Daftar “Mainan Alam” di Tangerang Barat

Daftar “Mainan Alam” di Tangerang Barat (era 80-an)

((Daftar ini berlaku di beberapa Desa di Balaraja, Sukamulya, dan mungkin juga di beberapa kecamatan lain di Tangerang Barat)

 

Siapapun, jika memang besar dan tumbuh di Tangerang Barat (Balaraja dan sekitarnya), pasti akan mengingat dengan jelas, daftar mainan dan hiburan di era silam. Terutama yang pernah menjadi anak-anak dan ABG di era 80-an. Mari simak…

Mainan Alam:

  1. Mandi dan berenang di sungai (kalau saya, di Desa Parahu, lokasi favorit adalah sungai yang membelah Desa Tobat dan Desa Parahu, melewati samping barat Terminal Santiong, dan menyempit sekaligus kotor oleh sampah pasar dan buangan RPH (Rumah Potong Hewan, di Desa Parahu).
  2. Bermain di Sawah. Memandikan kerbau. Menggiring bebek. Atau “mengacak-acak” sawah yang banjir air. Terkadang juga sembari memburu burung, mencari belut, mencari ikan, atau sekedar iseng main lempar-lemparan lumpur.
  3. Memanjat pohon. Mencuri buah jambu monyet, buah jambu, buah nanas pagar, buah mangga, buah rambutan, dan lain sebagainya. Kalau saya, di Desa Parahu, rajin mencuri buah jambu air, buah jambu monyet, yang banyak tersedia di Kuburan Cina.
  4. Mencari kayu bakar. Anak-anak zaman dulu, di Balaraja tahun 1980-an, sambil bermain masih bisa membantu orang tua. Caranya: mengumpulkan kayu bakar, ranting kering, atau potongan-potongan dahan, untuk dibawa pulang. Ini selalu menjadi penyelamat jika main terlalu lama, karena Ibu tak jadi marah —anaknya pulang membawa kayu bakar.
  5. Menyabit rumput. Ini pun, bagian dari mainan. Karena dilakukan bersama, sambil bercanda dan tertawa-tawa. Rumput disabit dengan, ya, dengan sabit! Bentuk alat potong rumput dan jerami itu mirip Clurit, tetapi lengkungannya lebih pendek, serta tak setajam senjata milik kaum Carok di Madura. Oh, iya, dalam bahasa kampung Parahu di Balaraja, Sabit disebut dengan Arit…
  6. Membendung Sungai, ketika musim kemarau, agar seluruh ikan menjadi mudah ditangkap. Tentu, posisi kita harus di belakang bendungan, yang airnya nyaris kering, dan ikan menggelepar-gelepar nyaris mampus…
  7. Ngobor, malam hari, dengan membawa obor, lampu petromax, atau belor (baterei besar). Ngobor dilakukan untuk mencari belut (atau lindung).
  8. Memancing, menjala, dan membius ikan. Memancing biasanya di sungai. Menjala biasanya dilakukan di empang besar atau rawa-rawa. Sementara membius (mencampur air dengan racun, kalau tak salah nama racunnya adalah potas, atau cangkaling), dilakukan di mana saja… Tentu ini adalah permainan mengasyikan untuk memperoleh ikan.
  9. Memburu burung dengan katapel (atau bahasa Sunda Balaraja, adalah Jepretan!). Waktu itu, tahun 80-an, begitu banyak jenis burung berterbangan liar. Ada burung Peking (burung Pipit), burung perkutut, tekukur, Sasikatan, Jog-jog, Gereja, dan bahkan burung gagak atau burung hantu. Kini, entah ke mana berbagai jenis burung itu. Jika ingat ke masa itu, saya sering heran, mengapa kawan-kawan bisa membidik dengan tepat ke kepala burung dengan katapel? Sementara saya tak pernah bisa. Tentu saja, selalu gagal dalam bidikan, karena mata saya ternyata…minus (dan waktu itu belum memakai kacamata).
  10. Ngangon Kebo, atau menggembala. Anak-anak Desa (kampung), pasti setuju kalau menggembala disebut juga sebagai agenda bermain. Lantaran sembari menunggu kerbau merumput, mereka sibuk bermain sendiri. Saking asyiknya bermain, tak jarang, kerbau mapal (berpergian jauh, melewati kebun dan sawah milik orang lain).
Iklan

Daftar Mainan Tradisional di Balaraja (era 80-an)

Memori Tempo Doeloe, saat libur panjang sekolah.

