Dialog Ringan Aktivis Muda Tangerang Barat

Tukang Becak, Tanjung Pasir, dan Diskusi Subandi Musbah

Oleh: Supi El Bala

Jalan ke Tanjung Pasir masuk ke dalam Pasar Mauk (29 Desember 2011 pkl. 10.30)

Gila tukang becaknya…! ga mau minggir nongkrong aja di tengah jalan padahal mulut gerobakku di depan hidungnya. Kelakson dibunyikan berkali-kali dijawab dengan sengiran. Wajah tak berdosa memperlihatkan kejedingan telinganya. Padahal aku sudah bilang beberapa kali (dengan sopan dan tulus) “mohon maaf, Pak Numpang lewat” tapi tetap jongjon saja dengan sengiran ledekan dan itu ternyata ditujukkan oleh semua komunitas Tukang Becak di sana. What haven with u? Becak drivers community of Mauk Mart? Whats wrong with me? Semua isi grobakku geleng-geleng kepala….

Untung ada tukang Parkir. Selamatlah perjalananku sampai ke ujung jalan Pasar Mauk?

***

Seumur hidupku yang akrab dengan Pasar–krn bapakku seorang pdagang–Aku mengenal Pasar (luar dalam) Kresek (Selasa-Sabtu), Cayur (Senin/Kamis), Bedeng (Jumat), Ceplak (Rabu+Minggu), Balaraja Lama (Senin+Kamis), Balaraja Santiong (all days). Belum pernah kutemukan sikap tukang becak sepert ini.

Dan aku (dulu) kenal dengan beberapa tukang becak karena mereka langganan Bapakku.

Teringat masa kecil, Jika Tukang Becak tersebut istirahat di rumah Ortuku aku paling disayang oleh mereka pujian  yang masih teringat “Si ganteung…” Dijungjungnya aku ke pundak mereka, Gandong Sungkling atau Didudukan aku di becaknya dan mereka dengan senang hati membawaku ke dalam kampung. Nama mereka yang masih nempel di kepalaku: Mang Jumran, Mang Mala dan Mang Marta.

Kriteria Tukang becak terakhir yang paling menyanyangiku, ku beri nilai sembilan (di mana keberadaanmu sekarang Mang?)

Rasanya tak (ingin) kulupakan hingga kini…

Di dalam relung hatiku yang paling dalam tidak ada rasa dendam dan penyesalan terhadap tukang becak tadi siang.

Yang mengganjal di hatiku cross culture saja mungkin atau personality characteristic tukang becak di sana. Jika saja ini ku peroleh informasi dari aktivis daerah sana maka tinggal transfer informasi kepada para pengemudi gerobak di daerahku.

Jika pengemudi di daerahku (lain juga) yang ber-refreshing ke daerah Pantura khususnya Tanjung Kait dan Tanjung Pasir (daripada ke Anyer atau Pantai selatan) efeknya dampak disharmonisasi antara pengemudi dan tukang becak sehingga dapat mengoreksi fluktuasi arus wisatawan domestik ujungnya memberi warna signifikan terhadap sektor real daerah Pantura.

IBROH DARI UNTUNG JAWA (2005-2011)

Pertama kali saya datang ke Pulau Untung Jawa, 2005 suasana pulau itu sangatlah kumuh dengan jumlah pengunjung bisa dihitung.

Tetapi alangkah terkejutnya saya begitu melihat homestay kumuh yang dulu kami (termasuk istri) singgahi sekarang tertata dengan rapi. Saya patut acungi Jempol untuk Pemda DKI. Tidak ada anak tiri dalam hal ini berarti !!

Apa Tanggapan istriku ditanya bagaimana dengan Tanjung Pasir (2005-2011). “Tampak mukanya kasep sebab ada (mungkin dipersiapkan) karena bentuk simbolis peresmian Ibu Ani Yudhoyono. Tempat parkir yang luas. Mushola yang ‘cukup’ refresentatif. Tapi widow….  penataan bangunan pinggir pantainya seperti Betharia Sonata: “Kau masih seperti yang dulu….”

Intinya, Sangat jauh tumbuh kembangnya dengan Untung Jawa.

Objektifitasku. Adalah melihat titik kemajuan Tanjung Pasir yakni bibir pantai yang sudah dihadang dengan Turab kokoh membuktikan bahwa ini salah satu langkah positif untuk membendung Abrasi.

Disisi lain juga sudah terdengar suara drum anak-anak muda. Ini kemajuan mungkin bayangan terinspirasi oleh pantai-pantai Anyer yang menyediakan tempat kreatifitas para kawula tua-muda. Kenapa tempat main belum tercover?

INTERMEZO SUBYEKTIF

Sebelum Traveling menuju Untung Jawa. Cacing dalam perut kami berdemonstrasi ria. Akhirnya sebagai kepala rombongan saya putuskan untuk memesan ikan bakar CS di Tanjung Pasir. Disela waktu menunggu dahar tiba-tiba HP saya berbunyi Scren menulis nama Subandi Musbah. Pertanyaan pertama sudah dipastikan “Posisi dimana Kang?” kujawab dengan jujur. Pertanyaan kedua biasanya itu “Mengganggu tidak?” tetapi “Weh sudah memberikan memberikan kontribusi dong untuk Pantura?”

