Stratak (Strategi dan Taktik) Perjuangan Tangerang Barat

Wacana:

Beberapa Catatan Penting Untuk Gerakan Pro Tangerang Barat

Oleh: Yayat Biaro

Tokoh Pemuda Tangerang,

Wakil Sekjen DPP Partai Golkar

Isu pemekaran daerah adalah salah satu wacana penting yang senantiasa bergulir paska reformasi ini. Memang wajar belaka. Karena terjadi perubahan format politik, perubahan struktur pemerintahan, dan perubahan pada tata kelola pemerintahan. Hal ini, dalam bahasa akademik disebut dengan resultan Otonomi Daerah.

 

Makna pokok otonomi daerah, sejatinya adalah “mendekatkan” jarak pengambilan keputusan antara rakyat lokal dengan pemerintah daerah. Jika pada masa Orde Baru, jarak itu begitu jauh, maka pada era reformasi jarak itu makin dekat. Manfaat langsungnya adalah: rakyat lokal bisa lebih mengartikulasikan kepentingan-kepentingannya, dan tidak lagi didikte oleh pusat.

 

Tentu masih ada faedah lain. Dengan otonomi daerah, maka praktek kekuasan yang terpusat bisa dipangkas. Kita mengenalnya dengan perubahan praktek kekuasaan yang sebelumnya sentralistik menjadi desentralistik. Dalam tataran ini, maka ikhtiar politik kawan-kawan pemuda dan aktivis di Tangerang Barat menemukan ruang logika dan argumentasi yang mencukupi.

 

Moratorium

Pemekaran Daerah

Akan tetapi, sebuah gerakan politik selalu membutuhkan momentum. Tanpa bermaksud mengendurkan semangat kawan-kawan di Tangbar, maka saya sekedar mengingatkan kembali, tentang wacana moratorium (atau penundaan sementara) pemekaran daerah. Wacana moratorium ini tidak lahir tiba-tiba. Melainkan hasil dari telaah dan evaluasi atas faedah dan manfaat pemekaran daerah.

 

Di banyak tempat, justru terjadi fakta negatif tentang pemekaran daerah. Misalnya dengan lahirnya “raja kecil” di daerah, tentang praktek menguras sumber daya alam yang sangat merusak, atau kasus-kasus korupsi yang bertebaran di daerah-daerah yang baru dibentuk.

 

Daftar buruk lainnya: praktek penyelenggaraan pemerintah daerah yang sewenang-wenang, misalnya dengan membaut Perda (Peraturan Daerah) yang bertentangan dengan kaidah hukum, yang menurut catatan dari Pusat Studi Hukum dan Kebijakan terdapat kurang lebih 5000 Perda bermasalah (yang dibuat oleh daerah hasil pemekaran).

 

Akan tetapi, gelebar isu atas dampak negatif pemekaran daerah tak lain adalah “penghamburan” anggaran negara. Kita tahu, setiap terjadi pembentukan daerah baru, maka pemerintah pusat wajib menanggung ongkos awal, yaitu alokasi dana untuk membiaya kegiatan penyelenggaran pemerintahan di daerah baru, hingga daerah ini bisa mandiri. Tak perlu lagi kita tutupi, bahwa memang senyatanya praktek penghamburan anggaran ini kerap terjadi.

 

Bagaimana Berargumentasi?

Saya kira, masalah moratorium ini pasti menjadi salah satu ganjalan. Memang, masalah moratorium ini tidak termaktub dalam undang-undang atau regulasi. Sifatnya hanya normatif. Tetapi ingat, isu moratorium ini akan menjadi benteng argumentasi dan peluru perlawanan untuk pihak yang tidak setuju dengan gagasan pemekaran daerah di Tangerang Barat. Dalam politik, sebuah wacana bisa melebar ke mana-mana. Termasuk isu moratorium ini, pasti diolah dengan seksama oleh pihak-pihak yang keberatan dengan gerakan Pro Tangerang Barat.

 

Berikutnya, setelah menjadikan isu moratorium sebagai bantal argumen untuk menolak ide pembentukan Kabupaten Tangerang Barat, maka akan disusul dengan alasan-alasan lain.

 

Misalnya saja dengan mengajukan teori pemborosan anggaran —jika Kabupaten Tangerang Barat dibentuk. Misalnya juga dengan mengajukan alasan bahwa pemekaran Kabupaten Tangerang Barat juga bertentangan dengan skema tata ruang dan penataan kewilayahan di Provinsi Banten. Misalnya pula dengan mengajukan alasan bahwa pembentukan Kabupaten Tangerang Barat hanya akan melahirkan praktek korupsi dan ketamakan para pejabat. Pasti akan sangat banyak alasan untuk kontra Tangerang Barat.

 

Namun, yang perlu juga disadari oleh kawan-kawan pro Tangerang Barat, bahwa pasti akan bergulir serangan opini yang memojokkan. Katakanlah sinisme atau sindiran terhadap para aktivis pro Tangerang Barat. Dalam berbagai rupa bentuk. Mulai dari sindiran kurang kerjaan, cemooh yang mengatakan memburu nafsu kekuasaan, dan juga kalimat yang mengejek (misalnya dengan mengatakan bahwa para pelaku gerakan Pro Tangerang Barat adalah orang-orang bayaran).

 

Harus Siap

Tentu saja, kawan-kawan pro Tangerang Barat harus siap dengan semua itu. Siap dalam arti membuat sejumlah metode dan pola untuk menghadapi serangan-serangan itu. Saya tidak akan menceritakan detilnya, karena itu menyangkut “rahasia politik”. Cukup dengan memberikan saran-saran berikut.

 

Pertama, harus dilakukan komunikasi intensif dan lobi yang cerdas dengan semua pihak, demi meyakinkan bahwa gerakan Pro Tangerang Barat tak hanya memiliki bobot politik, tetapi juga bobot akademik. Untuk ini, butuh sejumlah data, dokumen, informasi, dan referensi —-yang mendukung gerakan pro Tangerang Barat.

 

Kedua, mendekatkan diri dengan para pengambil keputusan di tingkat teknis, misalnya saja dengan intansi yang mengurusi soal tata wilayah, tata ruang, dan sebagainya. Pola ini bermanfaat untuk melacak sumber informasi vital dan strategis, menyangkut penataan wilayah di sekitara Tangerang Barat.

 

Ketiga, serius bekerja dalam mempersiapkan naskah akademik dan dokumen ilmiah yang mendukung argumentasi pembentukan Kabupaten Tangerang Barat. Karena dalam proses formal pemekeran daerah, selalu dibutuhkan kasjian dan naskah akademik. Bahkan belakangan ini, naskah akademik itu harus melibatkan lembaga perguruan tinggi, seperti Universitas Indonesia.

 

Keempat, gencar melakukan kampanye publik dengan ragam variasi yang unik dan tidak membosankan. Artinya, bukan hanya kampanye publik yang sifatnya politis, melainkan juga melibatkan berbgai komunitas dan kelompok. Misalnya dengan menggelar even popular (seperti ajang musik, olahraga, dan lain-lain).

 

Demikianlah catatan singkat saya, sebagai prolog dalam buku yang berjudul Menuju Tangerang Barat Termajukan! Mudah-mudahan bermanfaat.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s