Gedoran China di Balaraja (Sebuah Memori Kelam)

Meski lapat nan samar, pecahan kisah tentang China di Balaraja cukup sering terdengar. Pelbagai sumber kerap membuka informasi dengan aneka versi. Terkhusus pada cerita-cerita menyeramkan. Tentang pembunuhan sadis. Penumpasan tanpa perikemanusiaan. Perebutan dan perampasan harta. Serta (maaf) pemerkosaan perempuan China dan penyunatan paksa pria China di seantero Balaraja dan sekitarnya.

Baca lebih lanjut

Iklan

Campur Mokla, Budaya Balaraja

Main dengan lawan jenis, “Campur Mokla” larang Karuhun Balaraja

 

Gaya anak muda saat ini sudah luar biasa dasyatnya. Lihat saja cara mereka berpakaian, berdandan dan berkendaraan. Gaya zet set seleb Tv menjadi mind set mereka. Tak ketinggalan anak muda Balaraja.

Sebagai mengingat saja. Gaya pergaulan anak muda-mudi tempoe doeloe. Karuhun Balaraja memberi pepatah dan pepitih yang hampir dilupakan generasi kini. “Campur Mokla…!”

Mokla itu darah jadi “Campur Mokla” berarti campur darah. Silokanya, pergaulan laki-laki dan perempuan yang tanpa batas menyebabkan bersatunya darah anak laki-laki dengan perempuan. Mengenai jabaran darah kagak perlu dibahas kalie….

Sangat tidak diperbolehkan anak laki main dengan anak perempuan, katanya: “Jangan nanti campur mokla…!” Dalam benak anak-anak (kami) waktu itu jika main dengan anak perempuan selalu dibayangi monster “Campur Mokla…”

Pembelajaran  tidak langsung orang tua memberikan implisitas bahwa pekerjaan ini, TABU…! Laiknya, Jangan berdiri di tengah pintu, jauh jodoh (padahal: menghalangi jalan). Jangan duduk di atas  meja, banyak hutang (padahal: tak elok dilihat) dan lain-lain (entar kita bahas di  “Tabu-Tabu Karuhun Balaraja”).

Ajaran Tetabuan yang didogmakan para karuhun ini sekarang sudah banyak disebodoin, alasannya KOLOT atawa KUNO. Apriori lainnya, menciptakan anak kurang berani, mengajari anak berbohong, mencla-mencle, dan watak negasi lainnya.

Kebaikan ajaran tetabuan ini, ternyata ampuh di zamannya. Sebagai pedoman otomatis tatagaul laki-perempuan dalam membentengi freesex, samen lapen, apalagi sex party. Locals wisdom, ternyata memberi banyak manfaat bagi laku lampah zaman kiwari.***(AR)

“Kesaktian” dan Perdukunan di Balaraja (Cerita Kenangan)

Cerita ini sepenuhnya pengalaman pribadi penulis. Tidak untuk promosi, provokasi, apalagi imitiasi (sebab saya tak percaya dukun, dan tak ingin jadi dukun). Dukun yang saya suka adalah: Dedi Dhukun, atau Alam, yang melantunkan Mbah Dukun…

Belum lama ini, keponakan saya, Kiki, tertusuk paku. Ke dokter? Tidak. Ia pergi ke seorang perempuan sepuh. Berobat. Dibuatkan ramuan macam-macam (tetapi paling dominan, bahannya terdiri dari terasi, garam, cabai). Bahan-bahan itu diulek sampai halus. Lalu dibalur ke bagian yang terluka. Disertai dengan jompa-jampi, tentu saja. Dan… Alhamdulillah, atas izin Allah, keponakan saya sembuh. Tak lagi meringis. Suhu tubuhnya yang sebelumnya panas, sontak turun.

Itu petikan contoh kecil. Tapi bukan karangan, melainkan faktual. Sungguh, saya pun dulu melakukan hal yang sama —jika tercucuk paku atau benda tajam lain di bagian telapak kaki, seperti oleh duri, pecahan kaca, atau serpihan kayu dan bambu. Kami tidak ke dokter. Untuk kasus saya dulu, memang dalam rangka menghemat uang. Tahulah, ke dokter pasti lebih mahal tinimbang sekedar uang terima kasih ke dukun desa.

