Mengenang Sebuah Zaman Tanpa (Lampu) Listrik

Artikel ini adalah kenangan di Balaraja, pada era 80-an…

Listrik

Mengenang Zaman Tanpa (Lampu) Listrik

—Balaraja Era 80-an—

Masih lekat dalam batok kepala. Ketika Ketua Umum Golkar (saat itu, Tahun 1987), yang bernama Soedharmono (beliau kemudian menjadi Wapres, mendampingi Pak Harto), meresmikan pemakaian Tenaga Listrik PLN untuk daerah Balaraja dan sekitarnya. Lokasi peresmian adalah di Kampung Pekong, Desa Saga, Kecamatan Balaraja. Tepat di sebuah lapangan besar, yang biasa digunakan untuk pertandingan Sepakbola.

Berduyun-duyun orang datang. Murid-murid sekolah, SD, SMP, SMA, dikerahkan datang. Suasana benar-benar hingar bingar. Panggung dan tenda besar dijejali para undangan —dan penduduk yang tumpah ruah. Bagaimana tidak ramai, selain ada Pak Dharmono, juga ada para artis pelawak Ibukota, yaitu (kalau tak salah ingat), Jayakarta Grup, yang terdiri dari Us Us, Ogud, Kimung, dan Komar.

Ada satu petikan lawakan yang membuat penonton terpingkal-pingkal, yakni ketika Us Us menyanyikan lagu Bintang Kecil, dengan mengganti lirik (semua bait lagu pada akhirnya diganti dengan kata kecil). Bintang kecil, di langit yang kecil, amat kecil, menghias yang kecil… (Lucu karena mimik Us Us, dank arena memang postur tubuhnya yang kecil). Barangkali, sepanjang sejarahnya, baru kali itu daerah Balaraja dikunjungi Artis Ibu Kota. Kini, tiap bulan pun selalu ada artis (dangdut, paling tidak).

Zaman itu, Golkar adalah partai Maha Kuasa. Segala momen, semua kegiatan, dan program pembangunan, diklaim habis-habisan. Termasuk proyek pengadaan listrik PLN itu, yang diakui sebagai jasa dari orang-orang Golkar. Maklumlah, masih era Orde Baru…

Sepertinya, kisah kehidupan tanpa lampu dan energi listrik di Balaraja baru terjadi kemarin sore…

Bagaimana bisa lupa? Kami waktu itu punya kegiatan yang menjengkelkan. Saban sore harus membersihkan lampu Petromax. Mengganti minyak tanah di dalam tabungnya. Membeli kaus lampu (lampu Petromax memang ribet, ada kaus lampunya yang rawan pecah). Lalu mengucurkan cairan spirtus (sebagai pemantik api di tahap awal). Lalu yang paling melelahkan adalah memompa. Kadang, malam haripun, kegiatan memompa harus dilakukan, ketika sinar dari Petromax mulai meredup. Duh… padahal waktu itu, lampu neon sudah berusia satu abad paska ditemukan oleh Thomas Alfa Edison.

Kalaupun ada satu dua orang yang bisa terbebas dari siksaan Lampu Petromax, hanya ada dua golongan, yaitu penduduk “yang miskin sekali” dan “yang kaya sekali”.

Mereka yang masuk kelompok dhuafa alias kekurangan harta, tak perlu pakai Petromax. Cukup lampu teplok (terbuat dari kaleng bekas, diisi sedikit minyak tanah, lalu memakai kain yang dipilin, dan ujung atasnya dibakar, jadilah alat penerang, sederhana bukan?).

Sementara mereka yang kaya sekali, pasti membeli mesin diesel, sehingga rumah mereka terang benderang. Ajaib, pemandangan rumah orang kaya yang penerangannya memakai diesel, adalah hiburan tersendiri. Saat itu, rumah seperti itu disebut sebagai gedong, aheng, alias seperti istana raja, yang berpendar-pendar cahaya.

