Spirit Islam Untuk Aktivis Tangerang Barat

Islam:

“Sabar” dan “Syukur” untuk Gerakan Pro Tangbar

Seorang sufi cantik, sholehah, tinggal di gurun tandus. Sehari-hari, ibadat dan munajat kepada Allah. Mukanya cerah dan bening. Selubung melingkar di sekujur tubuh. Dengan setia, hari demi hari, menunggui tenda, demi menjamu Sang Suami Pulang. Namun seperti kontrasnya warna hitam dan putih, Sang Suami justru teramat berbeda. Berkulit hitam legam. Buruk rupa. Dengan akhlak yang tak ketulungan kurang ajarnya. Jika memakai bahasa gaul anak layangan (Alay), tampang Si Suami kagak ngangkat!

 

Karuan kenyataan ini membuat orang-orang geregetan. Bisa-bisanya perempuan sholehah jelita bersuamikan muka jelaga…

Salah satu pihak yang penasaran, adalah seorang Sultan (penguasa di wilayah itu). “Wahai Hamba Allah,” kata Sang Sultan kepada si perempuan cantik, “Mengapa Anda bersedia melayani suami Anda yang buruk itu?”

“Wahai Sultan,” jawab perempuan cantik, “kondisi yang saya alami ini justru menguatkan Iman saya. Bukankah Iman itu terdiri dari syukur dan sabar? Saya bersyukur karena Allah telah memberi karunia atas kecantikan, kesehatan, dan ketekunan beribadah. Lalu, saya juga bersabar atas cobaan Allah, dalam bentuk suami yang jelek…”

Mari ambil penekanan pada dua kata: “syukur” dan “sabar”. Maka opening article dalam naskah ini me

mang mengacu ke situ. Dalam konteks ghirah kawan-kawan di Tangerang Barat, terasa amat mengena. Bahwa ikhtiar politik demi menjadikan Tangbar sebagai kabupaten, akan bergumul dengan rupa-rupa peristiwa. Tak akan selamanya mengasyikan, tentu. Sekaligus juga pasti akan terselip sesuatu yang menyenangkan. Whatever, the show must go on…

 

Tentang Sabar

Tak ada David Coperfield (ilusionis kaliber) dalam politik. Pat gulipat sulap dalam politik, hanya berlaku di ujung cerita (biasanya setelah ada pihak yang kalah dan patah). Tapi jika urusannya etape panjang nan melelahkan (seperti perjuangan pro Tangbar), proses yang terjadi senyatanya adalah fakta dan rangkaian aktivitas.

Kawan-kawan aktivis Tangbar kudu “bernafas panjang”.

Sekarang pun bukan main tantangan yang menghadang. Bisik-bisik tetangga malah ramai dengan cemooh: Belanda masih jauh! Anda tentu mahfum, candaan itu arahnya adalah “mimpi Tangbar” masih ada di surge sono…

Cobaan maha berat justru ada di muara kebijakan.

Isu moratorium (meski normatif saja sifatnya),  adalah penghadang paling kokoh.

Mau tak mau, kebijakan moratorium (penundaan sementara) ini menjadi simpul argumen bagi pihak yang kontra terhadap pembentukan Tangbar (menjadi kabupaten). Lalu hadangan melebar ke segara arah: (1) praktek buying time alias buang-buang waktu oleh para pengambil kebijakan dalam menghadapi advokasi pro Tangbar; (2) sifat oportunistik dari para politisi, ini misalnya dari mereka yang tak mau turun jika tak ada arah angin yang kuat dari para penggede untuk mendukung Tangbar; (3)penghembusan opini buruk atas isu pro Tangbar; dan (4) urusan-urusan teknis yang dipersulit (semacam pengkajian akademik, proses drafting, dan sejenisnya).

Bisa jadi, rangkaian batu sandungan ini membuat kita jatuh mental. Atau berbalik menjadi tindakan yang salah arah (disorientasi).

Tetapi, lagi-lagi berkaca dari hikmah Islamiyah,ada sejumlah cara untuk selamat dari rintangan itu. Dari kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir, tersembul nasehat kuat, bahwa proses ber-sabar akan kokoh mana kala kita “mengenal ilmu” dan “mengenal rahasia”.