Singkat kata, masih ada praktek perdukunan di Balaraja bahkan hingga detik ini

Tetapi buang jauh-jauh bayangan bahwa “perdukunan” itu melulu gaib, mistis, ada jin ada siluman, dan ada asap mengepul dari dupa kemenyan. Sebab sejatinya, praktek perdukunan juga bermacam-macam.

Ada dukun pengobatan (mengobati orang yang tertusuk paku, mengobati orang yang dipatuk ular, mengobati orang kesurupan, dll). Ada juga dukun pawang tadah hujan —yang ini biasanya disewa orang yang mau hajatan, agat tetamu tidak menjingjing payung lantaran diguyur air dari langit). Terus, ada pula dukun urut, memijat badan pegel atau meluruskan tulang patah. Kelompok ini, adalah praktek perdukunan yang relatif wajar… Kagak pake kemenyan.

Nah, berikut kategori dukun yang “di luar normal”, alias paranormal

Pertama, dukun ramal. Ramal nasib. Ramal kode buntut. Ramal pemenang Sepakbola. Ramal hari peruntungan, dan pelbagai ramalan lain. Di Balaraja, jika dijejer, jumlah dukun ramal bisa mencapai panjang ratusan meter (saking banyak). Dulu, “obyekan” mereka terbatas saja. Misalnya seorang Bapak yang konsultasi tentang nama terbaik untuk anak mereka, hari bagus untuk pesta nikah, atau sekedar mau memulai panen. Kini, “pasien” dukun ramal tambah banyak. Sebab, dikit-dikit orang minta “diterawang” untuk berbagai soal. Mulai dari terawangan bisnis, jual beli tanah, sampai ke perkara Liga Spanyol, Liga Champions, dan siapa juara Eropa?

Ada satu istilah dari dunia dukun ramal ini, yaitu naptu, yang maksudnya metode penghitungan hari, tanda-tanda khusus, nama, dan sebagainya, yang dikaitkan dengan permintaan ramalan tertentu. Istilah lain yang lekat dengan ramalan adalah naga. Ya, naga. Maksudnya, jika naga menghadap ke selatan (versi tukang ramal), maka hasilnya akan menjadi a, b,c, dan d. Begitulah…

Kedua, dukun pelet. Tak perlu dijelaskan, Anda semua mahfum. Terutama bagi mereka yang bernasib apes —kenyang ditolak perempuan. Di Balaraja, tenar sejumlah ajaran pelet. Ada pelet Semar Mesem (dari sebilah keris kecil, yang dibagian gagangnya berbentuk kepala semar tersenyum). Pelet lainnya yang populer adalah berbentuk wapak (sejenis ajimat, dari kain putih, digulung, untuk membungkus benda tertentu, bisa bacaan mantera, bisa juga batu akik). Dulu, hampir semua kawan sepergaulan saya mengaku pernah berurusan dengan dukun pelet. Kalau saya… he..he.. belum. Dukun pelet disebut juga dukun pengasihan.

Ketiga dukun, ya, cuma dukun. Atau kita sebut saja dukun sakti mandraguna. Mereka adalah sejenis dukun yang serba bisa. Diminta tolong ngusir kuntilanak, bisa. Disuruh memanggil arwah, bisa. Apalagi kalau cuma urusan menyembuhkan orang kesurupan dan setengah gila, pasti bisa. Konon, dukun sakti mandraguna ini pun hebat pula dalam urusan mendatangkan rezeki dan kekayaan (anehnya, si dukun sendiri, belum tentu kaya).

Keempat, dukun palsu. Jenis ini, sumpah, buanyak bangeeet. Jangan-jangan salah satu dari pembaca adalah dukun palsu juga.