Sebetulnya ada seribu satu cerita tentang hidup tanpa lampu listrik. Untuk pergi mengaji, terpaksa mengumpulkan batang dan daun kelapa yang kering. Lantas diikat, dijadikan obor. Atau membuat obor dari bambu. Nah, obor bambu menjadi favorit, terutama menjelang Idul Fitri, berjejer-jejer obor bambu ditempelkan di setiap pinggir jalan. Ah, terasa sangat indah…

Memang tak semua hal tanpa lampu listrik menjadi menjengkelkan. Lantaran ada asyiknya juga. Kami bisa melakukan permainan anak-anak yang cocok dilakukan saat gelap, misalnya: main petak umpet. Atau, mengamankan kami yang nakal, ketika mengendap-endap di pinggir rumah, mengintip orang yang berpacaran. Pokoknya, tanpa lampu jadi seru!

Siksaan Tanpa Listrik juga hadir satu minggu sekali. Persis, tatkala accu (atau aki) sumber energi untuk menyalakan televisi dan radio sudah habis. Layar televisi tiba-tiba menciut, gambar melorot dan mengecil, semacam ada bayangan hitam di tepi layar kanan dan kiri. Lalu petsss, televisi mati.

Karuan para penonton teriak-teriak jengkel. Apalagi kalau di TV sedang ada siaran bagus. Misalnya program musik Aneka Ria Safari, Selekta Pop, dan Film Akhir Pekan.

Barangkali, ketergantungan pada listrik saat itu tak benar-benar kuat. Tak seperti sekarang ini, semuanya bisa jalan dan berfungsi kalau ada listrik. Dulu, orang mengerjakan apapun dengan cara manual dan alami. Mencuci di kali (tak pakai  listrik). Menyetrika pakai bahan bakar pemanas dari arang hitam. Memasak dan memanaskan makanan dengan tungku dan kayu. Tak ada handphone yang harus dicharge. Belum ada computer. Pokoknya, barang-barang elektronik yang dikenal hanya TV dan Radio. Begitulah…

//

//

Iklan

2 comments on “Mengenang Sebuah Zaman Tanpa (Lampu) Listrik

  1. Penulis Lupa kenapa hanya tokoh puncak tinggi yang tertulis di batok kepala penulis seperti Sudharmono SH, tapi kenapa tokoh bawah ( kaki puncak ) tidak tertulis di batok kepala penulis, seperti siapa kepala desa/ Lurah Saat itu yng memiliki andil besar yang agar supaya desanya yang beliau pimpin dapat jatah penerangan LMD, sementara pimpinan desa yang seperti itu sudah jarang adanya saat sekarang. tapi saya suka dengan artikel yang anda tulis ternyata masih ada orang yg masih mengingat masa lalu. bravo untuk penulis dua jempol !!!!

  2. Tak terasa, 4 jam lebih saya klak-klik.. Baca, klak-klik…baca artikel-artikel yang akang tulis di web ini. Ada info pengetahuan yang baru, atau membawa saya ke masa kecil tentang Balaraja. Kota tempat tumpah darah dan tumbuh besarnya saya hingga saat ini. Kebanggaan saya kepada Balaraja, terlebih kepada akang penulis tak terlukiskan dengan kata-kata.
    Saya lahir tahun 70-an. Maka ketika akang cerita obor dan masuknya listrik, Sabtu pagi berangkat ke tempat setroom accu biar ujan-an sekalipun bawa sepeda demi nonton TVRI malam Minggu… Kebayang, sulit tapi berkesan indah sekarang ini.
    Mari kita telusuri sejarah dan perkembangan Balaraja dari masa ke masa untuk estapet ke generasi selanjutnya.
    Terima kasih kang.
    Akang teh aktif di FM Swadewa?
    Salam, Saya acep dolly di kawasan jalan baru, Tegal Lame. Surel: drangtama@yahoo.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s