Daftar “Mainan Alam” di Tangerang Barat

Daftar “Mainan Alam” di Tangerang Barat (era 80-an)

((Daftar ini berlaku di beberapa Desa di Balaraja, Sukamulya, dan mungkin juga di beberapa kecamatan lain di Tangerang Barat)

 

Siapapun, jika memang besar dan tumbuh di Tangerang Barat (Balaraja dan sekitarnya), pasti akan mengingat dengan jelas, daftar mainan dan hiburan di era silam. Terutama yang pernah menjadi anak-anak dan ABG di era 80-an. Mari simak…

Mainan Alam:

  1. Mandi dan berenang di sungai (kalau saya, di Desa Parahu, lokasi favorit adalah sungai yang membelah Desa Tobat dan Desa Parahu, melewati samping barat Terminal Santiong, dan menyempit sekaligus kotor oleh sampah pasar dan buangan RPH (Rumah Potong Hewan, di Desa Parahu).
  2. Bermain di Sawah. Memandikan kerbau. Menggiring bebek. Atau “mengacak-acak” sawah yang banjir air. Terkadang juga sembari memburu burung, mencari belut, mencari ikan, atau sekedar iseng main lempar-lemparan lumpur.
  3. Memanjat pohon. Mencuri buah jambu monyet, buah jambu, buah nanas pagar, buah mangga, buah rambutan, dan lain sebagainya. Kalau saya, di Desa Parahu, rajin mencuri buah jambu air, buah jambu monyet, yang banyak tersedia di Kuburan Cina.
  4. Mencari kayu bakar. Anak-anak zaman dulu, di Balaraja tahun 1980-an, sambil bermain masih bisa membantu orang tua. Caranya: mengumpulkan kayu bakar, ranting kering, atau potongan-potongan dahan, untuk dibawa pulang. Ini selalu menjadi penyelamat jika main terlalu lama, karena Ibu tak jadi marah —anaknya pulang membawa kayu bakar.
  5. Menyabit rumput. Ini pun, bagian dari mainan. Karena dilakukan bersama, sambil bercanda dan tertawa-tawa. Rumput disabit dengan, ya, dengan sabit! Bentuk alat potong rumput dan jerami itu mirip Clurit, tetapi lengkungannya lebih pendek, serta tak setajam senjata milik kaum Carok di Madura. Oh, iya, dalam bahasa kampung Parahu di Balaraja, Sabit disebut dengan Arit…
  6. Membendung Sungai, ketika musim kemarau, agar seluruh ikan menjadi mudah ditangkap. Tentu, posisi kita harus di belakang bendungan, yang airnya nyaris kering, dan ikan menggelepar-gelepar nyaris mampus…
  7. Ngobor, malam hari, dengan membawa obor, lampu petromax, atau belor (baterei besar). Ngobor dilakukan untuk mencari belut (atau lindung).
  8. Memancing, menjala, dan membius ikan. Memancing biasanya di sungai. Menjala biasanya dilakukan di empang besar atau rawa-rawa. Sementara membius (mencampur air dengan racun, kalau tak salah nama racunnya adalah potas, atau cangkaling), dilakukan di mana saja… Tentu ini adalah permainan mengasyikan untuk memperoleh ikan.
  9. Memburu burung dengan katapel (atau bahasa Sunda Balaraja, adalah Jepretan!). Waktu itu, tahun 80-an, begitu banyak jenis burung berterbangan liar. Ada burung Peking (burung Pipit), burung perkutut, tekukur, Sasikatan, Jog-jog, Gereja, dan bahkan burung gagak atau burung hantu. Kini, entah ke mana berbagai jenis burung itu. Jika ingat ke masa itu, saya sering heran, mengapa kawan-kawan bisa membidik dengan tepat ke kepala burung dengan katapel? Sementara saya tak pernah bisa. Tentu saja, selalu gagal dalam bidikan, karena mata saya ternyata…minus (dan waktu itu belum memakai kacamata).
  10. Ngangon Kebo, atau menggembala. Anak-anak Desa (kampung), pasti setuju kalau menggembala disebut juga sebagai agenda bermain. Lantaran sembari menunggu kerbau merumput, mereka sibuk bermain sendiri. Saking asyiknya bermain, tak jarang, kerbau mapal (berpergian jauh, melewati kebun dan sawah milik orang lain).
Iklan

One comment on “Daftar “Mainan Alam” di Tangerang Barat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s