Khas dan Unik di Tangerang Barat

Lebaran di Kampung

Pernik:

Tradisi Berlebaran di Tangerang Barat

Oleh: Endi Biaro

Artikel ini menjadi pemenang dalam lomba Artikel Blog

di detik.com, bertema Puasa dan Idul Fitri

Dua puluh tahun lalu tak pernah ada bayangan bahwa akan hadir suatu masa ketika lebaran menjadi begitu mendebarkan. Pontang-panting mencari rezeki. Bergulat dalam mencukupi kebutuhan. Tersaruk-saruk untuk bisa pulang. Berjibaku dalam urusan-urusan sandang-pangan-papan. Mencurahkan segenap daya upaya dalam mengejar…uang.

Lebaran hari ini, memetik puisi Situr Sitomorang, adalah laksana  99 cahaya bulan (penuh pendar pesona). Sementara lebaran tempo doeloe, seperti ada di dalam kuburan (menjadi sisa masa lalu, tak akan lagi muncul).

Dua puluh tahun lalu, bahkan tak terbayangkan bahwa ada harga yang sedemikan melangit.

Dua puluh tahun lalu, tradisi lebaran sangat jauh dari provokasi iklan media, godaan gaya hidup hedonis para selebritis, dan jebakan belanja dari pusat-pusat pertokoan.Bahkan di awal Ramadhan sekalipun, transaksi bisnis dan jual beli produk lebaran, sudah begitu terasa. Hampir-hampir tak bisa dibedakan, antara lebaran sebagai tradisi Islam, dengan lebaran yang murni momentum pasar!

Kemewahan zaman itu hanyalah memiliki sandal plastik merk Lily (yang begitu awet dipakai). Koleksi baju baru cukup satu, dibeli di pasar tradisional atau kredit dari Tukang Nganjuk (penjaja barang kredit) yang rata-rata berasal dari Tasikmalaya. Persis di hari lebaran, rekreasi utama adalah ziarah ke kuburan tua —dengan pepohonan besar nan rindang, sejuk, dan boleh disebut sebagai hutan mini.

Lebaran dua puluh tahun lalu, duhai, begitu banyak fasilitas gratisan! Olehnya galib saja bila semua berlangsung jauh dari kesempurnaan.

Bagaimana mau bayar? Semuanya hasil olahan dan kreativitas umat di segala pelosok desa. Dibuat bareng-bareng. Gotong royong menyediakan apa saja yang perlu —guna memeriahkan Idul Fitri. Kerjasama meracik pelbagai kebutuhan, dari mulai kue, dekor masjid, kebersihan lingkungan, hingga ke urusan merevarasi beduk (agar nyaring ditabuh). Kalaupun ada yang harus dibeli, itupun hasil dari urunan warga (uang patungan). Semuanya menjadi ringan-ringan saja. Hingga tak ada perbedan mencolok, antara lebaran ala orang kaya dan lebaran alakadarnya…

Mari mulai satu per satu…

Untuk makanan ringan dan penganan di rumah, cukup dengan rajin menyumbang (sedikit) bahan-bahan pokok ke tetangga, dan hasilnya adalah kue yang sudah jadi. Tentu tak cukup dengan menyumbang barang, melainkan juga tenaga. Ini, misalnaya, terjadi dalam pembuatan kue dodol (khas Sunda, seperti dodol Garut, tetapi tanpa pewarna dan pemanis macam-macam). Membuat dodol laksana persiapan tahlilan. Orang datang berduyun-duyun. Kaum Hawa sibuk di dapur, kaum Adam berkeringat mengaduk adonan. Begitu semua proses selesai, dodol itupun dibagi rata.

Lalu tentang persiapan merias desa —agar terlihat meriah dan berpendar. Orang-orang datang ke hutan bambu. Membuat potongan-potongan pendek. Dijadikan obor (lampu minyak) penerang jalan. Sisanya yang lain, untuk menambah bising suasana, dibuatlah Bom Bambu (seperti meriam, tapi dari bambu dan berbahan minyak tanah atau repihan batu karbit).

Tak lengkap, tentu saja, jika belum menyervis beduk. Alat tabuh pengingat waktu sholat itu, di hari lebaran justru menjadi instrumen musik yang menggempita. Jangan tak percaya, di kampung kami, dulu, tabuh beduk acap menjadi kompetisi yang melelahkan. Orang berlomba adu kuat adu lama main beduk. Lawannya adalah tetangga desa —atau pihak mana saja yang siap meladeni. Maka ritme bebunyian khas dari kulit kerbau atau sapi itupun datang susul menyusul. Hingga belum tentu selesai dalam satu minggu full.

Lebaran dua puluh tahun lalu, meriah tapi murah. Semarak tapi cukup uang seribu dua ribu perak. Mengasyikan. Karena segalanya dipikul bersama-sama.

Saking kentalnya iklim komunal itu, nyaris terlihat sangat kuno.

Kami melewati tahap demi tahap menuju lebaran dengan semua orang. Seminggu sebelum lebaran, begadang saban hari gelap, demi menjaga harta bersama, yang bernama kerbau di kandang. Daripada harta paling berharga itu lenyap digasak maling, lebih baik ronda bergantian. Tapi tak ada rasa penat dan jenuh di situ, sekaligus juga tak ada bayaran (meskipun ini mirip profesi Satpam). Lantaran suasana begitu guyub, penuh gelak canda. Hingga waktu lewat tanpa terasa. Kalaupun ada upah, barangkali adalah sepotong irisan daging yang dibagikan pemilik kerbau, ketika hari H menjelang dan kerbau dipotong. Sepotong daging kebersamaan.

Persis di malam takbiran, melantunkan gema Allahu Akbar tanpa putus-putus. Tak ada yang keluyuran untuk pacaran, semua hadir di masjid —termasuk untuk tidur, jika mata tak kuat melek. Tak perlu malu, meski di situ ada pria, ada wanita, ada tua ada muda. Spontan saja, tidur berjamaah di segala pojok Masjid. Dan di ujung malam, ramai-ramai berangkat ke sungai. Byurrr… menyelam sampai puas di cuaca dingin mencucup. Tetapi heboh karena mandi beramai-ramai.

Dua puluh tahun lalu, tak pernah mengira bahwa lebaran hari ini adalah urusan pribadi per pribadi. Semuanya ajang komersialisasi.

Orang-orang berlebaran sesuai dengan selera dan ketebalan kantong masing-masing. Semua serba ada —sejauh bisa bayar. Suasana ramai, meriah, dan gempita memang jelas terasa. Tetapi orang hadir sebagai “kerumunan”, bukan paguyuban —datang dengan kapasits masing-masing. Karena harus bayar satu per satu. Aroma uang dan komersialisasi teramat pekat. Meski judulnya gratis, seperti nonton televisi semalam suntuk, tapi tak bebas dari virus iklan dan strategi pemasaran.

Tak ada lagi kue dodol yang dibuat dan dibagi rata. Hilang sudah lampu penerang jalan dari bambu obor (yang juga dibuat bareng-bareng), digantikan lampu listrik (dari masing-masing rumah, dan dibayar atas nama rekening perorangan). Sepi saja gotong royong di areal masjid, untuk membersihakan dan memberi dekorasi. Entah ke mana pula lomba tabuh beduk yang meriah itu —karena orang berwisata ke tujuan sendiri-sendiri. Orang pun lupa, untuk serempak membersihkan dan membuat rapi areal lingkungan masing-masing.

Lebaran dua puluh tahun lalu, kini, ku kenang dengan kalbu pilu…

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s