Uniknya Pemilihan Kades (di Balaraja) Zaman Kuno….

Pilkades Era Kumpeni

Menurut Ong Hok Ham, dalam buku Wahyu Yang Hilang, Negeri Yang Guncang, diterbitkan Majalah Tempo, 2003, di zaman kolonial Pilkades dilakukan benar-benar murni, dan mencirikan demokrasi yang utuh.

pilkades

Gambarannya adalah: para calon kepala desa di beri kursi di ujung lapangan, mereka duduk berdampingan. Lantas di hadapan para calon itu, dipasang garis memanjang, untuk membentuk antrean para pemilih secara rapi. Jika misalnya ada lima calon, maka akan ada lima baris antrian yang berjejer rapi, dari bagian depan hingga mengular ke belakang.

Nah, siapa saja calon yang memiliki antrean paling panjang (dari para pendukung), alias memilki pendukung paling banyak, maka dialah yang menang. Hebat bukan? Di sini, tak ada pemilih yang menipu, pura-pura mendukung calon yang satu, tapi ternyata memilih yang lain.

Beda dengan Pilkades hari ini, pemilihan dilakukan tertutup, olehnya para pemilih bisa munafik, bermain kotor, memeras para calon, dan ternyata mencoblos orang lain.

Pilkades zaman kumpeni ini, tentu sangat fair. Tak ada tipu menipu. Dilakukan secara jantan. Para calon juga adalah para orang-orang ksatria (atau jawara). Para pendukungnya juga jantan, tak membohongi siapapun, karena ia terlihat berada di barisan siapa. Inilah yang disebut dengan Pemilihan terbuka. Sayangnya, dalam buku itu, penulisnya tidak menyebut apakah ada serangan fajar?

Yang pasti, para calon diperiksa secara ketat, baik oleh Demang, harus mendapat persetujuan Residen, dan artinya dibolehkan oleh Kumpeni.

Pilkades Era Dekade Lalu

Kini kita melompat ke Pilkades di era 50-70-an hingga 80-an. Di periode ini, pemilian tak lagi terbuka. Melainkan sudah dimodifikasi dengan cara-cara tertutup. Dengan menggunakan bilik suara. Hanya saja belum menggunakan kertas dan alat coblos. Melainkan melalui kerikil atau batang bambu yang dipotong kecil-kecil. Lantas kotak suara pun tidak seperti saat ini, karena terbuat dari bumbung bambu (bambu berdiameter besar, seperti pipa paralon). Siapa pemenangnya? Tak lain adalah yang bumbung bambunya berisi kerikil atau potongan bambu kecil yang paling banyak… Uniknya, di era ini, ada istilah Kades yang menang lawan bumbung kosong (bumbung bambu sebagai kotak suara tetap dibuat dua buah, yang satu untuk calon kades yang hadir dan satunya lagi dibiarkan kosong). Tapi paling sial, ada juga calon kades yang kalah oleh bumbung kosong (calon kades cuma satu, tapi bumbung kotak suara dibuat dua buah, dan justru bumbung yang tak ada calonnya, berisi kerikil paling banyak).

Pilkades Era 80-90-an

Di dekade ini, saya memiliki pengalaman pribadi. Persisnya adalah ketika Ayah saya ikut dalam kontestasi Pilkades, di Desa Parahu, Kecamatan Balaraja. Ayah saya menang, melawan dua orang pesaingnya. Tapi bukan itu yang penting, tetapi justru latar kisahnya.

Saat itu, Pilkades sudah didesain dengan sentuhan kemoderenan. Sudah ada panitia pelaksana —-dibentuk oleh pihak kecamatan, dan melibatkan tokoh-tokoh desa, namun penanggung jawab adalah kecamatan. Kotak suara yang digunakan juga sudah bagus, dari papan tripleks yang dibentuk kotak persegi. Lalu bilik suara dibuat terpisah (satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan). Juga sudah ada Tim Sukses (waktu itu disebut sponsor). Saya ingat persis —dan selalu saya konfirmasi ke Ayah, di saat ngobrol di waktu senggang— bahwa saat itu benih-benih money politics sudah muncul, meski tidak terlalu besar. Pengakuan Ayah, saat itu menghabiskan dana Rp. 9 juta. Untuk ukuran saat itu, lumayan tinggi. Perbandingannya adalah harga emas hanya Rp. 1.500.

Benih-benih kampanye publik dan sosialisasi masyarakat juga mulai muncul. Para calon menempel foto (yang difotocopy hitam putih), di pohon-pohon dan tiang listrik. Hebatnya, waktu itu calon Kades harus ikut testing yang dilakukan pemerintah kabupaten (hari ini, tak ada lagi testing, maka calon yang bego pun bisa ikutan).

Pilkades Saat Ini

Baru beberapa bulan lalu, tepatnya di 30 Juni 2013, ratusan Desa di Kabupaten Tangerang melakukan Pilkades. Sepenuhnya teknologi operasi politik pemenangan sudah dilakukan canggih. Berbiaya maha besar (ada yang milyaran rupiah).

Kampanye dan sosialisasi juga gencar, lengkap dengan spanduk, umbul-umbul, banner, baliho super besar, branding di mobil, dan sticker. Metode merebut suara juga gencar —menghabiskan banyak uang. Mulai dari membiaya hajatan warga, mengongkosi tahlilan para almarhum, membayar pengajian jamaah, saweran di acara dangdutan, sampai membuat kuis dan undian berhadiah. Di sebuah desa, ada undian yang hadiahnya motor dan mobil. Kasarnya, biaya menjadi calon kades saat ini, minimal lima ratus jutaan. Dan untuk menang mungkin butuh milyaran. Gila!!!

Persamaan

Sketsa Pilkades dari zaman ke zaman itu memang berbeda-beda. Tetapi ada seulas carik yang sama, yaitu soal mistik!

Hingga hari ini, urusan satu itu tak hilang-hilang. Dulu, calon kades yang menang dianggap mendapatkan pulung (atau wahyu). Lantas, di era berikutnya, disebut dengan braja (yakni sebuah cahaya yang akan jatuh ke rumah calon kades yang akan menang), sementara pihak yang kalah kena kuku bayu. Sisa-sisa aura takhayul ini saat ini masih kuat terasa. Para calon berebut datang ke makam, ziarah, dukun, paranormal, dan sejenisnya. Begitulah….

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s