Kelima, dukun politik. Terus terang, kategori yang terakhir ini sesungguhnya sudah lama ada, namun melesat bak meteor belum lama ini. Persis di zaman demokrasi Pilkada. Mereka yang beruntung dipercaya menjadi dukun politik, bisa dipastikan hidupnya berubah. Tidak lagi pegang tasbih atau zimat, tapi Blackberry atau Gadget canggih. Pasien yang datang bukan kakek jompo yang bernafas senin kamis, tetapi orang-orang kaya yang ikutan Pilkada.

Pergantian Istilah Dukun

Namun saat ini terjadi perkembangan yang entah harus disebut positif atau negatif. Ada proses peyorasi, penghalusan kata (seperti proses penghalusan istilah kelaparan yang diganti kata kekurangan pangan). Kini ramai-ramai orang menyebut para dukun sebagai pengamal hikmah. Ilmu perdukunan diganti menjadi ilmu hikmah. Orang yang merapal jampi-jampi, entah dengan wiridan atau dengan tidur di kuburan, disebut memiliki hikmah. Dan kerapkalai sebutan itu tak ada sangkut pautnya dengan makna hikmah dalam kaidah ke-Islam-an. Dalam Islam, hikmah adalah kebijaksanaan. Hikmah adalah olah pikir dan kedalaman dalam tafakur (setelah merenungkan fenomena tertentu). Hikmah adalah saripati ilmu.

 

 

“Gaya Hidup” Orang Kaya di Balaraja Zaman Baheula…

Tulisan kenangan era 70, 80, dan 90-an…

Setrika “Burung” Tempoe Doeloe

Ukuran kekayaan zaman bareto tak jauh dari ini: punya kerbau banyak, rumah banyak, tanah atau sawah banyak, dan sekaligus… bini banyak! Di zaman kumpeni itu, orang kaya tak pernah mau ribet (terutama di sekitar Balaraja dan sekitarnya).

Jangan harap mereka tertarik beli TV, kulkas, mesin cuci, AC pendingin, gadget, dan HP Blackberry. Karena memang belum ada… Lagipula, mengingat “tarap pendidikan” orang dulu masih pas-pasan, bisa-bisa seluruh peralatan canggih itu jadi salah fungsi. HP Blackberry dipakai ganjal pintu, Kulkas untuk menaruh pakaian yang sudah disetrika…

Bagaimana dengan mobil? Setahu saya, mobil masih jaraaaaaannnggg banget (mobil di kenal akhir 70-an saja, dan hanya orang tertentu yang punya). Cukuplah dengan sado, delman, bendi, dokar, atau apalah sebutannya. Sebuah kendaraan khas, ditarik kuda (ditarik janda muda juga boleh, asal siap ngos-ngosan).

Orang-orang kaya tempo doeloe punya hobi yang biasa-biasa saja. Ke sawah. Ngopi. Plus udud (rokok). Ke Mushola, dan… tidur. Kalaupun ada yang bengal, paling-paling juga nyabung ayam, pasang dadu (judi koprok), dan celingak-celinguk nyari tetangga seksi (dulu tak ada istilah cewek seksi, yang ada adalah “mojang parigel”).

Dari Mana Asal Kekayaan Mereka?

Sumber-sumber kekayaan orang-orang Balaraja Zaman duluuuu banget itu tak rumit-rumit amat. Maklumlah, waktu itu belum ada orang Balaraja yang main valas, tanam duit di Bursa Efek, atau kaya mendadak karena jadi Anggota DPR.

Harap percaya: saat itu juga belum ada orang Balaraja yang punya duit segunung karena “jago main limbah”. Artinya, usaha mereka untuk mencari kekayaan benar-benar murni. Mungkin, satu dua ada yang mencari kekayaan dengan jalan gelap: misalnya pergi ke Gunung Kawi, mencuri, atau niup lilin sampai pagi (seperti di film atau sinetron tuyul).

Yang jelas, usaha untuk jadi kaya berbekal pada kekuatan, keberanian, dan tentu saja izin Tuhan (sekuat apapun mereka berusaha, kalau Allah tak berkehendak, ya, teuteup aja cuma segitu…).

