Gedoran China di Balaraja (Sebuah Memori Kelam)

Meski lapat nan samar, pecahan kisah tentang China di Balaraja cukup sering terdengar. Pelbagai sumber kerap membuka informasi dengan aneka versi. Terkhusus pada cerita-cerita menyeramkan. Tentang pembunuhan sadis. Penumpasan tanpa perikemanusiaan. Perebutan dan perampasan harta. Serta (maaf) pemerkosaan perempuan China dan penyunatan paksa pria China di seantero Balaraja dan sekitarnya.

Budaya China Benteng (Ciben) di Tangerang

Rentetan (atau tepatnya) potongan informasi bisa dipetik dari penuturan orang-orang tua dan pinisepuh. Nun di sejumlah lokasi, masih ada artefak (bukti sejarah) atau puing-puing peninggalan yang memperkuat sejarah lisan tentang Gedoran China di Balaraja dan sekitarnya. Boleh dikata, di Balaraja ada sebuah era yang terbilang kelam, berdarah-darah, dan tak boleh terulang. Tepatnya di sekitaran 1945-1946, di masa usia negeri ini masih teramat belia. Sebuah tragedi yang menelan banyak korban di Balaraja—terutama orang-orang keturunan Tionghoa.

Artikel ini tidak untuk mengungkit aib, membuka borok, atau provokasi tak patut. Melainkan mencoba melazimkan sejarah sosial, yang menjadi rona perjalanan Balaraja, di era dulu dan kini. Agar kita tidak dihukum sejarah. Sebagaimana pengingatan dari Sejarawan Dunia, yaitu George Santayana, bahwa Siapa saja yang tak belajar dari sejarah, akan dihukum untuk mengulangi kesalahan yang sama. Sebagai muslim, saya pegang teguh pesan Al Quran, Surat Al Hasyr Ayat 18: hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat (sejarahnya), untuk hari esok…
Pokok lain yang menjadi bantal argumentasi saya, untuk kembali membuka potongan historisitas Balaraja era silam adalah demi meneguhkan identitas bersama. Identitas masyarakat Balaraja yang sama sekali tak kering dan kaya warna. Di sana ada bukti tentang keberagaman warga, tentang daya juang rakyat, tentang syiar Islam, dan kebajikan serta pengetahuan lokal yang teramat berharga untuk dibuang. Sebagai insan yang lahir, besar, tumbuh, dan berproses di Balaraja, saya wajib berikhtiar menggali kembali identitas ke-Balaraja-an. Dengan selengkap dan sepenuh mungkin.

Kembali ke tema awal: Gedoran China. Berikut adalah apa yang pernah saya dengar, saksikan, dan alami di medio 80-an (sewaktu saya masih di Sekolah Dasar). Kisah inilah yang menjadi mozaik (pecahan memori) saya di waktu kecil, membuat penasaran, dan dengan rewel saya tanya kanan kiri, kepada orang yang saya anggap mengetahui dengan persis…

Memori Satu…
Sebuah rumah tua, berfondasi batu, di Desa Parahu, Kecamatan Balaraja, yang menakutkan kami anak-anak kecil. Bangunan itu, konon seperwujudan dengan Gedong Kumpeni masa lalu. Tapi yang membuat bulu kuduk merinding, tak lain adalah sebuah sumur di belakang bangunan itu. Konon banyak orang kesambit, kesurupan, dan melihat hantu di sekitar lokasi itu. Horor makin kuat, manakala disebut-sebut bahwa di sumur itu pernah di-“cemplung”-kan belasan orang-orang China, baik pria atau wanita, tua maupun anak-anak.

Memori Dua…
Tempat lain, tertuju pada banyaknya kuburan China (kini satu dua masih tersisa) di sekitar kampung saya. Bahkan ada semacam makam khusus —kini menjadi Pasar Sentiong. Ungkapan-ungkapan lisan lalu berseliweran, bahwa dulu memang orang-orang China bertebaran begitu banyak di Balaraja dan sekitarnya. Mereka rata-rata the midlle class, kelas menengah yang memegang perputaran ekonomi. Mereka adalah para tauke, saudagar, pengrajin, atau bahkan pencari rente. Hanya karena sebuah peristiwa, mereka lantas terusir, melakukan diaspora (menyebar) ke mana-mana.

