Daftar Mainan Tradisional di Balaraja (era 80-an)

Memori Tempo Doeloe, saat libur panjang sekolah.

Mainan Anak Anak Tradisional

Membuat mainan tradisional ala anak kampung, benar-benar mengasyikan. Di sini, kreativitas, imajinasi, dan keterampilan benar-benar menentukan. Semua bahan mainan tersedia di alam. Kagak pake beli… (ada memang yang dibeli, seperti kertas, gundu, atau karet gelang, tapi murah banget).

  1. Main Petak Umpet (satu orang  jadi “kucing”, yang lain berhamburan bersembunyi di segala tempat). Permainan ini paling asyik dimainkan bersama ketika malam Bulan Puasa.
  2. Main Baledeg! Atau galasin… Caranya, membuat kotak bergaris di tanah (dengan menciptakan ruang-ruang seperti kamar). Ini juga permainan komunal (bersama-sama), dan dibuat dua tim yang bersaing.
  3. Main Congklak, yang dibuat dengan cara melubangi tanah, dan menggunakan  batu kerikil. Nah, percaya, kan? Tak ada yang beli. Gratis melulu…
  4. Main Babedilan, atau pistol-pistolan, yang terbuat dari bambu, dipotong, lalu dibuat pasak untuk mendorong peluru, dan untuk menghasilkan efek gema, maka diujung lubang depan, dilapis dengan pecahan botol. Pong..Pong..Pong.. Begitu bunyinya. Untuk peluru, cukup pergi ke kebon, petik buah Darohak atau Kihuru (maaf, dua nama buah itu tak ada padanannya dalam Bahasa Indonesia).
  5. Main mobil-mobilan. Dibuat dari bambu, berbentuk rangka mobil. Lalu untuk ban atau roda, cukup mencuri sendal bekas di Mushola (he..he..he..). Sandal lalu dikikis melingkar membentuk roda. Jadilah… (Tak pernah membayangkan ada mainan remote control seperti anak-anak sekarang ini).
  6. Main Gatrik. Dengan cara memukul-mukul potongan kayu ke udara, lalu ditepis hingga melambung jauh. Siapa yang sanggup memukul hingga titik paling jauh, maka dialah yang jadi pemenang. Gatrik dalam bahasa Indonesia adalah Gatrok! He..he.. bo’ong, saya tak tahu apakah orang Jakarta mengenal Gatrik…
  7. Main Layangan. Nah, ini paling asyik. Bikin rangka sendiri dari bilah bambu, yang dihaluskan, dibentuk sesuai keinginan. Lalu cari kertas, atau kalau perlu beli di warung. Jenis-jenis layangan sangat beragam. Ada layangan Bulan Satanggal (yang ekornya panjang minta ampun), ada layangan Gagentongan, Papangantenan, Papalisiran, Papetek, Jajalemaan, jeung sajabana. (Wah, maaf, yang ditulis miring itu sama sekali tak ada padanannya dalam Bahasa Indonesia).Hari ini, layangan memang masih jadi favorit. Tapi semuanya kudu beli. Benang gelasan beli… Benang biasa juga beli. Kertas beli.. Eh, layangannya pun beli juga. Kalau dulu, benang gelasan untuk adu kuat (untuk memutuskan benang layangan lawan) tak perlu beli. Cukup dengan menumbuk pecahan gelas atau botol sampai halus, lalu direkat dengan lem yang dididihkan di kompor (atau tungku bakar).
  8. Main Sepeda. Mainan satu ini benar-benar membuat lupa waktu. Dulu, waktu kecil, saya bahkan sanggup mengayuh sepeda bersama kawan-kawan dari Desa Parahu, Kecamatan Balaraja, sampai ke Pulau Cangkir, di Kecamatan Keronjo. Main Sepeda juga sangat menarik dilakukan di Bulan Puasa, sambil nyanyorean atau ngabuburit. Namun jujur saja, khusus untuk main sepeda, tak ada anak-anak yang sanggup bikin sendiri, yang satu ini harus beli (tapi cukup murah, tak seperti sepeda zaman sekarang).
  9. Main Tenda-Tendaan atau Camping. Tak perlu seragam Pramuka atau atribut Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam), untuk beramin tenda-tendaan ini. Karena tinggal pilih lokasi, bisa di tengah  sawah, di pinggir hutan, di dalam kebun, atau malah di pinggir rumah. Lalu pancang dan pasang tenda sederhana, dari tiang bambu, dan untuk atap serta bagian atas, memakai kertas karton, koran atau kain punya Ibu…
  10. Main Jajangkuran atau Engrang. Mainan yang satu ini butuh nyali, sebab memungkinkan anak-anak terpeleset jatuh. Jajangkuran atau Engrang adalah alat mainan dibuat dari bambu. Potongan bambu seperti tongkat, lalu dibagian agak bawah, dibuat pasak untuk meletakkan kaki (seperti alat untuk berpijak). Dan butuh teknik khusus agar bisa berjalan dengan tiang bambu itu…
  11. Main Wayang Golek. Waktu itu, tahun 80-an, jagat Balaraja dan sekitarnya sangat gandrung dengan Wayang Golek. Dalang paling beken, dikenal via Radio dan Kaset, adalah Cecep, Utju Sita, Suwanda, dan entah siapa lagi (lupaJ). Mainan Wayang Golek dibuat dari potongan dahan dan daun pisang, dibentuk menyerupai kepala golek. Atau kalau ada kertas tebal, digunting membentuk tubuh wayang.
  12. Main Sandal Bakiak. Waktu itu, sandal favorit dan dianggap bergengsi adalah Sandal Plastik Merek Lily. Sandal itu bukan main awet, pasti bukan dari bahan plastik limbah. Tapi ada juga sandal bakiak, yang terbuat dari kayu, dan bisa dipakai bermain. Kletok, kletok, kletok…
  13. Main Bakar-Bakaran atau Babeleuman. Maksudnya adalah membakar kayu, sampah, di kandang kerbau atau di tempat terbuka lain. Lalu, setelah api padam dan tersisa abu arang, maka mulailah beraksi. Dengan membuat pais kejo (nasi dibungkus daun pisang), dan dimasukan ke dalam sisa-sisa bakaran api. Kalau tidak begitu, bisa juga dengan memasukkan singkong dan ubi. Semua makanan itu, diangkat atau diambil setelah dianggap matang. Rasanya? Tak tahulah…

//

Iklan

2 comments on “Daftar Mainan Tradisional di Balaraja (era 80-an)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s