Tak heran, hanya orang-orang jago dan berpengaruh yang bisa kaya. Seperti: Jawara, Kyai, Centeng, Lurah, dan Pedagang. Tak seperti saat ini, bisa kaya karena korupsi…

 

Bagaimana Menghabiskan Uang?

Cara cepat menghabiskan uang apalagi kalau bukan dibakar atau dikubur? Tapi, tak ada cerita tentang orang kaya sinting yang melakukan hal itu di Balaraja Tempo Doeloe. Berhubung waktu itu belum ada Mall, belum ada Karaoke dan Tempat Dugem, tentu mereka cari cara sendiri untuk berpoya-poya. Paling jelas tentu memelihara Sinden (penyanyi, penari di pertunjukan Jaipong). Artis dangdut belum ada, jadi belum ada saweran di panggung dangdutan.

Kalau tak hobi yang begituan, paling-paling kawin lagi, kawin lari, dan kawin siri (eh, istilah kawin siri baru dikenal sekarang, ding). Tapi menurut cerita, memang cara paling cepat menguras kekayaan orang-orang tajir di masa itu adalah berjudi. Judi sabung ayam, judi koprok (dadu), judi kartu, dan judi bola pun sudah ada.

Atau, ada lagi cara lain yang bisa menyedut pundi-pundi duit orang-orang kaya tempoe doeloe. Cara ini agak lambat, tapi sering terjadi. Konon, kekayaan orang-orang kaya zaman itu sering kali habis ludes karena kelakuan anak-anak mereka.

 

Cara Unik Orang Kaya

Beberapa keunikan dan cara khas, biasa dilakukan oleh orang-orang kaya di Balaraja zaman baheula. Untuk menghitung ukuran tanah yang dimiliki, mereka tidak membawa alat meteran, melainkan cukup melempar batu sejauh mungkin. Nah, dilokasi batu jatuh itulah batas-batas tanah mereka. Atau, untuk memberi batas di sebelah utara, selatan, timur dan barat, mereka tidak membuat patok (sebagaimana lazimnya saat ini).

Tetapi cukup dengan mengatakan: di sebelah utara, batas tanah saya adalah kuburan…

Di sebelah selatan, batas tanah saya adalah sumur tua…

Di sebelah barat, batas tanah saya adalah pohon beringin…

Di sebelah timur, batas tanah saya adalah sungai…

Nah, kalau begini, bagaimana menghitung ukuran pasti luas sawah mereka? Ada istilah lain, tentang betapa luasnya tanah yang dimiliki orang-orang kaya dulu. Dengan sebuah sebutan: luas tanah saya adalah sepanjang mata memandang…

Begitu juga dengan cara mengukur umur. Maka petugas sensus sering puyeng. Bagaimana tidak? Ketika ditanya berapa umur anak Anda? maka orang yang ditanya menjawab ringan: Anak saya lahir persis berbarengan dengan ditanamnya pohon kelapa itu (sambil jemarinya menunjuk sebuah pohon kelapa yang sudah tinggi di depan rumah).

Berikutnya, kami akan turunkan kembali tulisan lain tentang Orang-Orang Kaya di Balaraja…

 

Kamus “Lieur” Sunda Balaraja

Berikut ini beberapa lema (kata, istilah) yang populer dalam bahasa ujaran dan komunikasi sehari-hari di Balaraja dan sekitarnya, medio 80-90-an. Beberapa diantaranya sudah menghilang, makanya dihidupkan kembali.

Dulu, persawahan hijau seperti ini bertebaran di Balaraja. Kini? Tak ada lagi…

 

Pungkal: adalah sejenis gundukan tanah yang biasanya ada di pinggiran sawah, dan hanya ada di musim kemarau.

Ceumpal: maksudnya melempar sampai jauh.

Hinis: artinya adalah sembilu (potongan tipis pada kulit bambu,yang dibuat untuk menyayat sesuatu).

Salang: tempat untuk menyimpan lauk-pauk, dengan cara digantung, untuk menghindari jangkauan kucing.

Godag: tempat menyimpan gabah yang dibuat dari bambu (dianyam), tetapi dengan ukuran super besar (berfungsi sebagai lumbung padi).