Memori Tiga…
Tentang adanya beberapa warga yang menjadi pewaris harta kekayaan dari Orang-Orang China yang perlaya di Balaraja. Tentu mereka kaya raya, lantaran mendapat limpahan tanah atau aset-aset berharga. Namun ada beberapa cara yang berbeda dalam memperoleh “berkah” itu. Ada yang memang merampas paksa, lalu membuat klaim (saat itu, tak ada cerita tentang sertifikat tanah dan semacamnya). Ada pula yang menjadi dewa penolong, dengan menyelamatkan majikan mereka (orang-orang China). Uniknya, hingga hari ini, masih ada pihak yang membuat klaim terbuka tentang “kepemilikan” harta-harta peninggalan para China itu.

Memori Empat…
Tahun 80-an akhir hingga 90-an, Ayah saya adalah Kepala Desa, dan saya kerap main di Balai Desa (Kantor Desa). Suatu hari, saya mendengar ada orang kampung yang melakukan gugatan kepemilikan tanah, dengan mengatasnamakan sebuah keluarga China. Ia tak sekedar gertak sambal, melainkan menunjukkan sejumlah bukti, tentang status tanah di lokasi tertentu, yang milik sah dari keluarga China.

Memori Lima…
Selain sumber-sumber primer yang merangkai jejak China di Balaraja dan tragedi yang menyertainya, juga ada sejumlah sumber sekunder yang kelak saya peroleh. Misalnya melalui teks di buku, berita di Majalah TEMPO edisi 1998 (edisi perdana paska dibredel rezim Orde Baru) atau penelusuran via Internet. Namun dua hal itu saya peroleh belakangan. Sumber lain yang kian memperkuat cerita gedoran China Balaraja itu adalah buku Benny Setiawan, dan buku Ong Hok Ham. (Sumber lain yang saya baca adalah Robert Brib, tentang fenomena Bandit Sosial di Jakarta dan sekitarnya era rovolusi, juga buku Muslim Tionghoa Runtuhnya Republik Bisnis, yang diterbitkan Republika, dan catatan-catatan Rosihan Anwar seputar Suasana Revolusi di Jakarta).

Diantara itu, ada juga “mata rantai” sejarah yang menguatkan keyakinan, bahwa Gedoran China di Balaraja bukan isapan jempol. Tapi faktual! Betapa sering lahir kisah-kisah serupa di daerah lain (termasuk di Sepatan, Teluk Naga, atau juga di Mauk). Artinya, peristiwa Gedoran China sejatinya sudah menjadi memori publik. Hanya kronologi, detil, bukti kasat mata, dan catatan dokumentatifnya agak lemah…

Penelusuran Sejarah
Potongan-potongan informasi ini lalu membentuk sebuah garis sejarah. Pertama, bahwa sesungguhnya tragedi Pembunuhan Massal itu benar-benar terjadi, bahkan beberapa sumber menyebut ribuan orang yang tumpas. Kedua, begitu banyak saksi langsung yang memberi keterangan (meski kini sudah banyak yang wafat). Ketiga, konteks sosiologis saat peristiwa itu terjadi (1945-1946), sangat memungkinkan tragedi berdarah itu meletus.

Keempat, ada sejumlah laporan resmi dari pemerintah pusat (masa kepemimpinan Bung Karno dan Bung Hatta, dan Perdana Menterinya waktu itu adalah Soetan Sjahrir) tentang peristiwa nahas itu. Kelima, reprotase dari Rosihan Anwar (wartawan senior), yang membuat artikel jurnalistik tentang pembuhuan orang-orang China di Balaraja. Dan keenam, ini yang menarik, ternyata ada pelatuk peristiwa, yang menjadi sumber mengapa bencana sosial itu hadir.

Sketsa Sejarah
Sketsa sejarah yang berani saya ungkap tentang latar peristiwa Balaraja Berdarah! itu adalah: pertama, suasana waktu itu begitu mencekam, revolusioner, bergolak, dan tak ada satu kekuatan yang bisa mengamankan situasi. Republik masih muda, sudah punya TKR (Tentara Keamanan Rakyat), tetapi yang bergerak di lapangan adalah “liar”. Satuan-satuan militer yang beroperasi adalah para lasykar, kelompok, gerombolan, dan campur aduk antara orang-orang baik dengan garong, bromocorah, dan pencoleng.

