Daftar Hiburan Era 80-an di Tangerang Barat

Daftar Mainan (dan Hiburan) Moderen di Tangerang Barat

(Berlaku di Balaraja dan Sekitarnya, Era Tahun 80-an)

 

Tahun 80-an, bukan berarti kuno atau Jadul sekali. Karena saat itu, dunia sudah mengenal teknologi moderen. Hanya belum terdigitalisasi seperti saat ini. Bahkan, beberapa cikal bakal teknologi moderen sudah dikenal. Misalnya televisi, film, video, Tetris, Gamewatch, atau bahkan komputer (untuk komputer, saya pribadi mengenalnya di awal tahun 90-an, masih sangat kuno, pakai disket, dan kemampuan komputer saat itu hanya untuk mengolah data).

Berikut Daftar Mainan Anak-Anak Tahun 80-an, yang bernuansa moderen, di Balaraja dan sekitarnya:

Tetris atau Gamewatch. Nama Tetris memang belum dikenal, tetapi display dan bentuk permainannya sudah ada. Gamewatch saat itu hanya titik-titik gambar  bergerak, dengan suara berisik, dan “diinstal” di dalam kotak persegi, dengan layar yang sempit.

Video. Tahun 80-an itu, di kampung saya, di Desa Parahu, Kecamatan Balaraja, hanya ada dua orang yang punya piranti video, yaitu Almarhum Haji Astadjaja, beliau adalah Mantri Kesehatan yang buka praktek dan klinik di Desa Parahu (dulu namanya terkenal sekali). Satu lagi adalah Haji Dedi (mantan Kepala Desa Pasir Gadung, dan mantan Anggota DPRD Kabupaten Tangerang, Fraksi Golkar, dulu beliau sering datang ke Desa Parahu, karena isterinya berasal dari situ).

Tapi ingat, file film tersimpan dalam pita seluloid, dalam kotak persegi seperti Batu Bata, kalau tak salah merk video cassete-nya adalah Betamax… Sudah begitu, kualitas gambarnya juga buram berbintik-bintik, dengan suara kresek-kresek. Yang saya ingat, untuk menonton video,harus antri dan duduk berjejer, karena orang berjubel ingin ikut menonton.

Radio. Program Radio Favorit era 80-an, kalau tidak musik Jaipong, musik dangdut, musik pop, maka pastilah bernama: Dongeng Berbahasa Sunda dan Sandiwara Saur Sepuh…

Khusus tentang Dongeng Radio, yang menjadi favorit adalah Abah Selud, Aki Balangantrang, Abah Mangku, dan … (lupa). Judul-judul dongeng dan tokohnya yang terkenal, misalnya, Si Kulub, Si Rawing, Martini Tanding Werjit, Liontin Emas, Harendong, dan entah apalagi. Sementara untuk Sandiwara Radio, yang meledak dan benar-benar ditunggu adalah: Saur Sepuh, Tutur Tinular, dan Nenek Lampir…

Ukuran Radio waktu itu memakai istilah band (dibaca ban, bukan ben). Bentujk radio selalu kotak persegi. Paling kecil adalah ukuran 2 band, paling besar 6 band (itupun yang saya tahu). Belum ada stereo set, minicompo, atau Radio Digital seperti sekarang. Malah, di beberapa tempat, misalnya di warung-warung tempat nongkrong, Radio menggunakan cashing kayu tripleks, dan gelombangnya dipatri hanya di satu saluran, alias tak bisa diputar ada digerakkan ke channel yang lain…

Oh, iya. Energi untuk menyalakan Radio di waktu itu adalah dengan memakai batu baterei, ukuran kecil, sedang dan besar. Merek Batu Baterei yang terkenal bagus saat itu adalah National, ABC, dan Eveready.

Televisi. Hanya ada satu saluran, yaitu TVRI (Televisi Republik Indonesia). Gambar televisi pun hanya hitam dan putih (atau degradasi dari dua warna itu, kalau melah tampak coklat, kalau kuning tampak abu-abu). Tak ada suara bass atau treblle. Agar terlihat berwarna, biasanya dilapisi dengan plastik warna-warni, bagian atas merah, tengah biru, dan bawah kuning…

Bentuk Televisi selalu kotak, dengan layar cembung ke depan, dan bagian belakang menggelembung. Televisi biasanya diletakkan di kotak lemari khusus, dan memakai kaki. Televisi bisa dinyalakan normal, kalau cadangan energi dari Accu (Aki) masih penuh. Kalau Accu (Aki) kosong, maka gambar akan tampak bergoyang-goyang, dan ada lipatan hitam di pinggir kanan, kiri, atas, dan bawah, lalu… pyet, gambar hilang sama sekali. Waktu itu, di Desa Saya, di Parahu, Balaraja, belum ada listrik…

