Surat Untuk Kandidat (Catatan Awal Pilkada Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahiem…

Assalamu’alaikum, WR.WB.

Salam sejahtera, untuk Anda semua —para kandidat Bupati Kabupaten Tangerang, periode 2013-2018. Ungkapan “salam sejahtera” barusan, pasti tak berlebihan. Agak sukar dibayangkan, bahwa orang “tak sejahtera” berani menjadi kontestan Pilkada. Kecuali sejumlah orang yang nekat, mencalonkan diri jadi Bupati, padahal kemampuan ekonominya mati suri… Dan tipe yang terakhir ini, biasanya langsung mati, sebelum ajang Pilkada dimulai…

Nyaris bisa dijamin penuh, bahwa Anda Semua yang kini punya nama —-yang melesat dalam bursa Pilkada Kabupaten Tangerang— bukan sejenis manusia nekat dan petarung politik kelas ayam kampung. Sebab nama-nama itu sudah beredar di kalangan masyarakat luas. Menjadi bahan diskusi di segala pojok. Meletupkan rasa penasaran dan spekulasi. Menggiring opini publik untuk terus mengamati.

Nama-nama Anda bahkan sudah bertebaran di seantero Kabupaten Tangerang. Menghiasi tiap ruas ruang publik, entah melalui baliho, spanduk, atau tercetak dengan tinta tebal di koran-koran lokal. Nama (dan wajah Anda) pun begitu familiar, lantaran merangsek masuk ke rumah-rumah penduduk. Entah dalam bentuk sticker, kalender, atau flyer (semacam kertas bergambar ukuran besar, yang mencantumkan nama-nama kandidat). Dalam bahasa ilmu politik modern, nama-nama kotestan Pilkada ini melesat dalam popularitas.

Bahkan belakangan, sudah terasa gelagat bahwa “nama-nama hebat” itu tengah bertarung keras. Menjadi “ter”, untuk segala kategori. Ter-populer. Paling ter-kenal. Skor ter-tinggi (untuk peringkat popularitas). Dan mungkin juga ter-favorit (sebagai calon paling diunggulkan). Operasi politik seperti itu selain butuh kerja keras dan cerdas, pasti pula memerlukan kucuran dana nan deras. Kalau arus keuangannya kering, mana bisa?

Publik mahfum sudah. Bahwa langkah operasi politik guna mengerek popularitas tak bisa dilakukan dengan serampangan. Hanya mereka yang telah terlatih, dengan organisasi modern, bermodal perangkat teknologi informasi canggih, dan bersandar pada metodologi ilmiah, yang mampu melakukannya. Merekalah yang menyandang sebutan manis: konsultan politik. Mereka pulalah yang dalam kontestasi Pilkada senantiasa kebagian rezeki manis, berjudul kontrak kerja. Kata sahibul gossip, angka-angka kontrak kerja untuk para konsultan ini selalu berbunyi “M”. Kalaupun tidak segitu, ya, paling tidak setengah M, atau seperempat M. Pokoknya, selalu (M)ahal.

Atas semua kenyataan itu, sangat patut bagi kami (warga biasa) memberikan apresiasi. Paling kurang, dengan munculnya nama-nama Anda sebagai calon kuat, maka naluri politik kami punya ruang penyaluran. Tak cuma berbentuk kasak-kusuk atau ikut-ikutan jadi tim sukses. Melainkan lebih dari itu, bahwa kehadiran nama-nama besar di Pilkada Tangerang ini memberikan kesempatan untuk mengasah daya kritis, dan menuangkan aspirasi.

Pilkada adalah momentum politik lokal yang multi dimensi. Meletupkan kesadaran politik segala pihak. Olehnya, tak perlu heran bila kemudian berlahiran rupa-rupa cara dari rakyat jelata. Mulai dari cara paling sehat, hingga cara paling jahat…

Lapisan terbawah rakyat, mungkin mengincar kontestasi Pilkada untuk meletupkan kemarahan-kemarahan. Karena terlalu lama jengkel dengan segala problem dan kerumitan hidup —yang tak pernah terurai dengan jelas. Di lapisan ini pula sering menyembul ancaman-ancaman serius, semacam niat untuk melakukan pembalasan. Jangan abaikan fakta ini. Karena memang sejatinya ajang Pemilu, per teori, adalah ajang mendelegitimasi status kekuasaan yang tidak berpihak. Pemilu (termasuk Pilkada) adalah skenario demokratis untuk melakukan rotasi dan pergantian kekuasaan politik.