Hampo: sejenis batuan cadas yang terdapat di pinggir kali, lalu dibakar, dipanggang, dengan aroma wangi (bagi orang tua zaman dulu), dan dimakan.

Berikutnya kami lanjutkan, mudah-mudahan masih bisa ingat…

….

….

KPU Kab. Tangerang Tetapkan Empat Pasang Calon

Sumber: TangerangNews.com

20 Oktober 2012

TANGERANG-KPU Kabupaten Tangerang memutuskan yang berhak maju dalam pencalonan Bupati dan Wakil Bupati Tangerang empat pasang calon. Sedangkan satu pasang calon, yakni dari jalur independen (perseorangan) gugur dengan alasan kurang memenuhi persyaratan dukungan.

Itu semua dikatakan oleh Badrusalam, Pengarah Pencalonan KPU Kabupaten Tangerang saat dihubungi TangerangNews.com Jumat (19/10) sekitar pukul 24.00 WIB.

“Untuk itu, besok keempat pasang calon tersebut akan kami undang untuk mengikuti pengambilan nomor urut di Country Club, Imperial Lippo, Karawaci pukul 14.00 sampai dengan selesai,” ujar Badrusalam.

Ditanya mengapa begitu tertutup memutuskan pasangan calon, apalagi mudur dari pukul 13.00 WIB menjadi pukul 20.00 hingga baru selesai pukul 23.00 WIB, Badrusalam mengatakan, karena ada perdebatan.
“Ya mohon maaf, memang jadwal awal pukul 13.00 WIB, tetapi secara internal kami sudah ralat jadwal dari pukul 13.00 menjadi pukul 20.00. Dan, baru jam 23.00 selesai, itu karena memang ada pembahasan panjang soal pandangan anggota komisioner (KPU) terhadap dukungan kepada Aden Abdul Khaliq-Suryana,” ujarnya.

Kenapa diralat jadwal dari pukul 13.00 menjadi pukul 20.00, alasannya karena beberapa anggota KPU saat itu masih melakukan sosialisasi dan ada juga yang menjadi pembicara dibeberapa acara.

“Sedangkan sejak 20.00 WIB. Memang ada beberapa pemaparan terkait dukungan soal PPNUI. Kami ada bahasan panjang dan masing-masing mengungkapkan pandangannnya, dan berkeyakinan itu sudah sesuai. Semua anggota KPU berpandangan sama,” katanya.

Ditanya soal calon independen, Barusalam mengatakan, pihaknya pada Kamis (19/10) juga telah menetapkan, pasangan Syaiful Hidayat-Een Nurhaeni tidak memenuhi persyaratan. “Syarat paling sedikit dukungan seharusnya 8.8564 kartu tanda penduduk (KTP). Tapi dia hanya mampu 6.066 dukungan KTP,” terangnya.

Usai rapat penetapan calon, KPU langsung membuat membuat pemberitahuan kepada masing-masing calon yang melakukan pendaftaran . “Pemberitahuan selain kepada keempat yang lolos, juga kepada yang gugur pun sama. Hanya bedanya pembertahuannya berisi memberitahukan kalau tidak memenuhi persyaratan,” terangnya.

Sejarah Balaraja: Dipimpin Seorang Demang…

Sumber: FesbukBantenNews.com

Ibukota Pemerintahan Daerah Kabupaten Tangerang secara History pernah berkedudukan di Balaraja, ketika Bupati ke-3 s.d. ke-7, yaitu R. Achyad Penna (1945); K.H. Abdulhadi (Juli 1946); R. Djajarukmantara (1947); dan R. Achyad Penna (1948-1949). Setelah itu kembali lagi ke kota Tangerang.

Ilustasi Demang Mesteer, dalam Film Si Pitoeng. Konon, Balaraja era silam pernah dipimpin seorang Demang.

