Daerah Paling Seram di Balaraja!!!

Serem

Di televisi, saban tahun ada even pemilihan Puteri Indonesia. Dara-dara cantik berlaga mewakili daerah masing-masing. Ada dari daerah Sumatera, Daerah Jawa, Daerah Bali… Tapi, tak ada puteri yang mewakili daerah seram…

Cerita tentang wilayah angker, maka di Balaraja adalah gudangnya (terutama di era 80-an). Jika dikelompokkan, maka ada sejumlah jenis daerah yang menakutkan untuk dilewati (terutama di malam hari). Beberapa diantaranya adalah berbentuk: (1) kuburan atau makam tua; (2) pohon besar; (3) hutan bambu; (4) rawa-rawa; (5) rumah kosong; (6) sumur tua; (7) jembatan; (8) sungai; (9) daerah persawahan yang jauh dari rumah penduduk; dan (10) tempat-tempat khusus yang memang terlihat seram, seperti gedung yang tak terpakai…

Tambahan lain, ada juga lokasi yang tiba-tiba menakutkan. Misalnya, bekas terjadinya kecelakaan, atau lokasi ditemukannya orang tewas dalam karung. Ini bukan khayal. Tahun 80-an, adalah tahun adanya Operasi Penembak Misterius, atau Petrus. Operasi ini dilakukan oleh Militer RI, untuk menghabisi para preman dan begundal yang pentuh tato. Biasanya, mayat di buang dipinggir sawah atau di kolong jembatan.

Sudah pasti, pengelompokan itu tak memasukan manusia yang berwajah jelek dan seram. Karena, itu namanya penghinaan.

Ingat. Semua jenis daerah yang membuat merinding itu terjadi di Balaraja masa silam. Hari ini, tak ada lagi tempat yang sepi. Kalaupun ada, bukan membuat takut. Malah jadi ajang pacaran dan mesum.

Semisal Contoh

Mari lacak contoh satu per satu. Tentang kuburan seram, maka ada beberapa. Di Kedaung, Balaraja (arah mau masuk ke PT Dharma Polymetal) atau makam besar, yang sekaligus dirimbuni pepohonan besar. Ini benar-benar membuat bulu kuduk berdiri. Tahun 80-an, masih jarang rumah di sana. Lalu ada juga kuburan cina di Pasar Sentiong. Waktu itu, melewati (malam hari) Pasar Sentiong sama saja dengan menantang hantu muncul. Hiiii…

Sebetulnya, terlalu panjang jika cerita satu per satu. Pada umumnya, daerah yang dianggap seram adalah lokasi yang jauh dari rumah penduduk. Tetapi selalu dilintasi orang yang berpergian —karena tak ada lagi jalan masuk. Maka lahirlah berbagai versi tentang cerita hantu. Ada yang kesurupuan, ada yang mengaku diganggu suara tertawa, ada yang melihat kuntilanak. Dan lain-lain.

Tak heran pula. Di tahun 80-an, karena masih sepi, maka cerita seram terus berkembang. Terutama untuk membuat orang waspada. Maklum, selain ancaman setan, juga ada ancaman dari para garong yang mengincar barang berharga. Maka, lengkap sudah…

 

 

//

Mengenang Sebuah Zaman Tanpa (Lampu) Listrik

Artikel ini adalah kenangan di Balaraja, pada era 80-an…

Listrik

Mengenang Zaman Tanpa (Lampu) Listrik

—Balaraja Era 80-an—

Masih lekat dalam batok kepala. Ketika Ketua Umum Golkar (saat itu, Tahun 1987), yang bernama Soedharmono (beliau kemudian menjadi Wapres, mendampingi Pak Harto), meresmikan pemakaian Tenaga Listrik PLN untuk daerah Balaraja dan sekitarnya. Lokasi peresmian adalah di Kampung Pekong, Desa Saga, Kecamatan Balaraja. Tepat di sebuah lapangan besar, yang biasa digunakan untuk pertandingan Sepakbola. Baca lebih lanjut

Berbalas Pantun Ala Balaraja (era 80-an)

01

Para pelawak di televisi paling hobi berbalas pantun. Mereka bahkan cenderung memperlebar fungsi pantun. Dulu, pantun adalah gaya bahasa yang indah, halus, dan sopan. Kini, pantun menjadi bahan olok-olok, saling ejek, ledek-ledekkan, dan jauh dari etika kepatutan.

Berpantun ala pelawak memang bertujuan meledakkan tawa. Tetapi, sayangnya, kerap bablas. Lantaran mereka tak sungkan lagi menghamburkan kata-kata vulgar. Pokoknya lebay bin alay…

Di luar lingkungan pelawak, penggunaan pantun saat ini sudah menjadi “gaya hidup”. Para pengguna pantun, tersihir oleh kaidah pantun para pelawak. Mereka pun ikut-ikutan main ledek-ledekan dengan menggunakan pantun. Sesekali, pantun juga dipakai untuk merayu dan menggoda lawan jenis. Contohnya:

Ikan hiu pegel-pegel,

I Love You, Girl…

Atau contoh pantun untuk membuat segar suasana, seperti yang ini:

Buha kopi, buah kedondong,

Ngopi dooonggg…

Pantun Balaraja

Jangan salah, generasi Balaraja era 80-an juga mengenal (dan gemar) berpantun. Dengan beragam variasi. Ada pantun yang menggambarkan suasana sepi di tengah sawah; pantun untuk mengejek perempuan; pantun untuk menertawakan orang tua; atau pantun untuk sekedar mencairkan suasana…

Contoh pantun untuk mengejek perempuan atau lawan jenis:

Salawe dua puluh lima, amis henteu ladana bae…

Awewe zaman ayeuna, geulis henteu, lagana bae…

(Artinya: perempuan zaman sekarang, tidak cantik tapi hanya genit! Nah, pantun ini jelas akan membuat pedas lawan jenis).

Malah ada pula pantun yang sifatnya mengolok-olok perempuan:

Salawe dua puluh lima, sireum ateul dina gelas,

Awewe zaman ayeuna, kelek ateul dihampelas…

(Artinya: perempuan zaman sekarang, kalau ketiak gatal, diampelas, digosok pakai ampelas. Ini jelas ejekan, karena tak mungkin dilakukan).

Berikut pantun yang menggambarkan rasa putus asa karena cinta:

Kica-kica, kuku cina

Teu dipiceun kalokopna…

Cita-cita hayang kadinya,

Teu dibikeun ku kolotna!

(Artinya: cita-cita ingin memilikinya, apa daya tak diberikan oleh orang tuanya).

Lalu, ada juga pantun yang kurang ajar, mengolok-olok orang tua:

Dumanini, batu jajar,

Samping beureum disoekeun,

Nini-nini kurang ajar,

Ndeuk dibeuleum teu daekeun…

(Artinya: ada nenek-nenek yang menurut mereka adalah kurang ajar, tetapi mau dibakar tidak mau, jelas dong, siapa yang mau dibakar, emang jagung?)

Nah, itulah sepetik pantun di Balaraja Era Silam.

By Tangereng Barat Posted in Pernik

Bola “Karut” Ala Balaraja Baheula…

Bola

Tendangan cantik Andik Vermansyah ke gawang Singapura tak akan mudah dilupakan. Bukan hanya gol itu indah, tapi juga penting. Meruntuhkan kutukan sejarah pertemuan Indonesia vs Singapura, yang selalu dimenangkan Negeri Singa. Tapi yang lebih seru adalah: membangkitkan kembali kepercayaan publik terhadap sepakbola nasional. Baca lebih lanjut