“Perang Semesta” di Pilkada (Tangerang)

Si  vis pacem, para bellum, jika ingin damai harus siap perang

(Pepatah Latin)

“Perang bukan lelucon”, kata Zlata Ifipovich, bocah kecil korban kebengisan balatentara Kroasia yang membantai muslim Bosnia. Tentu saja. Hanya orang dengan isi kepala jebol saja yang menyatakan perang adalah sebentuk dagelan. Atau harus terlebih dahulu menjadi sesinting Kaisar Nero, yang membakar Kota Roma (yang megah) sembari tertawa-tawa… Perang adalah perang.

Motivasi menaklukkan, merebut, menguasai, menghancurkan, dan mengalahkan, adalah serentetan alasan lahirnya perang. Meski dalam perjalanan sejarah, ada juga perang yang meletus justru untuk menciptakan perdamaian. Atau perang yang bersumber dari itikad membela diri.

Hingga itu lahir rasionalisasi yang membenarkan perang untuk menciptakan perdamaian. Seperti kredo (pernyataan suci dari Bahasa Latin) berikut: Si vis pacem, para bellum, artinya: jika ingin damai maka harus siap untuk perang.

Melihat jenis dan variasinya, perang tak selalu hancur-hancuran dan berdarah-darah. Makanya dunia mengenal kosa kata perang dingin —meski tetap berpotensi untuk menghancurkan. Ada pula jenis perang yang hingga saat ini laku dijual, namanya perang(ko). Kita abaikan saja pelbagai tipologi tentang perang atau pertempuran. Untuk masuk ke soal yang kini dihadapi masyarakat Kabupaten Tangerang, yakni agenda Pilkada.

Perkembangan terakhir nyata-nyata hadir semburat warna peperangan politik, meski masih dalam tensi rendah. Tanpa bermaksud menggiring lahirnya perang politik yang keras, tetapi fakta-fakta jelas mengarah ke sana. Tentang ribuan spanduk yang berhimpit-himpitan. Tentang saling saing dalam publikasi media. Tentang adu program dan sosialisasi. Tentang penonjolan kekuatan masing-masing pihak.

Satu lagi: aroma kompetisi antar sesama. Maksudnya, sudah terpancang nama-nama (atau tokoh publik) yang sesungguhnya berlatar mirip. Melihat sejumlah kain rentang (spanduk, baliho, atau banner) yang terpampang, seolah menghembuskan pesan bahwa arah perang Pilkada adalah perang semesta. Alias saling adu sesama rekan, tak peduli kawan, kolega, relasi, atau teman seprofesi.

Mirip dengan filsafat perang yang disebutkan oleh Thomas Hobbes, bellum omnium contra omnes, atau perang saling mengalahkan antar sesama. Biar lebih jelas, filsafat Thomas Hobbes itu berawal dari asumsi yang ia kembangkan, bahwa manusia adalah serigala bagi manusia lain (homo homini lupus).

Memang tak sepenuhnya perang Pilkada Tangerang sedahsyat itu. Melainkan nuansa dan unsur-unsur persaingan sengit “sesama jenis” tetap ada. Betapa sesama kader partai berebutan memunculkan diri, semisal kader Golkar dengan Golkar, kader Demokrat dengan Demokrat, tokoh Birokrasi dengan mantan tokoh Birokrasi, aktivis muda dengan aktivis muda, dan bisa jadi nanti adalah artis dengan artis pula.

Untuk penyebutan contoh, mari kita angkat nama. Pertama, antara Golkar dengan Golkar. Di sana ada nama Ahmad Zaki Iskandar dan Aden Abdul Kholiq. Di lingkungan Demokrat, antara Haji Badri dan Wahidin Halim (meski belakangan nama ini sudah memasitikan diri tak akan ikut serta, malah yang menyembul adalah nama Amran Arifin). Kedua, antara birokrat dengan birokrat. Nama yang selalu disebut-sebut adalah: Hermansyah, Miftahul Ilmi, dan Suwandi. Ketiga, sesama aktivis muda, nama yang berkibar adalah Isbandi dan Yanuar. Sementara yang keempat, adalah nama-nama yang sama-sama berlatar selebritis. Sejauh ini, baru dua nama yang kerap disebut, yaitu Rieke Dyah Pitaloka dan Irwansyah.

Memang belum saatnya untuk mendefinisikan posisi perang politik terbuka dari nama-nama yang sudah disebutkan di atas. Semua masih dalam tarap simulasi untuk bisa dijadikan “lawan tanding” atau malah “kawan bersanding”. Banyaknya nama itu kini berada dalam bursa terbuka, untuk dijadikan “petarung” atau “pendukung”. Dalam situasi politik Pilkada, selalu berlaku hukum berikut: jika seorang tokoh tidak bisa untuk menang, maka ada pilihan lain, yaitu ikut memenangkan…

Tanpa bermaksud mengabaikan satu dua nama yang sudah ajeg untuk menjadi calon Bupati (dan no option lagi untuk posisi wakil Bupati), maka fenomena ini sungguh menarik. Lebih-lebih dengan menghitung sejumlah prediksi atas apa yang akan terjadi.

Di tarap paling awal, jelas bahwa fenomena perang nama calon Bupati dan Wakil Bupati di Pilkada Tangerang menggiring pada peluang lahirnya banyak pasangan calon. Dengan demikian, pertarungan Pilkada agak tertutup bagi pola head to head (hanya satu lawan satu). Alhasil, publik luas punya banyak pilihan dan alternatif. Peluang lainnya, bahwa munculnya banyak nama juga memungkinkan lahirnya kombinasi ideal antar pasangan calon. Misalnya, kombinasi antara politisi dengan birokrat, birokrat dengan aktivis, atau antara politisi dengan artis.

Peluang terakhir, demi meracik banyaknya nama yang bermunculan, adalah banyaknya pelibatan mesin politik dan organ penunjang bagi para pasangan calon…

Pastinya, para nama itu menggaet lingkaran inti dan jaringan terdekatnya. Lahirlah proliferasi, alias penyebaran ruang aktivitas bagi banyak orang (terutama aktivis dan pegiat politik Pilkada). Per teori, semua peluang yang disebutkan adalah pelumas demokrasi. Agar demokrasi politik tidak macet hanya di satu kekuatan saja. Melainkan menyebar sampai jauh. Itu saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s