siri (eh, istilah kawin siri baru dikenal sekarang, ding). Tapi menurut cerita, memang cara paling cepat menguras kekayaan orang-orang tajir di masa itu adalah berjudi. Judi sabung ayam, judi koprok (dadu), judi kartu, dan judi bola pun sudah ada.

Atau, ada lagi cara lain yang bisa menyedut pundi-pundi duit orang-orang kaya tempoe doeloe. Cara ini agak lambat, tapi sering terjadi. Konon, kekayaan orang-orang kaya zaman itu sering kali habis ludes karena kelakuan anak-anak mereka.

 

Cara Unik Orang Kaya

Beberapa keunikan dan cara khas, biasa dilakukan oleh orang-orang kaya di Balaraja zaman baheula. Untuk menghitung ukuran tanah yang dimiliki, mereka tidak membawa alat meteran, melainkan cukup melempar batu sejauh mungkin. Nah, dilokasi batu jatuh itulah batas-batas tanah mereka. Atau, untuk memberi batas di sebelah utara, selatan, timur dan barat, mereka tidak membuat patok (sebagaimana lazimnya saat ini).

Tetapi cukup dengan mengatakan: di sebelah utara, batas tanah saya adalah kuburan…

Di sebelah selatan, batas tanah saya adalah sumur tua…

Di sebelah barat, batas tanah saya adalah pohon beringin…

Di sebelah timur, batas tanah saya adalah sungai…

Nah, kalau begini, bagaimana menghitung ukuran pasti luas sawah mereka? Ada istilah lain, tentang betapa luasnya tanah yang dimiliki orang-orang kaya dulu. Dengan sebuah sebutan: luas tanah saya adalah sepanjang mata memandang…

Begitu juga dengan cara mengukur umur. Maka petugas sensus sering puyeng. Bagaimana tidak? Ketika ditanya berapa umur anak Anda? maka orang yang ditanya menjawab ringan: Anak saya lahir persis berbarengan dengan ditanamnya pohon kelapa itu (sambil jemarinya menunjuk sebuah pohon kelapa yang sudah tinggi di depan rumah).

Berikutnya, kami akan turunkan kembali tulisan lain tentang Orang-Orang Kaya di Balaraja…

 

Sejarah Balaraja: Dipimpin Seorang Demang…

Sumber: FesbukBantenNews.com

Ibukota Pemerintahan Daerah Kabupaten Tangerang secara History pernah berkedudukan di Balaraja, ketika Bupati ke-3 s.d. ke-7, yaitu R. Achyad Penna (1945); K.H. Abdulhadi (Juli 1946); R. Djajarukmantara (1947); dan R. Achyad Penna (1948-1949). Setelah itu kembali lagi ke kota Tangerang.

Ilustasi Demang Mesteer, dalam Film Si Pitoeng. Konon, Balaraja era silam pernah dipimpin seorang Demang.

Berdasarkan Staatblad van het Nederlands Indie thn. 1918 No. 185 ditetapkan sebagai Kontroleur Afdeeling yang terdiri dari 3 distrik kemudian disebut kewedanaan, yakni Distrik Tangerang, Distrik Belaraja (Blaraja) dan Mauk. Pemegang birokrasi tertinggi itu Kontroleur, seorang Belanda membawahi 3 kewedanaan. Sementara golongan tertinggi untuk Bumi Putera itu Wedana (Demang) dan Kepala Jaksa. Adapun jabatan Demang baru ada pada tahun 1881, pada tahun 1907 diganti menjadi wedana.

Pejabat Distrik Blaraja tersebut adalah:
1. Rangga Jaban Abdoel Moehi (17 Maret 1881-1907)
2. Mas Martomi Abdoelharjo (17 Juli 1907-1910)
3. Soeid bin Soeoed (31 Oktober 1910-1924)
4. R. Soeria Adilaga (22 Mei 1924-1925)
5. R. Abas Soeria Nata Atmadja (26 Februari 1925-1925)
6. R. Kandoeroen sastra Negara (28 November 1925-1928)
7. R. Achmad Wirahadi Koesoemah (11 Mei 1928-1930)
8. Mas Sutadiwirja (27 Oktober 1930-1932)
9. R. Momod Tisna Wijaya (28 Mei 1932 – …….)
10. Toebagoes Bakri (1 Februari 1934-1935)
11. R. Moehamad Tabri Danoe Saputra (20 Juni 1935-1940)
12. Mas Moehamad Hapid Wiradinata (17 Juni 1940-…..)

Dalam perjalanan ini Afdeling Tangerang di bawah Residensi Batavia. Baru berdasarkan Osamu Serei No. 34 pada Tanggal 27 Desember 1943. Tangerang menjadi Kabupaten lepas dari Batavia. Kedudukan ini tetap tidak berubah sampai Indonesia Merdeka.

Tahukah Anda dimanakah Distrik Balaraja itu, leubah-leubahna? Hal ini bisa kita tinjau dari Tanah partikelirnya, a.l. :
Antjol Victoria of Daroe, Antjol Pasir, Blaradja en Boeniajoe, Tigaraksa, Tjikoeja, Karangserang Dalem of Kemiri, Pasilian, Djenggati, Tjakoeng of Kresek.

Sejarah Balaraja: Utusan Tiga Kerajaan, Cirebon, Banten, dan Sumedang Larang

Sumber: Balarajaohbalaraja.wordpress.com
Balaraja di bangun pada tahun 12 saka oleh Raden Sahid Sanjaya atas perintah dari Raden Cakra Buana dari Kerajaan Banten.
Balaraja dibangun untuk tempat persinggahan, pekan dan peristirahatan para utusan dari 3 kerajaan yaitu Banten, Cirebon dan Sumedang Larang.