Mengendus Gosip Politik di Pilkada Kab. Tangerang

Jika engkau menceritakan rahasiamu kepada burung, jangan salahkan jika burung berkicau kepada angin.

Dan angin menghembuskannya kepada dunia…

(Paraphrase Puisi Kahlil Gibran)

Belum pernah terjadi dalam sejarah, bahwa gosip politik menjadi “mainan” bisnis, seraya bertiwikrama sebagai komoditas ekonomi bernilai tinggi.

Kecuali sekarang ini. Tanpa sungkan para pemodal besar menanam duit di lembaga-lembaga konsultan politik (yang salah satu produknya adalah mengolah gosip politik). Jelas ada perputaran laba besar di situ. Pun dengan para pakar di bidang keilmuan tertentu yang siap pasang badan untuk  mengurusi gosip politik —agar mengarah pada pemenangan pihak tertentu. Lantas, lahirlah sekian banyak profesi baru, yang sama-sama bekerja di bidang pergosipan politik. Mereka biasa disebut dengan nama keren: surveyor (tenaga peneliti), persuader (pembujuk profesional), profesional campaigner (penggarap kampanye publik), dan tenaga Humas.

Mari bandingkan. Bahwa di zaman Majapahit dan Mataram sekalipun, memang sudah ada orang-orang yang dibayar khusus oleh istana untuk menghembuskan kabar-kabar tertentu, guna mempengaruhi alam pikir rakyat.  Siapapun yang disebut dengan pujangga, brahmana, penyair, atau sekedar kecu dan telik sandi (informen, intelejen), adalah para pengabdi penguasa untuk menyerap atau justru menghembuskan kabar-kabar tertentu. Tetapi derajat kabar yang diolah teramat sumir. Nyaris selengkap-lengkapnya berbentuk gosip. Lantaran tak ada kejelasan narasumber, miskin bukti, berbaur imajinasi, dan hanya sedap untuk dinikmati.

Ini memang gambaran kasar. Sekadar jadi pengingatan, bahwa benih gosip politik sudah kokoh mengakar sejak dulu. Hanya bedanya, dulu tak ada petunjuk bahwa profesi pergosipan itu melembaga, dengan kalkulator ekonomi terukur, serta melibatkan begitu banyak perangkat pendukung. Ilmu dan metode yang diusungpun, hanya mengandalkan keliahaian personal belaka. Tentu beda, adonan gosip politik yang “digoreng” seorang pujangga (yang sanggup membuat karya Susastera populer) dengan menu gosip yang disodorkan oleh para abdi dalem sekelas Emban (pengasuh keluarga istana) atau prajurit bawahan…

Meski begitu, saripati gosip politik kuno dengan kontemporer terikat dalam prinsip yang mirip-mirip. Tak lain adalah efektivitas atau daya guna.

Gosip Politik

Gosip adalah Kabar samar-samar. Tentu, bila kabarnya jelas, itu fakta! Samar (atau disamarkan) dari sisi sumber, penghantar, dan terkadang juga arah. Di ranah sosial, yang melibatkan banyak orang, gosip muncul secara efektif untuk menutupi kekurangan bahan obrolan.  Di ranah personal, atau dalam obrolan empat mata, gosip menjadi alat transaksi (menjual keburukan, meminta kebaikan).

Gosip politik adalah keseluruhan pengertian paragraf yang di atas dengan tambahan rekayasa khusus. Gosip atau kabar samar-samar di wilayah pergaulan sosial, dalam konteks politik dengan sengaja dibuat samar (sumbernya disamarkan, penghantar pesan juga diburamkan, dan sasaran yang dituju juga dibuat remang-remang). Seperti itu pula, bila pusat aktivitas gosip politik bersifat personal (orang per orang), maka “transaksi” alias tawar-menawarnya juga rada kurang jelas. Kecuali dari keseluruhan itu, target atau tujuan akhir selalu terang benderang. Selalu untuk melipatgandakan keuntungan pihak “pengolah” gosip dan menjatuhkan kerugian bagi pihak yang “diolah”.

 

Gosip Pilkada

Batasilah di titik tertentu —dalam membahas gosip Pilkada. Perang Pilkada adalah medan terbuka sejauh menyangkut hal-hal umum dan tak penting. Begitu memasuki wilayah strategis dan sangat menentukan, maka akan sangat rahasia. Contoh: kampanye, sosialisasi, koalisi, dan juga janji-janji, semuanya terang benderang. Anda tak perlu berpikir keras guna memahami bahwa dibalik semua proses itu (kampanye, sosialisasi, koalisi, dan janji), ada sekat-sekat tebal yang sulit ditembus oleh kalangan awam. Karena menyangkut rahasia dapur, terkait pendanaan, dan menyangkut “nyawa politik” para petarung.

Di pusaran itulah jari-jemari gosip politik bergerak. Seperti apakah pola pergerakan gosip Pilkada bermain? Teori komunikasi massa mengajarkan empat hal.

Pertama, pertarungan politik atau kekuasaan betul-betul terkunci pada soal persepsi. Soal ini, menyingkirkan faktor-faktor lain, seperti kebenaran, faktualitas, dan validitas. Memainkan persepsi tak berurusan dengan benar atau tidaknya sebuah informasi. Mengolah persepsi tidak harus berpatok pada logika faktualitas (ada atau tak adanya bukti, malah selalu diupayakan seolah-olah terbukti!). Menyerang persepsi malahan   jauh lebih baik jika bersandar pada kenyataan-kenyataan yang sesuai dengan realitas (validitas).

Jelas sudah. Bahwa posisi gosip dalam ajang Pilkada adalah dalam rangkai “memainkan” persepsi publik. Guna mendukung pihak A sekaligus menghajar pihak B.

Kedua, dalam kompetisi Pilkada (bagian dari kontestasi politik), gosip akan menggelembung karena memang direproduksi secara sistematis, intensif, dan dalam kemasan sebaik-baiknya.

Ketiga, melekat dalam identitas gosip itu sendiri yang senantiasa blur (samar), maka jangan menuntut ada kejelasan —jika meletup sebuah informasi yang membingungkan, alias tidak jelas. Kata lainnya, rekayasa gosip Pilkada adalah senjata multi fungsi. Berfaedah untuk menutupi, mengelabui, dan mengalihkan.

 

Bagaimana?

Lalu bagaimana agar medan persepsi publik tidak dihajar hancur-hancuran oleh industri gosip dalam Pilkada (yang menyewa konsultan, berbiaya mahal, dikerjakan secara terorganisir itu)? Jawabannya adalah andai…

Senyatanya, rakyat kita terlalu terlatih memperbesar gelembung gosip tinimbang mengempiskannya. Penggelembungan gosip terjadi karena tabiat curiga, mudah marah, dan miskin referensi. Ditambah lagi, tak ada tradisi menciptakan dan bekerjasama solid dalam menjaring gosip. Jika saja rakyat tersebar di semua lini (lini kekuasaan, partai, media, biorkrasi, dan kampus), maka gelembung gosip bakal terhadang. Karena semua lini itu akan mampu mendeteksi, memberi pembanding, sekaligus menguliti asal muasal gosip. Tapi, ya, itu tadi, semuanya baru andai… (teramasuk di Pilkada Kabupaten Tangerang Novembe mendatang).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s