Demokrat dan Pertarungan Pilkada Kab. Tangerang

Petikan berita dari Satelitenews.co.id, edisi 10 April lalu, layak menjadi bahan diskusi. Melalui judul Demokrat Siapkan Kader Terbaik di 4 Pilkada Banten, terpampang keterangan dari para elit Demokrat, yaitu Anas Urbaningrum (Ketua Umum Partai Demokrat), dan Wahidin Halim (Ketua Partai Demokrat, DPD Banten).
Berikut lansirannya: “Perlu saya tegaskan, kader Demokrat tidak seperti ayam sayur, tetapi petarung!” (komentar Anas). Sementara Wahidin Halim menyatakan: tak akan ada yang bisa menggugurkan militansi kader Demokrat di Banten. Setelah pengurus DPC dilantik, semuanya akan melakukan kerja politik.
Setiap berita selalu punya konteks. Nah, konteks atau latar peristiwa lahirnya berita ini berasal dari momen Pelantikan Pengurus Partai Demokrat tingkat Kabupaten/Kota se-Provinsi Banten. Siapapun yang mengikuti agenda tersebut, seraya menyaksikan langsung pidato politik Anas, akan muncul kesan letupan gairah dan luberan optimisme.
Mengapa? Lebih dari tiga kali Anas menyebut istilah: Demokrat adalah Partai Petarung. Atau juga beberapa kosa kata lain yang bernada “perang”. Seperti ketika menyebut bahwa kader Demokrat berani menentang badai, siap bangkit, dan akan kembali memenagnkan Pemilu 2014.
Sebagai sebuah retorika politik, tentu tak ada yang istimewa dengan semua itu. Lebih-lebih kalau melihat kondisi terkini, tatkala Demokrat dihajar kanan kiri, dari udara dan darat (kalimat dalam hurup miring tadi adalah dari Anas, untuk menggambarkan serangan politik terhadap Demokrat, via media massa dan gerakan politik di lapangan).

Lain hal jika saja mencandra isi berita tersebut kemudian dikaitkan dengan dinamika politik lokal di Banten.
Boleh dibilang, Demokrat Banten memiliki beban tak ringan. Kekalahan dalam kontestasi Pilkada Gubernur Banten, misalnya, selalu menjadi causa celebrare (isu yang selalu diperbincangkan). Memori politik para kader Demokrat (dan para politisi di Banten), seolah menjadikan kasus Pilkada Gubernur Banten sebagai bahan eksperimentasi (percobaan). Rupa-rupa nalar plus analisis berlahiran. Tetapi, kebanyakan, justru menjadikan peristiwa tersebut sebagai peluru pesimisme…
Bisa jadi, peluru pesimisme inilah yang terbaca oleh para petinggi Demokrat (baik di pusat, atau di Banten). Makanya wajar jika kemudian Anas dan WH menyuntikkan energi perlawanan dan menabuh genderang perang! Mengingatkan para kader Demokrat untuk tidak kapok. Tidak surut langkah. Tidak membunuh harapan para calon petarung di Pilkada tingkat Kabupaten dan Kota (se-provinsi Banten).

Pertimbangan
Kasus paling dekat untuk masuk kategori ujian politik bagi kader Demokrat di Banten adalah Pilkada Kabupaten Tangerang. Akankah kendaraan politik The Mercy, yang menjadi pemenang Pemilu 2009 di Kabupaten Tangerang ini punya nyali? Atau terkena the looser syndrome (takut mengalami peristiwa yang sama dengan Pilkada Gubernur Banten)?

Sesungguhnya, jawaban atas dua pertanyan ini sangat terbuka, dan memiliki sejumlah kemungkinan.
Olehnya, tak cukup hanya menyatakan sanggup dan tidak sanggup untuk kembali bertempur dalam medan Pilkada Kab.Tangerang.
Perspektif politik harus direntangkan hingga ujung terjauh, misalnya dengan memasukkan berbagai pertimbangan. Misalnya, dengan melihat posisi jangkar politik di Kab. Tangerang, yang nyaris dikuasai penuh oleh satu kekuatan (ini pertimbagan pertama).
Berikutnya, pertimbangan kedua, yakni mengenai kesempatan menggosok energi politik para kader di internal demokrat Kab. Tangerang. Pertimbangan yang ketiga, kesempatan menjadikan momentum Pilkada Kab. Tangerang sebagai wahana pemanasan, jelang perang besar di Pemilu 2014. Mari telisik tiga bentuk pertimbangan itu satu demi satu.

Jangkar Politik
Sekilas, jangkar politik jelang Pilkada Kab. Tangerang seperti melahirkan dominasi plus hegemoni. Memunculkan aura superioritas dan powerfull (berkuasa penuh).
Kekuatan politik yang menyembul, terkesan itu-itu melulu. Fakta ini tentu anakronistik (pertentangan sejarah) dengan kutub politik yang mestinya berpusat ke Demokrat. Lantaran Demokrat adalah pemenang Pemilu di Kab. Tangerang, menguasai legislatif, dan itu artinya Demokrat bukan dalam posisi inferior (berada di bawah). Ingat, demokrat bisa secara otomatis mengusung kadernya dalam laga Pilkada, tanpa perlu bergandeng dengan partai lain. Ini adalah surplus kekuatan yang sesungguhnya.
Melepaskan begitu saja poin plus yang ada digenggaman ini sama artinya dengan membenarkan dominasi dari kekuaan lain. Sekaligus melawan asas demokrasi politik,yang menghendaki adanya kekuatan pengimbang dan kontrol. Lain kata, dalam Pilkada Kabupaten Tangerang, Partai Demokrat harus berani menjadi jangkar politik, agar proses demokrasi berjalan rasional.

Energi Politik
Daya dorong dan mesin gerak Partai Demokrat juga patut menjadi pertimbangan penting dalam momentum Pilkada Kab. Tangerang. Demokrat harus berkaca pada pengalaman dalam pelbagai ajang Pilkada di mana-mana. Bahwa biasanya, ketika sebuah partai memiliki pilihan untuk turun langsung, maka otomatis menggerakkan mesin partai —dan ini membawa efek daya dorong bagi aktivitas para kader di berbagai tingkatan.
Beda jika sebuah partai (sekelas Demokrat) justru memilih opsi pragmatis, maka faedah yang dinikmati hanya tertuju pada segelintir orang. Karena yang berlangsung adalah transaksi dan kompromi para elit. Menghilangkan segala kesempatan untuk para kader yang lain. Sebab kompromi politik biasanya berlangsung head to head, person to person, elite to elite. Kerugian besar mengaga di depan mata, apabila dalam ajang Pilkada Kab. Tangerang, Partai Demokrat justru tunduk pada scenario seperti ini. Selesai sebagai pengusung atau malah pendukung tokoh dari Partai lain.
Terakhir, akan lahir peta kekuatan yang ril, andaikata Partai Demokrat turun langsung alam momen Pilkada. Baik atau buruk, Demokrat pasti punya rapor yang jelas, tentang sejauh mana aktivasi mesin politik,soliditas para kader, konsolidasi internal, sekaligus hasil akhir dan perolehan suara. Semua ini, tentu cermin terang tentang potensi Demokrat menghadapi ajang Pemilu 2014.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s