Berdasarkan Staatblad van het Nederlands Indie thn. 1918 No. 185 ditetapkan sebagai Kontroleur Afdeeling yang terdiri dari 3 distrik kemudian disebut kewedanaan, yakni Distrik Tangerang, Distrik Belaraja (Blaraja) dan Mauk. Pemegang birokrasi tertinggi itu Kontroleur, seorang Belanda membawahi 3 kewedanaan. Sementara golongan tertinggi untuk Bumi Putera itu Wedana (Demang) dan Kepala Jaksa. Adapun jabatan Demang baru ada pada tahun 1881, pada tahun 1907 diganti menjadi wedana.

Pejabat Distrik Blaraja tersebut adalah:
1. Rangga Jaban Abdoel Moehi (17 Maret 1881-1907)
2. Mas Martomi Abdoelharjo (17 Juli 1907-1910)
3. Soeid bin Soeoed (31 Oktober 1910-1924)
4. R. Soeria Adilaga (22 Mei 1924-1925)
5. R. Abas Soeria Nata Atmadja (26 Februari 1925-1925)
6. R. Kandoeroen sastra Negara (28 November 1925-1928)
7. R. Achmad Wirahadi Koesoemah (11 Mei 1928-1930)
8. Mas Sutadiwirja (27 Oktober 1930-1932)
9. R. Momod Tisna Wijaya (28 Mei 1932 – …….)
10. Toebagoes Bakri (1 Februari 1934-1935)
11. R. Moehamad Tabri Danoe Saputra (20 Juni 1935-1940)
12. Mas Moehamad Hapid Wiradinata (17 Juni 1940-…..)

Dalam perjalanan ini Afdeling Tangerang di bawah Residensi Batavia. Baru berdasarkan Osamu Serei No. 34 pada Tanggal 27 Desember 1943. Tangerang menjadi Kabupaten lepas dari Batavia. Kedudukan ini tetap tidak berubah sampai Indonesia Merdeka.

Tahukah Anda dimanakah Distrik Balaraja itu, leubah-leubahna? Hal ini bisa kita tinjau dari Tanah partikelirnya, a.l. :
Antjol Victoria of Daroe, Antjol Pasir, Blaradja en Boeniajoe, Tigaraksa, Tjikoeja, Karangserang Dalem of Kemiri, Pasilian, Djenggati, Tjakoeng of Kresek.

Sejarah Balaraja: Utusan Tiga Kerajaan, Cirebon, Banten, dan Sumedang Larang

Sumber: Balarajaohbalaraja.wordpress.com
Balaraja di bangun pada tahun 12 saka oleh Raden Sahid Sanjaya atas perintah dari Raden Cakra Buana dari Kerajaan Banten.
Balaraja dibangun untuk tempat persinggahan, pekan dan peristirahatan para utusan dari 3 kerajaan yaitu Banten, Cirebon dan Sumedang Larang.

Sejarah Balaraja: Raja dan Gadis Pujaan

Berikut kami sampaikan beberapa artikel versi online tentang Sejarah Balaraja. Butuh riset mendalam untuk memastikan versi mana yang benar. Saat ini kami hanya bisa menyampaikan informasi bebas kepada Anda, para pembaca. Selamat menelusuri…

Sumber: oncepsajalah.blogspot.com

Ilustrasi Puteri Raja. Konon, dalam Sejarah Balaraja, ada kisah seorang raja yang mengejar-ngejar puteri cantik

Balaraja diambil dari dua kata Bale ( tempat istirahat yang punya ukuran lebih kecil dari rumah biasnya berbetuk panggung ) dan Raja ( penguasa suatu wilayah ) jadi Baleraja secara harfiah berarti tempat yang digunakan oleh Raja untuk beristirahat.

Bagi masyarakat sekitar tempat tersebut dianggap sebagai sebuah tempat yang dikhusus bagi Keluarga Kerajaan. Saat Raja dari Kesultanan Banten mengadakan perjalanan dari Banten ke Cirebon ataupun dari Banten ke Batavia. Sebuah tempat disekitaran kampung Telagasari, sering dijadikan untuk tempat beristirahat sekedar melepas lelah. Suasana kampung yang asri dengan aliran Sungai Cimanceuri berada di pinggir kampung.

