Tebar Kekuatan atau Tebar Pesona?

Catatan Kritis Untuk Ribuan Spanduk

di Pilkada Kabupaten Tangerang

RUMUS paten untuk mendongkrak nama beken di Pilkada Kab. Tangerang kurang lebih seperti ini: tebar spanduk untuk 278 kelurahan/desa, di 29 kecamatan. Berapa jumlahnya? Minimal 1.000 lembar, itu artinya per keluarahan/desa terpasang tiga sampai empat. Tentukan titik pemasangan, idealnya di jalur utama, perempatan, pasar, dekat masjid/sekolah, dan daerah yang menjadi jalur lalu lintas atau pergerakan orang. Jangan pancang di kuburan, apalagi di dalam gua.

Terkesan sepele, memang. Tapi tidak seperti itu. Nyatanya, perlu-perlunya sejumlah tokoh saat ini menyewa “tim khusus” untuk urusan pasang memasang kain rentang (spanduk, banner, baliho, dan lain-lain). Asumsinya, tim khusus bekerja profesional. Tahu cara memasang spanduk dengan baik dan benar, tidak asal-asalan. Penyebarannya juga dibuat sistematis, tidak berjejal di satu lokasi lantas kosong di lokasi lain. Plus, jangan asal tempel. Kalau bisa dengan cara melintang di “atap” jalan, misalnya melintas antara tiang listrik dan pohon.

Kalau begitu, kesannya ribet. Memang!

Lebih-lebih kalau menghitung jenis, desain, dan bahasa yang harus terpampang dalam tubuh spanduk. Ini juga butuh sentuhan orang-orang berpengalaman. Tak aneh bila kemudian, lagi-lagi butuh tim khusus. Setidaknya untuk membuat desain agar spanduk tidak tampil norak, kampungan, dan menjengkelkan banyak orang. Juga demi menghasilkan pesan spanduk yang manis, berkarakter, menggugah, dan kalau bisa diingat orang banyak.
Begitu semua proses ini terlewati, maka tunggu respon publik. Apakah target mengerek nama beken berhasil, atau justru sia-sia…

Umumnya, saat ini, mengukur ranking popularitas (melalui metode tebar pesona via spanduk) melalui survey. Namun, lantaran cara itu terbilang mahal, maka ada cara-cara lain. Misalnya dengan mendeteksi manual, minta jaringan untuk melacak/mengetes nama-nama tertentu. Atau bahkan dengan cara pasif sekalipun, misalnya menunggu telepon sms yang masuk, apakah nama mereka jadi perbincangan orang?

Publik bisa mendeteksi tingkat keseriusan para tokoh untuk bertarung dalam Pilkada, justru di tahapan awal ini. Lantaran musim yang sedang berlangsung adalah musim “jualan nama”. Hiruk pikuk Pilkada masih di pusaran paling dini, yaitu berebut panggung, berkompetisi di ruang publik, dan over publikasi via media massa.

Sementara sebuah etape yang mematok kepastian nama para tokoh dalam daftar kandidat yang sah (untuk kontestasi Pilkada), masih butuh tahapan-tahapan lain. Memetik istilah Ruhut Sitompol, Belanda masih jauh. Yang terdekat adalah penyodoran nama, komunikasi politik dengan para elit, lobi ke partai politik, mengantongi rekomendasi dari partai, berburu KTP (untuk calon independen), dan cari perlindungan ke bandar atau orang kuat…

Olehnya, analisis Pilkada Kabupaten Tangerang di tahapan paling dini ini akan sangat berbau spekulasi. Meski selalu ada cantelan catatan —paling tidak berkaca pada proses Pilkada di mana-mana. Prinsipnya adalah: tak ada makan siang gratis dalam politik… Sekonyol apapun tingkah laku seseorang, tak akan nekat pasang spanduk di mana-mana jika tidak mematok target.

Jika misalnya sasaran menjadi kandidat terasa berat, fokus tujuan bisa dialihkan ke pojok yang lain. Umumnya, sekedar numpang beken alias ingin dilirik pihak lain. Atau investasi politik, agar ketika ada ajang Pemilu Legislatif, tak susah-susah lagi memperkenalkan diri. Dua bentuk motif itu kita sebut saja sebagai strategi tebar pesona. Dua pola ini sedemikian lazim dan terasa tak aneh di mata awam sekalipun.

Agenda lain yang masih sulit dideteksi adalah motivasi untuk membuat bias, mengaburkan atau menyamarkan kekuatan yang sesungguhnya, sekaligus juga memecah konsentrasi publik. Modus operandi seperti ini, akan dilakukan oleh tokoh (yang pasang spanduk di mana-mana), tetapi sesungguhnya dirinya adalah lingkaran dalam dari kekuatan tertentu (yang menjadi petarung Pilkada).

Namun pola sejenis ini bisa terjadi ketika pecah kongsi. Ada keretakan kekuatan bersama, hingga melahirkan perlawanan. Sedikit atau banyak, modus operandi seperti ini sudah ada di proses Pilkada Kab. Tangerang.
Penelisikan harus bermuara pada profiling (latar belakang) dari tokoh yang ikut-ikutan tebar spanduk. Beberapa nama sesungguhnya adalah bagian dari lingkaran inti tokoh lain (yang lebih kuat dan lebih berkibar). Setidaknya, mereka besar, dibesarkan, atau numpang besar sekalipun, dari pihak yang lebih besar dari diri mereka. Tokoh seperti ini bukan tokoh otentik. Partai tidak punya, jaringan kosong, kiprah dan prestasi nyata juga miskin. Namanya hanya beredar di kalangan elit.

Lantas, begitu nama ini muncul, kita patut curiga. Serius maju, atau sekedar gertak sambal? Semata-mata melakukan tawar menawar, dengan kompensasi jabatan tertentu, dan namanya akan lenyap begitu permintaannya dipenuhi…
Deskripsi pamungkas atas fenomena ini tetap perlu. Agar kita punya referensi jelas, tentang seleksi ketokohan dan pencalonan orang-orang yang akan menjadi petarung dalam Pilkada Kabupaten Tangerang. Lantaran yang kita butuhkan adalah tokoh otentik, punya kekuatan, mampu melahirkan dinamika politik yang cerdas, serta potensial untuk memimpin daerah yang sama-sama kita cintai ini. Bukan semata-mata tebar pesona.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s