Kedua, ada satu momentum penting, yang sayangnya menempatkan posisi orang-orang China serba salah. Kala itu adalah zaman hancurnya kekuatan Tentara Jepang, disusul oleh baliknya kekuatan Belanda (melalui Tentara NICA). Orang-orang China nyaris tanpa pelindung. Sementara kebencian kaoem republik (rakyat jelata) terhadap Belanda teramat menyala-nyala.

Tak ada garis kompromi, ikut Belanda atau Ikut Republik. Nah, kaum China rupanya tak semua ikut garis republik. Ada beberapa orang yang lalu membentuk milisi (militer sipil, semacam tentara bentukan mereka sendiri), yang bernama Poh Ang Tui (atau Poa Ang Tui?), yang condong ke Belanda. Konon, milisi ini kerap membantu Belanda, dalam penyediaan logistik, alat tempur, maupun peluru.

Tetapi harap diingat bahwa mereka itu hanya segelintir orang (milisi Poh Ang Tui). Sebab pada umumnya kaum China adalah pro republik. Tapi hukum besi sejarah memang kerap menenggelamkan yang banyak, dan menyembulkan yang sedikit. Milisi Poh Ang Tui memantik api, ketika mereka mengibarkan bendera Belanda dan mengganggu rombongan Perdana Menteri Sotan Sjahrir…

Ketiga, kemungkinan munculnya sentimen sosial yang sesungguhnya tak berkaitan langsung dengan perisitawa tragis ini, melainkan menjadi bensin pengobar api. Tentang adanya orang-orang China terdahulu yang menjadi rentenir, bersikap anti sosial, dan hidup ekslusif.

Perpaduan tiga faktor inilah yang meletupkan Balaraja Berdarah! itu.

Hikmah Apa?
Catatan akhir, historia pante rei, sejarah selalu terulang. Tetapi bukan berarti harus terulang. Kaca bening yang bisa kita tatap adalah: urusan toleransi bukan perkara sepele, tak mudah, dan tak bisa selesai sebagai pidato melulu. Masa lalu kita di Balaraja cukup jadi bukti, bahwa ada situasi tertentu yang gampang melecut peristiwa buruk.

Para pihak wajib sadar posisi. Kita, kaum pribumi wajib melihat kesalahan masa lalu yang tak memberi manfaat apa-apa, selain menguarkan kebencian dan kemarahan. Orang tua kita dulu tersulut api cemburu dan prasangka, dan mereka tidak belajar untuk mengikuti (minimal sukses ekonomi China), seperti kegigihan, kerjakeras, hemat, dan pantang menyerah). Sementara saudara kita, kaum Tionghoa, harus juga jujur, bahwa ada kohesi sosial yang tak terlalu rekat, lantaran masih ada perlilaku ekslusif dan asosial diantara mereka…

Artikel ini ditulis oleh: Endi Biaro, pengelola blog: http://www.tangbar.wordpress.com

 

Iklan

9 comments on “Gedoran China di Balaraja (Sebuah Memori Kelam)

    • Benar, peristiwa yang mengerikan terjadi pada 1740, di Batavia, saat VOC yang paranoid, mengira bahwa kaum Tionghoa akan melakukan pemberontakan. Mereka melakukan pembersihan yang keji. Padahal, pemantik api adalah VOC sendiri, yang melakukan perbuatan jahat, menceburkan ke laut para imigran dari Tiongkok. Isu ini jelas membuat para China di Batavia cemas —tetapi tidak berniat melakukan pemberontakan. Banyak bukti sejarah tentang hal ini, termasuk lukisan dari orang Belanda (ada di buku Nusa Jawa Silang Budaya, Dennys Lombard), dan beberapa tulisan dari Onghokham dan Benny Setyiawan. Terima kasih, anda telah mengunjungi blog ini…

  1. salah satu peninggalan dari hasil perebutan warga terhadap cina adalah rumah kakek saya yg terletak di kp kebon kelapa. namun sekarang hanya tinggal kenangan. karena sudah hancur termakan usia. by. ayah arga.
    salam buat bang endi biaro.

