Revolusi (dan Sejarah) Perjudian di Balaraja…

Gambar

Hari ini, di Balaraja terjadi Revolusi Judi yang luar biasa daya ledaknya. Melibatkan ribuan orang, dari pria, wanita, muda, tua, dengan beragam-ragam profesi (guru, petani, buruh, polisi, dan bahkan sejumlah “pemuka” agama). Pun akumulasi total uang yang berputar, mencapai ratusan juta rupiah —per malam. Saban malam, di tiap-tiap tongkrongan warung kopi dan kedai Indomie, orang berkerumun memperbincangkan judi.

Skala daya ledak revolusi judi di Balaraja dan sekitarnya saat ini nyaris menguras konsentrasi publik. Judi lotere yang menjadi primadona menyingkirkan semua hal. Di saat orang berkumpul, yang jadi bahan diskusi adalah kode buntut, nomor lotere, informasi-informasi nomor yang akan ke luar, dan segala bentuk mistik, ramalan, atau sekedar spekulasi. Perbincangan tentang apapun menjadi lumpuh, kalah sengit oleh gairah orang memperdebatkan Fajar Pakong (nama judi yang kini populer).

Secara sosial, inilah kerusakan paling nyata: bahwa enegi, waktu, pemikiran, dan terutama uang terkuras dalam perjudian nan marak. Orang tak lagi mengisi waktu dengan sesuatu yang produktif, entah di bidang agama, silaturahmi keluarga, perkawanan, atau sekedar pergaulan sosial yang positif. Semua terkuras dalam wacana judi.

Tak ada lagi orang memperbincangkan masalah umum, seperti pembangunan mushola, menggarap lahan tani, perbincangan tentang kemajuan desa, atau hal-hal lain yang perlu. Lantaran begitu tiga empat orang berkumpul, maka primadona cerita adalah judi.

Kehancuran lain yang menyusul adalah mentalitas dan isi otak!

Mentalitas para penjudi di mana saja sama, semua halal, yang penting menang. Mereka tak hirau apakah harus menyembah setan, menginap di kuburan, menjadi budak para dukun, atau menyebut-nyebut Jin dan Iblis. Satu-satunya hal berharga di otak para penjudi adalah nomor buntut (yaitu dua nomor yang diperkirakan akan ke luar). Di batok kepala para penjudi tak ada yang berharga. Yang disebut hikmah, ilmu, pengetahuan agama, adalah sampah…

Namun paling dahsyat, menurut saya, adalah betapa para pelaku perjudian di Balaraja dan sekitarnya hari ini bukanlah orang-orang bodoh, yang hilang harapan, atau mereka yang sama sekali tak terdidik. Justru sebaliknya…

Seolah jadi bukti bahwa hasil sekolah di Balaraja hanya melahirkan para manusia yang sekedar mengerti baca tulis tetapi tak mampu menggunakan nalar untuk sesuatu yang benar. Mereka berhasil dalam hal ekonomi, misalnya menjadi polisi yang kaya, guru yang kaya, PNS yang kaya, atau pedagang yang kaya. Tetapi jauh dari sikap bijak. Mereka contoh kaum terdidik yang kemaruk, serakah, dan anti terhadap kemajuan sosial.

Para Guru yang ikut judi Fajar Pakong, para polisi yang ikut judi Fajar Pakong, para PNS yang ikut Fajar Pakong, para pedagang kaya yang ikut judi Fajar Pakong, apa motivasinya?

Tak lain adalah keserakahan. Dan keserakahan ini timbul karena benak mereka hanya menghormati harta benda. Yang lain tidak. Sekali lagi, mereka orang-orang berpendidikan, tetapi pendidikan yang ditempuh karena membeli selembar ijazah, bukan ilmu. Pendidikan dan harta yang dimiliki tak membuat mereka hidup bersahaja dan berpikir cerdas serta menjadi pengabdi publik. Dua hal itu, justru menciptakan mental garong dan maling.

Lalu mengapa perjudian begitu menggempita di Balaraja?

Satu sebab yang bisa dilacak adalah akar-akar sejarah masa lalu. Penceritaan orang-orang tua membeberkan bagaimana kehidupan Balaraja dulu didominasi oleh para Djago, Jawara, dan para petarung —yang hidup sekuler, jauh dari nilai-nilai agama. Kehidupan mereka seperti “uli dan ketan” dengan gaya hidup para China yang berkuasa secara ekonomi (seperti juga saat ini).

Mereka adalah para centeng yang menghibur diri dengan kesenangan ala Jawa, yang biasa disebut Molimo, yaitu Madon (main perempuan), Maen (judi), Mabok, Madat (jadi pecandu barang terlarang) dan Maling (termasuk korupsi). Kultur Jawara di Balaraja ini tak tertandingi karena memang tradisi Islam belum kokoh, penduduk masih jarang, masih banyak hutan belantara, dan belum tegak role and order (tata tertib hukum).

Lalu kemudian datang fajar Islam, modernisasi, dan pendidikan (serta migrasi penduduk). Tetapi semua perubahan ini tak mengikis jiwa judi. Malah percampuran modernitas itu semakin memodifikasi bentuk judi. Seperti hari ini, misalnya, perjudian yang menggurita karena teknologi informasi. Kini, para penjudi di Balaraja dan sekitarnya telah melakukan revolusi, yaitu dengan judi online berbasis internet…

 

Iklan

One comment on “Revolusi (dan Sejarah) Perjudian di Balaraja…

  1. kalo bgitu trus mah akan hancur ahlaq dan moral ,tlong dong aparat polisi tindak tegas dong ,masa sich g bisa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s