Arah pertanyaannya bukan sentimen daerah. Aku faham betul arah pertanyaannya menohok akan inkonsistensi diri ini dalam mempertahankan argumentasi teori terhadap aplikasi diri untuk melaksanakan kata-kata dalam diskusi panjang kami dengan aktivis dan tokoh di Tangerang Barat.

Artinya jangan lips service doang doooong! Ngomong A kelakuan B (ini berkorelasi positif dengan tingkat loyalitas seseorang).

Bahwa dalam sebuah diskusi panjang kami tentang pembangunan daerah mandiri saya pernah mengajukan Swadesi, Mahatma Ghandi. Singkatnya, Akulturasi Swadeshi: jangan sampai uang kita dikarungi di luar daerah. Konsep 3 M, AA Gym jd pisau bedahnya.

Alasan saya (tepatnya ngeles) adalah pertama ini rewards untuk anak yang (memang) memenuhi harapan kami dalam meraih prestasi sekolah. Ini tidak bisa tidak, tuntutannya satu, renang di Laut!

Kedua, tidak ada pilihan lain. Sebab Pulo Cangkir memang ‘sangat’ (yang dipetiki boleh dibaca 2 kali, kok) tidak refresentatif. Pengalaman ini membawa trauma ketika pasca Idul Fitri saya sekeluarga memutuskan menuju Wisata Kronjo.

Alhamdulillah, kami dapat masuk ke pulo yg (juga) sudah lama tak kami kunjungi plus anak-anak pun belum pernah sama sekali ke sana. Itu pun tentunya sudah dengan perjuangan keras. Bayangkan daerah sekecil itu ketika Idul Fitri harus menampung Ratusan Ribu pengunjung dengan manajerial dan dukungan tidak maksimal.

Sangat khawatir sekali ketika si Kakak tetap ngotot kudu nyebur ke air yang luar biasa kotor dan banyak sampahnya. Ibunya sudah luar biasa maksimal melarang. Tapi anak-anak itu Bocah, Bodo cahcahan, Tidak peduli perkatakaan benar asal melihat itu sebuah kesenangan ya kudu dirasakan.

Trauma sangat mendalam di sanubariku ketika jalan menuju pulang begitu keluar dipintu exit kami dihadapkan manusia yang menyemut ribuan. Imajinasiku ingat cerita para Haji yang selamat dari trowongan Mina sehingga dalam rangka melindungi Si Dede ku pasang dada, kami terjepit dalam pusaran ribuan Orang. reaksi spontan, ibunya memindahkan si bungsu ke tanganku. Dijunjunglah anak di atas pundak. Ibunya melindungi si Kakak yang sudah berteriak, nangis.

Tidak cukup disitu panas terik menggosongkan kulit Balitaku. Ibunya berteriak histeris. Ah serba salah…!

Alloh melindungi keluarga kami di belakang gubuk geribik bebas sengatan Matahari yang ku proteksi agar tidak diisi orang lain dan datanglah pertolongan Alloh berikutnya dengan wasilah tukang perahu. Migrasilah 3 orang yang kukasihi ke atas sampan.

Tinggal aku sendiri menerobos barisan ribuan blokade orang-orang yang memiliki nafsu menjambangi Pulo itu, untuk mengambil kuda roda dua yang kutitip di tempat parkir. Sungguh arus keluar masuk pengunjung semrawut kusut tak sejalur.

—Ini mungkin yg bisa sy jawab Kang Subandi. Mengapa inkonsistensi, terjadi. Walaupun ini pertanyaan ke sekian kali dan mgkn mjd renungan sy. Jangan sampai lari ke luar negeri walaupun 1 Penny, mirip asanisasi PEPSI.

BECAK DAN TANJUNG PASIR

Jika saja sanggup sedikit mencontek pantai Anyer atau pantai-pantai yang lain. Bisa saja Becak menjadi kendaraan hiburan alternatif dalam area wisata untuk menikmati keindahan Pantura yang terpampang ehm Panjang di Tangerang.

Dan, minimal membagi jumlah kisaran becak di Pasar Mauk. Tingkat persaingan internal tukang becak dan kemacetan pun diminimalisir. Cuma waspadanya ketika ini digelontorkan pengusaha besarlah nanti memasok becaknya. hahahaha….

Yang jelas saya sepakat dengan Bang Wawan Sanwani dalam diskusi semalaman di rumah Bang Yayat Biaro. Bahwa cost etis itu mahal harganya. Maksudnya cost etis itu pembiayaan untuk penyadaran masyarakat terhadap penyimpangan etika perikehidupan yang terinfeksi virus pragmatis dan instanistis agar tidak menjadi endemi di setiap liding sektor.

Dan konsep Agus Supriyatna saling membesarkan (Saya namai saja Konsep SABILULUNGAN, Bang Agus boleh protes dalam diskusi nanti!) dalam spirit yang sama menjadi terapi kunci diskusi. Cost Etis dan Sabilulungan akulturasi alternasi untuk membentuk civil society.***)

 

SUPI EL-BALA (SUPIYATNA)

Lulusan FKIP Unila

Praktisi Pendidikan

Pernah menulis saja….

Selain itu, tidak ada yang mau dibanggakan dari sosok ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s