Masa Kecil Kita di Tangerang Barat

Pernik 1:

Masa Kecil Kita di Tangerang Barat

Ingatan Silam di Tangerang Barat

Masa kecil kita dulu, murah tapi meriah. Segala mainan dibuat sendiri. Dimainkan bersama. Semuanya disediakan oleh alam.

Masih ingat dengan gatrik? Jangan tanyakan itu kepada anak-anak sekarang. Mereka tentu lebih mengenal Point Blank, dan terlalu fasih dengan sejumlah Game di Play Station atau Internet.

Gatrik adalah keterampilan memainkan potongan kayu, dengan cara memukulnya ke udara, hingga melambung jauh. Permainan ini biasa dilakukan anak-anak zaman baheula, di Tangearng Barat (terutama di Desa saya, di Parahu, Kecamatan Sukamulya, dan saya yakin, kawan-kawan di Balaraja, Kresek, dan yang lainnya juga mengenal ini dengan baik).

Masih ada sederetan daftar “permainan anak-anak” tempo doeloe. Rata-rata dibuat sendiri. Tak pernah beli di Mall —zaman itu, di Balaraja, toko terbesar adalah toko Adul, belum ada Toserba Sahabat. Ciri dan karakter permainan juga mirip-mirip, yaitu dimainkan bersama, alias komunal. Di sini, letak kerjasama tim sangat dibutuhkan. Beda dengan anak-anak sekarang, yang “hanya bermain sendiri melawan komputer”. Nuansa khas permainan waktu dulu adalah tergantung musim. Kadang musim main layangan, musim perang-perangan (atau babedilan, senjata pistol dari bambu). Di waktu lain, muncul pula musim gundu, musim karet gelang, dan musim nonton layar tancap.

Apa perlunya memanggil kembali semua memori yang telah lewat itu?

Pendek saja. Bahwa dulu, anak-anak bebas bermain tanpa harus bermodal uang. Miskin, sangat miskin, kaya, sangat kaya, tak ada bedanya. Semua permainan adalah gratis, hanya tergantung pada keterampilan dan kreativitas. Bahan-bahan untuk bermain, tinggal cari di kebon, ada pohon bambu, ada kulit buah jeruk bali, ada batang pohon kiray untuk membuat lem, ada kali yang airnya bersih dan mengalir deras, ada lapangan terbuka, dan begitu banyak pohon buah-buahan untuk “dicuri”. Catatan penting lainnya: permainan anak-anak zaman itu selalu dilakukan bersama. Hingga terbina watak gotong royong, guyub, ceria.

Beda dengan zaman sekarang. Anak-anak harus membeli semua: mainan di Mall, Play Station, Ninetendo, HP, Laptop, atau bayar sewa Warnet. Lagipula, mereka menjadi sangat individualis, karena bermain sendiri-sendiri…

Inilah yang hilang dari anak-anak era multimedia kini…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s