Acara favorit saat itu, menurut saya, adalah Selekta Pop (hiburan musik Pop, setiap malam minggu, kalau tak salah per dua minggu). Kemudian Aneka Ria Safari (hiburan campuran, musik Pop dan musik Dangdut, yang dikelola oleh Almarhum Eddy Sud). Lalu, Film Boneka Si Unyil. Berikutnya: Film Akhir Pekan…

Begitu memasuki era 90-an, muncul RCTI dan SCTV. Televisi pun sudah banyak yang berwarna. Nah, acara-acara favorit saat itu mulai bermunculan. Seperti film-filem serial yang tayang tiap malam. Saya pribadi, sangat mengidolakan sejumlah film seri, seperti:

–          MacGyver

–         Air Wolf

–         Knight Rider

–          Miami Vice

–         Satria Baja Hitam

–           My Secret Identity

–          The Real American Hero

–           Beverly Hils 90210 dan 21 Jump Street

Bioskop, Gedung Film. Jangan membayangkan bioskop waktu itu menggunakan AC (pendingin ruang, Air Conditioner). Kursi untuk duduk pun dari kayu, terkadang sudah banyak digerogoti rayap. Layarnya hanya satu, sangat lebar, dan warnanya nyaris kusam. Suara yang keluar juga hanya dari speaker TOA, atau Salon Besar, bising tak karuan. Seingat saya, di Tangerang Barat, Bioskop hanya ada di Cisoka dan Ceplak (nama Bioskopnya adalah Ceplak Permai). Pernah juga ada bioskop di Balaraja, tapi umurnya tak lama.

 

Yang menarik dari Bioskop atau Gedung Film tempo doeloe, adalah tiap sore ada promosi dari mobil yang keliling kampung, membagi-bagikan kertas bergambar film yang akan tayang, serta pembicara berteriak-teriak dari speaker, tentang kehebatan film yang akan diputar. Judul dan artis film yang merajai bioskop era 80-an adalah: Jaka Sembung, Si Hantu dari Goa Buta (eh, salah, Si Buta dari Goa Hantu), dengan aktor: Barry Prima dan Advent Bangun. Kalau artis perempuan, diantaranya adalah: Eva Arnaz, Enny Beatrix, dan Suzzana.

Film Layar Tancap. Ini hiburan murah meriah. Ditayang malam hari. Biasanya untuk merayakan pesta pernikahan atau khitan. Yang unik dari Film Layar Tancap era 80-an, adalah penonton datang berjejal-jejal. Tak sedikit dari mereka yang datang membawa tikar, bantal dan selimut (nonton, atau tidur?). Layar tancap dikenal juga dengan Misbar, alias kalau gerimis langsung bubar. Para pedagang pun berbaris di pinggir jalan. Selain jajanan Bakso, ada juga oleh-oleh: seperti leupeut, bacang, lalemper, dan kacang rebus (atau kacang garing).

Wayang Golek, Jaipongan. Topeng (Sandiwara Panggung, atau sejenis Ketoprak). Wayang Golek, tak perlu diceritakan, semuanya sudah tahu, dan sampai sekarang masih bertahan. Begitu pula Jaipongan.

Yang menarik adalah justru Topeng, yang di Betawi disebut Lenong, di Jawa Ludruk, dan di Jawa Timur adalah Ketoprak. Semuanya adalah panggung komedi para pelawak tradisional, yang mengocok perut penonton dengan bahasa-bahasa lelucon, goyangan lucu, dan gabungan musik serta cerita sandiwara. Di Balaraja dan sekitarnya, Grup Topeng ternama adalah Topeng Tolay, Topeng Gentong, Topeng Centong, dan ada beberapa lagi. Kini, hiburan topeng mulai naik daun lagi (mungkin orang bosan dengan jenis hiburan yang lain).

Iklan

3 comments on “Daftar Hiburan Era 80-an di Tangerang Barat

  1. betul sekali apa yg tertulis diatas,sy baru sempat buka2 dan kebetulan diantaranya pd th trsbt sy sendiri yg membawakan dongeng sunda,saat itu disiarkan di radio daerah tanggerang ,seperti judulPANGABAKTI HIJI MONYET,SI ITOK,SI KULUP,MARTINI TANDING WEREJIT DLL.was abah selud

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s