Gaya Bandar di Pilkada (Tangerang)

Artikel ditulis oleh: Endi Biaro, Political Activist, Blogger, Koordinator TIM Tangerang Barat

Tak pernah (mau) kalah. Alergi kalau harus rugi. Berani spekulasi. Lihai main curang. Tak sungkan-sungkan mengorbankan banyak pihak. Secara mendasar, mereka hanya bisa untung ketika ada yang buntung. Inilah tabiat asli para bandar…

Di mata para bandar, kaidah win-win solution (atawa menang bersama) adalah sepah yang dibuang ke tempat sampah!
Sama saja. Bandar Narkoba menangguk limpahan duit dari korban yang tercekik (karena sakaw atau fly). Bandar judi kaya raya dengan menipu rakyat jelata (entah melalui lotere, arisan model Koperasi Langit Biru, atau apa saja). Kalaupun ada bandar yang membawa maslahat bersama, tak lain adalah bandar(a) Soekarno Hatta. Yang lain tidak.

Itu artinya tak ada perkecualian dengan Para Bandar Pilkada.

Kalaupun ada perbedaan antara Bandar Pilkada dengan bandar-bandar yang lain, hanya dalam takaran jumlah. Sedikit sekali manusia yang bisa memainkan posisi seperti itu. Bukan karena ada syarat tertentu, melainkan justru bebas syarat. Mereka bukan dipilih, bukan diseleksi. Melainkan merekalah sang penentu. Hanya warga kelas kebanyakan saja yang selalu dibebani dengan syarat ini dan itu.

Sementara kaum yang bertengger di posisi puncak kejayaan, tak terikat aturan apapun. Indonesia adalah negeri yang bisa dibeli.
Betapa Pilkada sesungguhnya berada di tangan mereka. Anda benar ketika berasumsi bahwa kemenangan Pilkada berpihak pada tokoh paling populer, paling disukai, dan paling banyak dipilih. Anda juga sangat benar ketika mengatakan bahwa semua proses itu butuh uang banyak. Tetapi Anda benar-benar naif jika mengira bahwa semua beban pembiayaan itu adalah murni bersumber dari para petarung atau kandidat.

Bukalah matamu. Hari ini dinamika Pilkada benar-benar memasuki sebuah proses yang nyaris 100 persen penuh spekulasi. Orang kuat bisa tumbang. Orang populer bisa terjungkal. Orang baik lebih-lebih lagi (dihabisi bahkan sebelum pendaftaran calon berlangsung). Olehnya, para bandar mendapat kesempatan empuk, guna mengatasi segala ketidakpastian. Lagipula, siapa pihak yang paling terlatih dalam soal spekulasi? Tentu saja, ya, para bandar itu.

Memang ada riset akademik, untuk mendeteksi secara agak pasti. Iya juga sih, sesekali figur populis bisa menang (ini juga menyimpan kepastian tinggi, tetapi tak selalu terbukti). Tetapi jangan lupa, riset adalah proyeksi dengan tenggat waktu terbatas. Makanya tak heran seluruh pernyataan riset selalu bermula dengan kata-kata “Jika pemilihan dilakukan pada saat ini”. Artinya, pada saat hari yang sesungguhnya, kondisinya bisa jungkir balik. Wajar pula jika riset yang benar selalu membuka ruang untuk perubahan, dengan bahasa force majeur (maksudnya ada “kondisi tertentu” yang bisa menghancurkan prediksi dari sebuah riset). Kondisi tertentu inilah yang dimainkan para bandar dalam Pilkada.

Pun dengan popularitas yang (bisa) runtuh. Fakta semodel ini jauh lebih mudah untuk ditinjau. Keterkenalan seseorang di mata para bandar Pilkada adalah “lahan bisnis”. Hukum bisnis selalu setia pada azas manfaat. Maka dimanfaatkanlah peluang menggiring orang-orang populer atau orang kuat untuk tunduk pada “kepentingan” para Bandar. Biasanya, atau lebih baik kita sebut nyaris semuanya, orang kuat dan orang populer dalam ajang Pilkada, justru yang paling potensial untuk disandera para bandar.

Bukan apa-apa. Mereka (para tokoh populis dan kuat) dijebak dengan barang enak, bernama uang. Kebetulan pula, para petarung memang butuh pertolongan (dalam bentuk bantuan uang segar dari bandar).

Sudahlah. Tak asyik jika cuma sebegitu. Musababnya di banyak lokasi, permainan para bandar nyaris gila. Mereka tak cuma mengongkosi satu tokoh (petarung Pilkada), tetapi semuanya. Beramain di banyak kaki, begitu istilahnya. Dahsyatnya, kerap pula dengan aksi tipu-tipu. Menggunakan banyak tangan untuk datang memberi bantuan. Di pihak yang potensial menang, tangan-tangan pembawa uang para bandar bekerja untuk menggalang aksi (demi memastikan kemenangan). Di pihak yang potensial kalah, tangan-tangan pembawa uang para bandar bekerja untuk menggalang informasi.

Tak sepi pula cerita, bahwa para bandar pun menjadi penentu, tentang siapa yang harus disanding (oleh kandidat tertentu) dan siapa pula yang harus dijadikan lawan tanding!

Bila urusannya sekonyol ini, maka Pilkada di Kabupaten Tangerang pun pasti tak akan lepas dari kuasa para bandar. Yang masih jadi rahasia hanyalah: kepada siapa mereka bermain. Itu saja…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s