Penduduk setempat hidup dalam kebersahajaan dan serba kecukupan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mengandalkan pertanian. Sebagai kampung yang sering di lalui para penduduk dari berbagai daerah. Maka wilayah tersebut sudah ramai dan di kenal oleh banyak penduduk dari daerah lain.Saat Raja sedang mengadakan perjalanan pulang menuju kesultanan yang berada di Banten. Dalam suasana istirahat Sang Raja memerintahkkan para pengawalnya untuk membuat sebuah bale yang jaraknya tidak jauh dari Sungai Cimanceuri dan jalan raya. Di tengah asiknya istirahat, seorang gadis desa melintas di jalan. Raja melihat gadis tersebut dan pada saat itu Sang Raja terpikat karena keanggunan gadis yang melintas di jalan yang tidak jauh dari bale tempat Raja beristirahat.

Sang Raja kemudian mengutus pengawalnya untuk mengikuti gadis desa yang melintas tersebut. Beberapa saat pengawalnya kembali dan memberikan laporan informasi kepada Sang Raja. Sesaat Sang Raja tertegun karena gadis yang melintas tersebut sudah punya kekasih dan akan berencana dinikahkan oleh orang tua gadis itu. Setelah laporannya sudah selesai disampaikan kepada Raja. Maka naluri kelelakian Raja, merasa tersentuh dan tetantangan untuk mendapatkan seorang gadis. Perasaan sadarnya Sang Raja tidak memiliki waktu lama, beberapa hari Sang Raja akhirnya memutuskan untuk tinggal di bale tersebut. Hingga ia bisa mewujudkan niatnya untuk menikahi dan menjadikan gadis tersebut sebagai Selir. Dengan berbagai strategi singkat untuk mendapatkan gadis itu akhirnya sangraja lebih memilih persaingan sebagai seorang laki-laki untuk mendapatkan gadis yang diinginkannya.

Demi mendapatkan gadis yang diidamkan. Kerajaan sesaat ditinggalkan, strategi perang digunakan untuk menaklukan gadis pujaan. Benar saja penggunaan strategi yang pas, dengan taktik yang cerdas menghasilkan sebuah tujuan yang diinginkan. Pemuda desa yang menjadi kekasih sang gadis ternyata tidak cukup mampu untuk bisa bersaing mendapatkan pujaan hatinya melawan Sang Raja. Seperti dalam kisah lainnya Sang Raja menjadi pemenang. Kemudian sebagai bukti kemenangannya, tidak lama berselang Sang Raja menikahi gadis tersebut dan menjadikannya selir. Hasil pernikahannya dengan selir, Sang Raja mendapatkan satu anak laki-laki. Setelah semuanya sudah menjadi pasti dan gadis tersebut sudah dijadikan Selir. Cerita tentang cikal bakal salah satu penamaan Balaraja berakhir.

Sang Raja mengembalikan bale sesuai fungsinya kembali, sebagai sebuah tempat untuk istirahat sekedar singgah atau melepaskan lelah setelah lama berjalan. Hingga saat bale tersebut hancur karena termakan oleh waktu, hanya sebuah cerita yang ditinggalkan.Kisah-kisah selanjutnya yakni menyangkut anak dari Selir Raja, sudah tidak lagi ada yang menceritakan. Hanya bekas makam yang berada di Desa Bunar yang dipercaya oleh masyarakat akan keterkaitan antara makam dan penamaan cerita tentang cikal bakal nama Balaraja. Desa Bunar yang sebagian besar masyarakatnya percaya bahwa di desanya ada makam dari Keluarga Kerajaan. Masyarakat tidak mengetahui kelanjutan dari keturunan cerita tersebut. Siapa saja yang jadi keturunannya atau malah cerita tersebut selesai saat anak laki-laki dari Selir Sang Raja meninggal pada masa kanak-kanak.