Bukankah Nabi Musa tak sabar atas perilaku Nabi Khidir yang aneh, justru karena sang nabi tak tahu “ilmu dan rahasia” dari tindakan Khidir? Jika saja tahu,  maka ia tak akan berang melihat Khidir membocori perahu nelayan, membunuh anak-anak, dan menegakkan tembok yang roboh. Ilmu dan rahasia Khidir, di ujung cerita, justru menjelaskan makna sesungguhnya, bahwa perahu nelayan dibuat bocor agar tak digondol para rampok, anak yang dibunuh karena kalau dibiarkan hidup ia akan durhaka pada orang tua, dan tembok yang dibangun lagi menyimpan warisan orang tua dari dua orang anak… Pendeknya, hanya dengan ilmu dan pengetahuan sajalah kita bisa konsisten dalam bersabar.

Kira-kira, seperti itulah perjuangan kawan-kawan pro Tangbar.

Jangan terlalu bermain-main dengan retorika dan kegenitan ala aktivis Forkot dan LMND (di belasan tahun silam). Jauh lebih berfaedah, jika kita tekun mencari pengetahuan politik, tentang seluk beluk memperjuangkan suatu daerah menjadi kabupaten (dan ini bisa dicari di mana-mana).Gali terus dan lacak ilmu dan rahasia politik, untuk memenangkan advokasi pro Tangbar, karena memang keputusan politik kerapkali ada ilmu dan rahasianya yang tersendiri.

Tentang Syukur

Lalu,  apa yang bisa kita syukuri dari advokasi pro Tangbar ini? Hasilnya belum nongol. Dukungan massif masih samar. Para elit juga masih wait and see…

 

Rasa syukur dalam perjuangan Tangbar ada dalam kalimat berikut: “memetik kemenangan-kemenangan kecil”. Ini prinsip paten dalam advokasi (misalnya perjuangan penyelamatan lingkungan hidup berhadapan dengan kapitalis besar, perjuangan penegakkan HAM, dan lain-lain, yang biasanya berakhir dengan kekalahan total, tetapi diwarnai dengan aneka kebaikan-kebaikan).

Keliru tak terampuni jika mimpi Tangbar hanya bersandar di target akhir: yaitu peresemian menjadi Kabupaten. Maksudnya, jangan terlalu fokus ke situ. Mata bisa silau, bila mengabaikan fakta-fakta lain yang patut kita nikmati. Lagipula, bagaimana kalau misalnya kita kalah? Alias proses pembentukan Tangbar tak pernah jadi?

Percaya saja, ada serangkaian proses yang pasti berfaedah banyak. Dan itu,barangkali, akan berbentuk hal-hal yang terlihat sepele —namun penting.

Di mata saya, setidaknya, ada empat kemenangan kecil yang wajib kita syukuri.  Mari kita rayakan…

Pertama, ini sudah terlihat gelagatnya, bahwa ada konsolidasi, ada wahana, ada ikatan silaturahmi antara para aktivis di territorial Tangbar. Dulu, sebelum isu ini muncul, di mana kita pernah bertemu? Kedua, membuka kesempatan berwacana, sosialisasi, dan belajar mendorong kampanye publik. Saya lihat, kawan-kawan begitu getol di titik ini, mulai dari Facebook, publikasi media, sampai bikin kalender segala. Ketiga, peluang mendeteksi potensi kepemimpinan dan (atau) pemunculan sumber daya politik di sekitaran Tangbar.

Terakhir, kempat, kegairahan untuk mempopulerkan “ikon dan penanda” Tangbar —dalam bentuk budaya khas, keunikan,  dan penyebaran dokumen-dokumen sejarah seputar Tangbar. Jujur  saja, ini bagus. Saya sendiri jadi agak awas terhadap sejarah Tangbar era lampau, melalui kawan-kawan yang rajin mengulik dokumen masa lalu di tanah yang kita cintai ini.

Poin yang keempat barusan, bisa disebut sebagai agenda penguatan local genius (kehebatan-kehebatan local) dan indigenous wisdom/ knowledge (membuka kembali pengetahuan dan kebijakan lokal di Tangbar). Tunggu saja, besok-besok mungkin ada kajian tentang para Ulama, para Abuya, pondok-pondok pesantren yang sangat berjasa dalam penyebaran Islam di Tangbar. Lalu, akankah kita kufur nikmat atas semua fakta-fakta ini?