  2. -bagaimana cara untuk mengambil alih tanah yg di tinggalkan? Sedangkan di bpn masih atas nama enkong saya tp sertifikat tanah banyak beredar

  3. akarta (SI Online) – Poh An Tui adalah laskar cina kafir Indonesia yang dibentuk oleh penjajah Belanda, mereka membentuk laskar cina kafir untuk setia kepada Belanda. Tugasnya mengambil upeti dari petani-petani pribumi, memeras rakyat pribumi untuk diambil kekayaan dan disetorkan ke Belanda, bahkan mereka akan membunuh kalau ada pribumi yang menantang.

    Demikian diungkapkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab saat pengajian bulanan di Markas FPI, Jl. Petamburan III, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.

    “Silahkan buka dalam sejarahnya, bahwa Poh An Tui telah membunuhi pribumi muslim diberbagai daerah seperti di Pekalongan dan Glodok Jakarta,” ujar Habib Rizieq.

    Dalam sejarahnya, Poh An Tui selalu berkhianat. “Saat Belanda pergi dari Indonesia Poh An Tui ikut Jepang, begitu Jepang hengkang dari Indonesia mereka ikut Partai Komunis Indonesia (PKI). Saat pemberontakan PKI mereka ikut PKI, mereka ikut membunuh para ulama, mereka bunuh kyai, dan mereka bunuh masyarakat pribumi,” kata Habib Rizieq.

    Tidak sampai disitu, Poh An Tui juga melakukan teror di jawa Barat, melakukan penculikan dan pembunuhan. Di tahun 1945, begitu Bung Karno dan Bung Hatta mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia, Poh An Tui di Sumatera Utara berontak. Cina-cina di Medan angkat senjata tidak mau bergabung dengan NKRI. Di wilayah Balaraja Tangerang, Poh An Tui juga berontak tidak mau bergabung dengan NKRI, akhirnya umat Islam marah terjadi perang di Balaraja, berapa banyak laskar cina kafir yang dibunuh oleh masyarakat.

    Poh An Tui juga bersekutu dengan Westerling, tokoh pembantai umat Islam. Saat Westerling telah membantai umat Islam di Makassar, lalu dia lari ke Jakarta dan Jawa Barat dan ia dikejar oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Poh An Tui lah yang membantu meloloskan Westerling melalui Sanfur Ancol Jakarta Utara, dari sana diselundupkan Westerling dilarikan dengan pesawat kecil menuju Singapura.

    “Jadi Cina kafir ini penghianat, Westerling itu pembantai umat Islam Indonesia, 50 ribu umat Islam Makassar dibantai oleh Westerling, teryata Poh An Tui dijaman penjajah Belanda malah membantu Westerling,” ungkap Habib Rizieq.

    Bahkan, Poh An Tui memusuhi sesama Cina yang muslim, jika ada cina masuk Islam mereka aniyaya, jika ada Cina anti belanda maka akan dimusuhi.

    “Namun pertanyaannya, kenapa pemerintah RI tidak memasukkan Poh An Tui dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Kenapa tidak diceritakan, padahal ini adalah fakta sejarah. Kenapa PKI disebut penghianat sedangkan Poh An Tui tidak?,” kata Habib Rizieq.

    “Ini sejarah, tapi tidak ada didalam buku-buku pelajaran sejarah di sekolah? Kenapa disembunyikan? Poh An Tui harus masuk dalam sejarah agar bangsa Indonesia tahu sejauh apa penghiatan orang-orang kafir ini kepada bangsa Indonesia,” tambahnya.

    “Dan sekarang, cina-cina kafir jangan mentang-mentang sudah pada pada kaya raya, sudah menguasai ekonomi, sekarang mau kuasai politik. Mereka merasa dirinya bersih, setia kepada bangsa, nasionalismenya tidak diragukan, omong kosong!” tegas Habib Rizieq.