Lalu masih ada lapisan lain yang piawai memanfaatkan momentum Pilkada untuk tujuan-tujuan spesifik. Kalangan ini berada di golongan kelas menengah. Hati-hati dengan kelompok ini. Selain sangat terdidik, well informed (tahu informasi), juga memiliki jaring-jaring politik yang melebar ke mana-mana. Dan di titik awal seperti sekarang, kelompok ini lah yang menjadi the second media (media lapis kedua), yang mengharu biru isu Pilkada.

Saudara-Saudara Kandidat yang Saya hormati…

Di sinilah sebaiknya fokus perhatian Anda (para kandidat Bupati) harus hadir. Bukan hanya teori komunikasi yang pernah mengingatkan potensi politik kelas ini, yaitu sebagai the persuader (para pembujuk, pembisik, sekaligus tukang kasak-kusuk). Melainkan konteks terkini yang memberikan segala fasilitas yang memanjakan daya dobrak politik kelas menengah ini. Mereka bisa bermain isu dengan memanfaatkan pelbaga wahana dan media. Hitung saja, perkembagan mesin gadget yang bisa dikelola untuk semua jenis media massa. Via gadget, segala urusan tetek bengek Pilkada bisa hadir. Teramat mudah saat ini untuk merekam, memanipulasi, menyebarkan, mengolah, mengemas, dan mempopulerkan segala rupa fakta (atau bahkan sekedar isu).

Lagipula, kelompok menengah ini yang memiliki ruang kebebasan lebih besar. Beda dengan para elit politik, ketua partai, ataupun lapisan atas yang memiliki kedekatan khusus dengan para calon. Lapisan elit politik relatif lebih hati-hati dan terikat. Waktu kerja mereka pun sangat terbatas, dan dari sisi jumlah, tak ada apa-apanya dibanding lapisan kelas menengah.

Saudara-Saudara Kandidat Pilkada Kabupaten Tangerang…

Lihatlah statistik. Betapa banyak kantong suara kritis yang kini akan bermain. Betapa hebat artikulasi mereka. Betapa banyak fasilitas yang dimiliki. Hingga itu, jagalah stamina dan kesabaran, guna menghadapi “permainan” dari kelompok ini. Agar Anda bisa mendulang manfaat, seraya menyingkirkan mudharat. Hanya itu…

Wassalamu’alaikum, WR.WB.

Iklan

3 comments on “Surat Untuk Kandidat (Catatan Awal Pilkada Tangerang)

  1. Mantap…!!!
    Mudah2an para kandidat yg ingin memimpin Tangerang akan terbuka mata hatinya agar sungguh2 ingin memimpin demi rakyat……..

  2. Punten….. Retorika Politk Akang Bagus dan Menarik, Tapi sedikit aneh kalau Akang yang menulis………… Berpolitik Itu Mesti Objectif (Posisi Netral bukan TIMSES) & Tidak Tendensius serta memiliki dialektika yg baik……. Tangerang Kondisinya Memprihatinkan Kondisi Pemerintahannya & Kondisi Masyarakatnya karena Banyak Orang Pintar & Orang Hebat di Kabupaten Tangerang yang “HANYA BERETORIKA SAJA,& KRITIS HANYA SEBAGAI ALAT UNTUK DEKAT & MENJILAT PENGUASA…”……. Punten Kang, Hampura kalau Komentar Aing dianggap salah,….

  3. lagi menghimpun percaya diri padahal secara otak nalarnya merasa pasti kalah…karena walaupun ada 4 pasangan cuma 3 pasangan yg akan mendulang suara di atas 10%..salam demokrasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s