Pilkada Jadul vs Pilkada Gaul

Catatan Kritis Untuk Pilkada Kab. Tangerang, Banten

Oleh: Endi Biaro, Koordinaor TIM, Tangbar Intelek Media

Politik Pilkada yang sesungguhnya berada di jalanan. Pada kain rentang (spanduk) yang terpasang di mana-mana. Pada Baliho raksasa yang tertancap di tiap pojok. Pada segala poster yang dipaku di pepohonan (yang jika bisa berbicara, pasti protes keras). Politik Pilkada di jalan raya, adalah bukti awal tentang “perampasan” ruang publik.

Jangan-jangan, gaya Politik Pilkada juga mirip gaya hidup di jalanan…

Dan di jalanan, secara sempurna memperlihatkan watak manusia Indonesia yang sejahat-jahatnya. Tentang perliaku biadab para penabur paku (hingga ada tiga kilogram paku yang ditebar, hanya untuk menggembosi ban mobil atau motor orang lain). Tentang anak-anak kecil yang dipaksa jadi pengemis. Tentang pasar tumpah yang menyabot seluruh punggung jalan. Tentang saling serobot di pintu tol. Tentang polisi yang begitu sadis, sekaligus manis kompromistis —-ketika disisipi uang seratus ribuan).

Di jalanan, aturan dan hukum jatuh sebagai lelucon. Orang yang tertib dianggap bodoh. Mereka yang mau antri dicemooh. Dan siapapun yang berusaha menjadi santun, pastilah sering tertegun (lantaran melihat pola liar di jalan raya). Di jalanan, memang masih ada ketertiban, tetapi dengan cara paksa! Inilah watak khas manusia Indonesia. Masih berkutat pada persoalan hukum rimba, yang kuat adalah yang menang. Dan sangat tak mustahil, kebiadaban ala jalan raya itupun terjadi pula di ajang Pilkada.

Ironi Besar

Gejala Pilkada Ala Jalan Raya ini nyaris tak terbendung. Menggelar perang kekuatan secara vulgar —siapa yang paling berkuasa, paling punya uang, maka dia pulalah yang menyumbang paling banyak sampah, sisa-sisa spanduk, baliho, poster, pamphlet dan sejenisnya.

Tentu saja dalil seperti ini bakal diserang habis, terutama oleh para konsultan politik, lembaga survey, tim sukses, dan pengusaha bidang percetakan. Musababnya, merekalah para pihak utama yang menciptakan perhetalan Pilkada ala Jalan Raya ini. Hingga hari ini, manipulasi Pilkada Jalan Raya masih tetap menjadi solusi jitu, sebagai pengerek popularitas dan ketersohoran para calon petarung di Pilkada. Pola-pola pengotoran jalan raya ini memang efektif dari sisi politik, tetapi sekaligus menyimpan ironi besar.

Mengapa?

Ironi terletak pada fakta, bahwa ternyata kemajuan teknologi komunikasi tak berguna apa-apa dibanding cara-cara vulgar dan serampangan itu. Ini bukti, bahwa manusia Indonesia, hanya maju secara fisik. Mereka mampu membeli peralatan komunikasi terkini (gadget dan sejenisnya). Tetapi tak sanggup memanfaatkan teknologi komunikasi sebagai alat pencerdasan politik. Kehebatan fungsi HP, laptop, I-pad, I-phone dan sejenisnya, selesai sebagai pelengkap gaya hidup. Tak lebih sebagai barang mainan, perangkat pornografi, dan untuk mengumbar kegenitan (narsistik).

Padahal pula, teknologi komunikasi telah sanggup melakukan apapun, demi memasarkan konsep dan citra diri para petarung Pilkada. Di situ ada radio, video, dan televisi. Namun semua perangkat komunikasi massa itu kalah saing oleh Pilkada ala Jalan Raya.

Gaya Jadul

Sinyal kuat yang bisa ditangkap tentang tradisi mengotori ruang publik (di jalanan) melalui spanduk dan sejenisnya itu, tak lain adalah kokohnya tradisi verbal di benak publik. Rakyat kita, meski hidup di era internet, sesungguhnya adalah komunitas yang masih mudah dipengaruhi oleh pesan-pesan verbal (via gambar mencolok, hurup besar, dan ilustrasi).

Sebagai penerima pesan komunikasi politik, rakyat kita tak pernah beranjak menjadi maju. Masih senang dengan pola-pola lama (jadul, jaman dulu). Tidak menjadi manusia yang kritis, reflektif, dan gandrung pada gagasan. Rakyat kita, adalah komunitas politik yang gampang dimanipulasi. Inilah yang menjadi faktor kunci atas maraknya gaya Pilkada Jadul itu (yang vulgar, kasar, dan menyita ruang publik).

Gaya Gaul

Barangkali di luar negeri pun berlaku prinsip serupa. Kita lihat di televisi, kampanyi calon presiden yang mengandalak massa yang banyak, dengan rupa-rupa poster, baliho atau spanduk. Akan tetapi, ada ciri pembeda: cara-cara itu tidak berlangsung massif, hanya di titik dan momen tertentu. Pemasangan poster, spanduk, hanya menjadi bagian kecil dari operasi politik di negara lain. Lagipula, mereka sangat menghormati aturan main (hukum).

Sebab, yang lebih menjadi tumpuan operasi politik atau kampanye publik yang berlangsung di negara moderen adalah bertumpu pada gagasan. Makanya, tak aneh bila kampanye politik, yang marak adalah debat publik, perang tulisan di koran, permainan isu di media, penerbitan buku, lewat sosial media, atau melalui wahana intelektual lainnya. Yang direbut adalah pikiran, bukan perasaan.

Beda dengan ajang Pilkada di negeri kita. Para petarung hanya tahu satu hal: membeli suara. Maka, andalan mereka adalah uang, bukan gagasan. Uang itu yang dipakai untuk mengotori jalanan. Untuk membayar ini dan itu. Termasuk untuk menyuap hak pilih. Anda tentu bisa mengatakan, bahwa di kolong langit ini, uang adalah faktor utama dalam kompetisi politik.

Mari kita jawab: setuju. Tetapi, uang dalam kompetisi politik di negara maju bukan untuk mengotori jalanan dan membuat ribet lingkungan hidup. Bukan pula untuk membeli hak pilih. Melainkan untuk memasarkan pikiran, menyebarkan gagasan, dan meningkatkan kualitas informasi —dari pihak yang bertarung. Dengan kata lain, yang menang adalah yang paling mampu melahirkan daya tarik dan pemikiran.

Andai pola politik di negeri kita seperti itu, maka Pilkada tak perlu lagi memaku poster di pohon, menempel sticker di pintu rumah, atau memajang spanduk di pinggir masjid. Namun, agaknya hal itu masih jauh panggang dari api. Sebab, para calon petarung Pilkada sendiri, tak pernah punya gagasan. Mereka hanya mengandalkan jaringan kekuasaan dan uang. Begitulah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s