    Karena itulah, kenapa di zaman Soeharto orang-orang Cina dibatasi, tidak sembarangan jadi pejabat. Karena Soeharto paham kalau mereka sering menghianati Indonesia, mereka telah membantu Belanda, membantu Jepang dan membantu PKI, karena itu mereka dilarang.

    “Soeharto sudah mengambil sikap yang tepat, kerena mereka patut dicurigai, orang-orang kafir ini ingin memecah belah negeri ini,” jelas Habib Rizieq.

    Poh An Tui berbeda dengan Habaib

    Habib Rizieq menegaskan bahwa Poh An Tui itu berbeda dengan para Habaib. “Alhamdulillah para habaib Zuriat Rasul datang ke Indonesia dari hari pertama mereka datang bukan sebagai penjajah, mereka datang sebagai penyebar Islam. Mereka membaur dengan bangsa Indonesia, mereka menikah dengan wanita-wanita Indonesia sampai anak-anak mereka itu yang kita kenal sebagai Wali Songo. Lalu mereka juga menikah dengan anak-anak raja pribumi, kemudian mereka menjadi sultan-sultan Islam yang sangat dicintai bangsa Indonesia,” ungkapnya.

    Dan saat Belanda datang, mereka melakukan perlawanan, tidak ada dari mereka yang membantu Belanda, semuanya melakukan perlawanan. Habaibnya, Ulamanya, seperti Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Umar dimana-mana semua angkat senjata melawan penjajah, jadi tidak ada habaib yang jadi penghianat.

    “Saya sendiri punya ayah, (alm) Sayyid Husein bin Muhammad Syihab dulu pernah ditangkap Belanda. Beliau bekerja di palang merah Belanda bertugas menyiapkan perbekalan, tapi diwaktu-waktu tertentu perbekalan dari gudang Belanda tersebut dikeluarkan ayah saya untuk membantu para gerilyawan, untuk pasukannya KH Noer Ali seorang ulama dari Bekasi yang juga sebagai pahlawan nasional,” cerita Habib Rizieq.

    “Namun pada akhirnya ada penghianat yang membocorkan ke Belanda, lalu ayah saya ditangkap, dari depan pintu rumah diikat dengan tambang diseret menggunakan mobil jeep sampai ke penjara di Kalimalang. Ayah saya kemudian divonis hukuman mati. Begitu akan dieksekusi, pasukan gerilyawan KH Noer Ali datang menyerbu penjara dan akhirnya berhasil membebaskan seluruh tawanan termasuk ayah saya, tapi dalam pelarian beliau ditembak pantatnya namun bisa diselamatkan para gerilyawan, akibat tembakan itu beliau cacat seumur hidup.” tambahnya.

    “Jadi orang tua kami bukan penghianat, mereka berjuang melawan Belanda, ikut membela negara bersama pejuang pribumi. Saya ceritakan itu untuk membuktikan bahwa kami beda tidak seperti Poh An Tui, Habaib itu pejuang di Indonesia,” katanya.

    “Jadi jangan coba-coba, orang seperti Ahok dan yang mendukung Ahok ingin membesar-besarkan jasa cina kafir di Indonesia. Dalam sejarahnya mereka itu penghianat, mereka yang membantai pribumi, mereka yang merusak Islam dan sekarang mau bicara soal kebangsaan, mau bicara nasionalisme. Kami habaib bukan hanya bicara tapi dari dahulu sampai saat ini kami sudah buktikan bahwa kami cinta agama dan bangsa ini dan kami tidak akan bergeser dari itu semua,” pungkas Habib Rizieq

    red: adhila

    • Iya, saya juga pernah membaca beberapa sumber tentang Poh An Tui. Tetapi paling tidak ada juga perspektif yang berbeda. Misalnya, bahwa pilihan mereka selalu ikut pihak yang menang juga adalah soal mekanisme survive. Mereka bergumul dalam suasana revolusioner, serba tak terjamin, gamang mengambil pilihan. Saya setuju tabir Poh An Tui dibuka, tapi tidak untuk dibabat. Mestinya itu pintu untuk belajar (untuk keturunan China, juga untuk kita, sesama Muslim). Bagaimanapun negeri ini dibentuk dan diraut oleh pelbagai hal. Kita tak mungkin besar dengan memutilasi kekuatan lain, melainkan kolaborasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s