“Kesaktian” dan Perdukunan di Balaraja (Cerita Kenangan)

Cerita ini sepenuhnya pengalaman pribadi penulis. Tidak untuk promosi, provokasi, apalagi imitiasi (sebab saya tak percaya dukun, dan tak ingin jadi dukun). Dukun yang saya suka adalah: Dedi Dhukun, atau Alam, yang melantunkan Mbah Dukun…

Belum lama ini, keponakan saya, Kiki, tertusuk paku. Ke dokter? Tidak. Ia pergi ke seorang perempuan sepuh. Berobat. Dibuatkan ramuan macam-macam (tetapi paling dominan, bahannya terdiri dari terasi, garam, cabai). Bahan-bahan itu diulek sampai halus. Lalu dibalur ke bagian yang terluka. Disertai dengan jompa-jampi, tentu saja. Dan… Alhamdulillah, atas izin Allah, keponakan saya sembuh. Tak lagi meringis. Suhu tubuhnya yang sebelumnya panas, sontak turun.

Itu petikan contoh kecil. Tapi bukan karangan, melainkan faktual. Sungguh, saya pun dulu melakukan hal yang sama —jika tercucuk paku atau benda tajam lain di bagian telapak kaki, seperti oleh duri, pecahan kaca, atau serpihan kayu dan bambu. Kami tidak ke dokter. Untuk kasus saya dulu, memang dalam rangka menghemat uang. Tahulah, ke dokter pasti lebih mahal tinimbang sekedar uang terima kasih ke dukun desa.

Singkat kata, masih ada praktek perdukunan di Balaraja bahkan hingga detik ini

Tetapi buang jauh-jauh bayangan bahwa “perdukunan” itu melulu gaib, mistis, ada jin ada siluman, dan ada asap mengepul dari dupa kemenyan. Sebab sejatinya, praktek perdukunan juga bermacam-macam.

Ada dukun pengobatan (mengobati orang yang tertusuk paku, mengobati orang yang dipatuk ular, mengobati orang kesurupan, dll). Ada juga dukun pawang tadah hujan —yang ini biasanya disewa orang yang mau hajatan, agat tetamu tidak menjingjing payung lantaran diguyur air dari langit). Terus, ada pula dukun urut, memijat badan pegel atau meluruskan tulang patah. Kelompok ini, adalah praktek perdukunan yang relatif wajar… Kagak pake kemenyan.

Nah, berikut kategori dukun yang “di luar normal”, alias paranormal

Pertama, dukun ramal. Ramal nasib. Ramal kode buntut. Ramal pemenang Sepakbola. Ramal hari peruntungan, dan pelbagai ramalan lain. Di Balaraja, jika dijejer, jumlah dukun ramal bisa mencapai panjang ratusan meter (saking banyak). Dulu, “obyekan” mereka terbatas saja. Misalnya seorang Bapak yang konsultasi tentang nama terbaik untuk anak mereka, hari bagus untuk pesta nikah, atau sekedar mau memulai panen. Kini, “pasien” dukun ramal tambah banyak. Sebab, dikit-dikit orang minta “diterawang” untuk berbagai soal. Mulai dari terawangan bisnis, jual beli tanah, sampai ke perkara Liga Spanyol, Liga Champions, dan siapa juara Eropa?

Ada satu istilah dari dunia dukun ramal ini, yaitu naptu, yang maksudnya metode penghitungan hari, tanda-tanda khusus, nama, dan sebagainya, yang dikaitkan dengan permintaan ramalan tertentu. Istilah lain yang lekat dengan ramalan adalah naga. Ya, naga. Maksudnya, jika naga menghadap ke selatan (versi tukang ramal), maka hasilnya akan menjadi a, b,c, dan d. Begitulah…

Kedua, dukun pelet. Tak perlu dijelaskan, Anda semua mahfum. Terutama bagi mereka yang bernasib apes —kenyang ditolak perempuan. Di Balaraja, tenar sejumlah ajaran pelet. Ada pelet Semar Mesem (dari sebilah keris kecil, yang dibagian gagangnya berbentuk kepala semar tersenyum). Pelet lainnya yang populer adalah berbentuk wapak (sejenis ajimat, dari kain putih, digulung, untuk membungkus benda tertentu, bisa bacaan mantera, bisa juga batu akik). Dulu, hampir semua kawan sepergaulan saya mengaku pernah berurusan dengan dukun pelet. Kalau saya… he..he.. belum. Dukun pelet disebut juga dukun pengasihan.

Ketiga dukun, ya, cuma dukun. Atau kita sebut saja dukun sakti mandraguna. Mereka adalah sejenis dukun yang serba bisa. Diminta tolong ngusir kuntilanak, bisa. Disuruh memanggil arwah, bisa. Apalagi kalau cuma urusan menyembuhkan orang kesurupan dan setengah gila, pasti bisa. Konon, dukun sakti mandraguna ini pun hebat pula dalam urusan mendatangkan rezeki dan kekayaan (anehnya, si dukun sendiri, belum tentu kaya).

Keempat, dukun palsu. Jenis ini, sumpah, buanyak bangeeet. Jangan-jangan salah satu dari pembaca adalah dukun palsu juga.

Kelima, dukun politik. Terus terang, kategori yang terakhir ini sesungguhnya sudah lama ada, namun melesat bak meteor belum lama ini. Persis di zaman demokrasi Pilkada. Mereka yang beruntung dipercaya menjadi dukun politik, bisa dipastikan hidupnya berubah. Tidak lagi pegang tasbih atau zimat, tapi Blackberry atau Gadget canggih. Pasien yang datang bukan kakek jompo yang bernafas senin kamis, tetapi orang-orang kaya yang ikutan Pilkada.

Pergantian Istilah Dukun

Namun saat ini terjadi perkembangan yang entah harus disebut positif atau negatif. Ada proses peyorasi, penghalusan kata (seperti proses penghalusan istilah kelaparan yang diganti kata kekurangan pangan). Kini ramai-ramai orang menyebut para dukun sebagai pengamal hikmah. Ilmu perdukunan diganti menjadi ilmu hikmah. Orang yang merapal jampi-jampi, entah dengan wiridan atau dengan tidur di kuburan, disebut memiliki hikmah. Dan kerapkalai sebutan itu tak ada sangkut pautnya dengan makna hikmah dalam kaidah ke-Islam-an. Dalam Islam, hikmah adalah kebijaksanaan. Hikmah adalah olah pikir dan kedalaman dalam tafakur (setelah merenungkan fenomena tertentu). Hikmah adalah saripati ilmu.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s