Bola “Karut” Ala Balaraja Baheula…

Bola

Tendangan cantik Andik Vermansyah ke gawang Singapura tak akan mudah dilupakan. Bukan hanya gol itu indah, tapi juga penting. Meruntuhkan kutukan sejarah pertemuan Indonesia vs Singapura, yang selalu dimenangkan Negeri Singa. Tapi yang lebih seru adalah: membangkitkan kembali kepercayaan publik terhadap sepakbola nasional.

Tapi dari seluruh pembicaraan yang ramai di mana-mana, orang lupa terhadap “bola” itu sendiri. Jika saja “si kulit bundar” bukan dibuat dari fabrik moderen, dengan sentuhan teknologi canggih, menggunakan bahan baku berkualitas tinggi, dan melalui kontrol kualitas ketat, bisa jadi tak akan pernah lahir gol secantik itu…

Andik tak akan berdaya kalau si bola terbuat dari karet bekas ban mobil truk, misalnya. Andik pasti bertekuk lutut kalau si bola dibuat dari plastik… (sebagaimana yang sering dimainkan anak-anak di perkampungan miskin).

Maka berterima kasihlah kepada industri canggih yang memproduksi bola-bola berkualitas. Siapapun, mulai dari Beckham, Messi, Christiano Ronaldo, dan pesepakbola kaliber yang pernah membuat tendangan bebas memukau, tak akan mampu melakukan aksi terbaik, jika kualitas bola yang mereka sepak bermutu sampah…

Nah, diskusi tentang asal muasal dan jenis bola sepak, maka di Balaraja ada satu cerita. Tepatnya berkisar pada tradisi main bola di tahun 80-an awal.

Waktu itu, kami anak-anak, biasa main bola di “tanah terbuka” (tak ada lapangan khusus). Kadang di sawah yang mengering. Di hamparan ladang milik orang, di pinggir kuburan, atau malah di sawah yang masih tergenang air (campur lumpur dan basah-basahan).

Selalu ada lawan yang siap ditantang. Kadang sesama rekan satu sekolah. Dengan anak-anak dari kampung sebelah. Atau dengan para gembala (istilahnya, budak angon, yaitu anak-anak yang bekerja khusus untuk menggembala kerbau). Jarang-jarang permainan berakhir damai dan penuh toleransi. Justru selalu kisruh, adu jotos, satu dua anak pulang menangis, dan yang lainnya berkaki bengkak —karena saling sikat adu kaki.

Yang paling unik dari itu semua: bola sepak yang dipakai.

Adalah di luar imajinasi kami waktu itu untuk menggunakan bola karet sintetik yang dipompa seperti sekarang. Itu adalah barang super mewah. Biasanya, paling mahal adalah menggunakan bola plastik (yang dibeli dari uang patungan, dikumpul bareng, kadang butuh waktu seminggu, padahal harga bola plastik waktu itu paling Rp. 25 perak saja!).

Jika tak ada bola plastik, caranya adalah: mengumpulkan sampah. Ya, benar, mengumpulkan sampah: plastik tak terpakai, koran bekas, kardus usang, dedaunan, sobekan kain, dan jerami. Setelah sampah berbagai jenis  itu terkumpul, lalu dibentuk dipadatkan, dipejalkan, membentuk bulatan (biar bundar seperti bola). Lalu, agar “bulatan sampah” itu tidak tercerai berai, maka diikat dengan tali plastik, dengan pola yang ketat, seperti anyaman. Jadilah…

Jangan anggap enteng, menganyam bola karut yang merupakan kumpulan sampah itu, bukan kerja sepele. Tak semua anak bisa (saya termasuk yang piawai membuatnya).

Jika ingat itu, selalu takjub. Kami anak-anak waktu itu, memang kreatif… Tak menyerah dengan kemiskinan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s