Versi 2Mengenai sejarah lisan kapan Kecamatan Balaraja diberikan Nama Balaraja, sebagian besar masyarakat tidak mengetahui dengan persis akan kisah tersebut. Kebiasaan masyarakat yang tidak asing dengan tradisi lisan, hampir setiap orang tua pernah mendengar kisah tantang Balaraja. Setiap cerita yang diutarakan kebanyakan menunjuk pada sebuah tempat yang berbeda antara si pencerita yang satu dengan si pencerita yang lain. Garis besar dalam cerita tersebut akhirnya yang saya jadikan kesimpulan.Istilah Balaraja diambil dari dua kata yakni bala (pasukan) dan Raja (orang yang berkuasa pada satu wilayah). Kisah ini terkait dengan pembentukan Nama Tigaraksa. Suatu kitika saat tiga penguasa dari tanah Sunda yakni Banten, Sumedang dan Cirebon mengadakan pertemuan untuk pembagian wilayah teritorial kerajaan bertempat di desa Kaduagung (salah satu desa dikecamatan Tigaraksa sekarang). Mengingat khususnya pertemuan tersebut, masing-masing Raja akhirnya hanya boleh membawa beberapa pengawalnya yang ikut serta dalam pertemuan tersbut.Sebagai sebuah pertemuan yang penting, para pasukan yang ikut mengawal Sang Raja akhirnya dikumpulkan dalam satu wilayah (camp). Karena banyaknya bala tentara dari berbagai kerajaan berkumpul menjadi satu, secara otomatis masyarakat yang berada di sekitar daerah tersebut menganggap kejadian tersebut sebagai sebuah kejadian yang aneh.

Kekhawatiran masyarakat menjadi besar setelah tahu kalau para pasukan yang berkumpul tersebut adalah pasukan dari berbagai kerajaan yang sedang mengadakan pertemuan di Kaduagung. Kekhawatiran terjadi pertempuranpun dirasakan oleh para penduduk yang rumahnya tidak jauh dari arena berkumpulnya para pasukan.Setelah pertemuan tiga penguasa itu selesai, ketakutan masyarakat akan adanya peperangan ternyata tidak terbukti. Ketiga penguasa kembali lagi ke kerajaan masing-masing dengan para pasukannya. Adanya kejadian tersebut ternyata membekas di dalam keseharian masyarakat. Sebagai sebuah penanda suatu wilayah akhirnya masyarakat menggunakan Nama Balaraja untuk menunjuk tempat yang di maksud.

Mengenai awal sejarah Balaraja dalam bentuk wilayah adiminstratif pada masa Colonial daerah tersebut juga dijadikan sebagai sebuah camp para tentara Belanda. berdasarkan Staatblad Van Het Nederland Indie tahun 1918 no. 185 menyatakan pemerintahan adiminstratif Tangerang dengan luas wilayah 1309 km2 dan ditetapkan juga sebagai Kontroler Avedeling dengan empat wilayah administrasi di bawahnya. Sebagai pemimpinnya di pilih seorang Demang dan kemudian diganti dengan Nama Wedana yakni Tangerang, Balaraja, Mauk dan Curug. Di kewedanaan Balaraja jabatan Demang dari tahun 1881 dan pada tahun 1907 di ganati menjadi Wedana

pejabatnya:Rangga Jaban Abdole Moehi 17 Maret 1881-1907
Mas Martoni Abdoel Harjo 17 Juli 1907-1910
Soeid bin Soeoed 31 Oktober 1910-1924
R. Soerya Adilaga 22 Mei 1924-1925
R. Abas Soerya Nata Atmaja 26 Febuari 1925-1925
R. Kandoerean Sastra Negara 28 November 1925-1928
R. Achmad Wirahadi Koesoemah 11 Mei 1928-1930
Mas Sutawirya 27 Oktober 1930-1932
R. Momod Tisna Wijaya 28 Mei 1932-1934
Toebagoes Bakri 1 Febuari 1934-1935
R. Muhamad Tabi Danu Saputra 20 Juni 1935-1940
Mas Muhamad Hafid Wiradinata 17 Juni 1940-…

Pada masa Jepang berkuasa, daerah tersebut dijadikan camp para tentara Jepang. Setelah Indonesia ini merdeka dari para penjajah, Balaraja dijadikan sebagai salah satu wilayah kecamatan bagian dari wilayah