Yang Muda, Yang “Berkuasa” di Tangerang…

Catatan Kritis Untuk Pilkada di Kabupaten Tangerang, Banten

Oleh: Endi Biaro, Political Activist

Koordinator TIM, Tangbar Intelek Media

JAGAT politik sungguh tak asing dengan gerontokrasi. Istilah itu merujuk pada lanskap politik yang takluk di bawah ketiak orang-orang tua. Para orang-orang tua itu, benar-benar memenuhi definisi tua dalam berbagai segi. Usia yang sudah uzur. Fisik renta (dan mendekati pikun). Lamban bergerak. Serta —sebagaimana karakter manusia-manusia “bau tanah”— dirongrong pelbagai penyakit.

Gerontokrasi (kekuasaan di tangan orang-orang tua), juga pekat dengan sifat-sifat khas yang melekat kuat. Tak lain adalah karakter: sukar berubah, menjaga status quo, keras kepala, ego tinggi, pemberang, dan sangat benci perubahan. Maka sukar dibayangkan ada rona politik progressif, dinamis, dan kreatif, jika status kekuasaan berada dalam genggaman orang-orang tua. Pak Tua, sudahlah…

Demikianlah postur fisik dan tabiat psikologis kekuasaan di tangan orang-orang tua. Mari kita berlindung kepada Tuhan, dari cengkraman penguasa tua yang keenakan.

Kurang ajar betul! Seolah tak ada yang beres dengan pinisepuh —yang memegang kendali politik. Memang senyatanya tak boleh terlampau gegabah menjatuhkan penilaian. Mereka yang sudah lama benar menggenggam kekuasaan, barangkali juga sangat kaya dengan pengalaman. Pun penuh prestasi sehingga layak diapresiasi. Untuk itu, penghormatan dan salam takzim perlu juga kita sampaikan. Selain itu, tak ada pula jaminan bahwa jika kekuasaan tersemat di kaum muda, maka semuanya akan baik-baik saja. Bukankah tak sedikit contoh bahwa “penguasa berusia muda” yang menjadi dikator, despotik serta dholim?

Barangkali posisi yang adil adalah menghadirkan sejumlah peluang.

Bahwa kemungkinan besar karakter progressif, pro perubahan, bergerak cepat, dan berani mengambil resiko, lebih cenderung berada di tangan orang-orang muda. Sementara tabiat menjaga kemapanan, lamban, seraya menghindari resiko, lebih condong menjadi pilihan orang-orang tua. Atau bisa juga menyajikan penegasan bahwa kekuasaan tak boleh terlalu lama menua dalam genggaman seseorang. Harus ada rotasi, siklus kekuasaan yang bergulir lancar, dan bergantian. Agar kekuasaan tidak menjadi fosil. Membusuk dalam cengkraman seseorang. Di sinilah, konteks kepemimpinan kaum muda menjadi penting.

Politisi Muda Tangerang

Harapan di depan mata (untuk kontestasi kepemimpinan politik di Kabupaten Tangerang) terasa terang benderang. Paling tidak, hingga detik ini, bursa calon petarung di Pilkada Kabupaten Tangerang, terjejali dengan nama dari tokoh-tokoh muda. Sekali lagi, ini soal harapan. Sebab hanya satu saja yang pasti, bahwa tokoh tua di Kabupaten Tangerang akan segera permisi… (tak ada incumbent dalam Pilkada Kabupaten Tangerang mendatang).

Peluang Kabupaten Tangerang untuk dipimpin oleh golongan muda amatlah terbuka. Itupun jika kita berpatok pada apa yang sudah terlihat hari-hari terakhir ini. Jika saja “para calon” yang dielus itu berjalan lancar, maka pertarungan politisi muda itu akan benar-benar terwujud.

Biar jelas, mari kita perinci siapa saja mereka itu. Ada dua nama yang kini santer disebut. Masing-masingnya adalah Haji Ahmad Subadri dan Zaki Ismet Iskandar. Keduanya memiliki modal awal yang mirip-mirip. Sama-sama menjadi tokoh puncak di partai yang berbeda (di Partai Demokrat dan di Partai Golkar). Sama-sama berposisi sebagai pejabat publik (satu di DPD RI, dan satu lagi di DPR RI). Sama-sama representasi tokoh lokal, lahir, besar, dan berproses di Tangerang. Dan sama-sama telah mengerek tali proklamasi: menebar nama dan wajah via spanduk ataupun baliho.

Peta Kamu Muda

Sama sekali bukan kekonyolan nyinyir andai mematok dua nama itu sebagai kandidat kuat. Hitungannya jelas: dua nama itu memiliki kendaraan dan basis politik yang sudah terkondisikan. Kalau memakai parameter sederhana, kendaraan Partai Demokrat adalah sangat cukup untuk mengantar seseorang menjadi kandidat. Kendaraan Partai Golkar pun sama belaka. Sementara basis politik kedua tokoh itu pun telah tersedia. Keduanya sudah punya pasukan…

Bagaimana dengan nama lain di luar yang dua itu? Tetap saja masih terbuka. Mengutip istilah Ruhut Sitompul, Belanda masih jauh… Tahapan pendaftaran dan penetapan calon masih beberapa bulan lagi. Ingat pula, politik adalah the art of possibility (seni segala kemungkinan). Kalau saja boleh berharap, mudah-mudahan saja nama-nama yang akan segera menyusul juga adalah kaum muda.

Gairah Anak Muda

Berikutnya adalah melacak gelagat politik dan keberpihakan kaum muda Tangerang. Adakah tawaran ketokohan dari dua nama yang kini “sudah beredar” itu membetot urat hasrat mereka? Atau justru ditanggapi biasa-biasa saja. Pokok soal ini memang masih debatable (sangat bisa diperdebatkan). Namun ada kecenderungan untuk menangkap dengan penuh gairah.

Namun semuanya bisa terjawab jelas justru dari sumbernya sendiri. Adakah dua nama yang kita perbincangkan ini juga tanggap dengan selera anak-anak muda? Bisakah mereka menyelami, bahwa tradisi anak muda saat ini adalah bagian dari “anak zaman”? Yang mengagungkan gaya hidup, tren, hysteria, dan semuanya memiliki akar tunjang yang sama, yaitu budaya (gila) teknologi informasi.

Kata kunci untuk memasok daya tarik politik bagi kaum muda saat ini (termasuk di Kabupaten Tangerang) tak jauh-jauh dari masalah ini: teknik pengemasan. Tak mungkin lagi meraih simpati anak-anak muda dengan gaya kolot, konservatif, atawa cara-cara jadul. Ikhtiar politik untuk mengkapitalisasi (memanfaatkan) gaya hidup anak muda wajib dilakukan.

Lagipula, perangkat untuk mengkampanyekan diri melalui “jalur gaul” itu relatif murah dan mudah (via sosial media, even populis, dan rekayasa pesan). Tantangan terberat hanyalah pada masalah modal kreativitas dan inovasi. Memasok pesan untuk anak muda kudu sesuai dengan jiwa mereka. Alias berwarna progresif, atraktif, dan inovatif. Nah, andai saja seperti itu pola pertarungan Pilkada di Kabupaten Tangerang, maka akan sangat menggairahkan. Semoga saja…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s