Mainan Anak Anak Tradisional

Membuat mainan tradisional ala anak kampung, benar-benar mengasyikan. Di sini, kreativitas, imajinasi, dan keterampilan benar-benar menentukan. Semua bahan mainan tersedia di alam. Kagak pake beli… (ada memang yang dibeli, seperti kertas, gundu, atau karet gelang, tapi murah banget).

  1. Main Petak Umpet (satu orang  jadi “kucing”, yang lain berhamburan bersembunyi di segala tempat). Permainan ini paling asyik dimainkan bersama ketika malam Bulan Puasa.
  2. Main Baledeg! Atau galasin… Caranya, membuat kotak bergaris di tanah (dengan menciptakan ruang-ruang seperti kamar). Ini juga permainan komunal (bersama-sama), dan dibuat dua tim yang bersaing.
  3. Main Congklak, yang dibuat dengan cara melubangi tanah, dan menggunakan  batu kerikil. Nah, percaya, kan? Tak ada yang beli. Gratis melulu…
  4. Main Babedilan, atau pistol-pistolan, yang terbuat dari bambu, dipotong, lalu dibuat pasak untuk mendorong peluru, dan untuk menghasilkan efek gema, maka diujung lubang depan, dilapis dengan pecahan botol. Pong..Pong..Pong.. Begitu bunyinya. Untuk peluru, cukup pergi ke kebon, petik buah Darohak atau Kihuru (maaf, dua nama buah itu tak ada padanannya dalam Bahasa Indonesia).
  5. Main mobil-mobilan. Dibuat dari bambu, berbentuk rangka mobil. Lalu untuk ban atau roda, cukup mencuri sendal bekas di Mushola (he..he..he..). Sandal lalu dikikis melingkar membentuk roda. Jadilah… (Tak pernah membayangkan ada mainan remote control seperti anak-anak sekarang ini).
  6. Main Gatrik. Dengan cara memukul-mukul potongan kayu ke udara, lalu ditepis hingga melambung jauh. Siapa yang sanggup memukul hingga titik paling jauh, maka dialah yang jadi pemenang. Gatrik dalam bahasa Indonesia adalah Gatrok! He..he.. bo’ong, saya tak tahu apakah orang Jakarta mengenal Gatrik…
  7. Main Layangan. Nah, ini paling asyik. Bikin rangka sendiri dari bilah bambu, yang dihaluskan, dibentuk sesuai keinginan. Lalu cari kertas, atau kalau perlu beli di warung. Jenis-jenis layangan sangat beragam. Ada layangan Bulan Satanggal (yang ekornya panjang minta ampun), ada layangan Gagentongan, Papangantenan, Papalisiran, Papetek, Jajalemaan, jeung sajabana. (Wah, maaf, yang ditulis miring itu sama sekali tak ada padanannya dalam Bahasa Indonesia).Hari ini, layangan memang masih jadi favorit. Tapi semuanya kudu beli. Benang gelasan beli… Benang biasa juga beli. Kertas beli.. Eh, layangannya pun beli juga. Kalau dulu, benang gelasan untuk adu kuat (untuk memutuskan benang layangan lawan) tak perlu beli. Cukup dengan menumbuk pecahan gelas atau botol sampai halus, lalu direkat dengan lem yang dididihkan di kompor (atau tungku bakar).
  8. Main Sepeda. Mainan satu ini benar-benar membuat lupa waktu. Dulu, waktu kecil, saya bahkan sanggup mengayuh sepeda bersama kawan-kawan dari Desa Parahu, Kecamatan Balaraja, sampai ke Pulau Cangkir, di Kecamatan Keronjo. Main Sepeda juga sangat menarik dilakukan di Bulan Puasa, sambil nyanyorean atau ngabuburit. Namun jujur saja, khusus untuk main sepeda, tak ada anak-anak yang sanggup bikin sendiri, yang satu ini harus beli (tapi cukup murah, tak seperti sepeda zaman sekarang).
  9. Main Tenda-Tendaan atau Camping. Tak perlu seragam Pramuka atau atribut Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam), untuk beramin tenda-tendaan ini. Karena tinggal pilih lokasi, bisa di tengah  sawah, di pinggir hutan, di dalam kebun, atau malah di pinggir rumah. Lalu pancang dan pasang tenda sederhana, dari tiang bambu, dan untuk atap serta bagian atas, memakai kertas karton, koran atau kain punya Ibu…
  10. Main Jajangkuran atau Engrang. Mainan yang satu ini butuh nyali, sebab memungkinkan anak-anak terpeleset jatuh. Jajangkuran atau Engrang adalah alat mainan dibuat dari bambu. Potongan bambu seperti tongkat, lalu dibagian agak bawah, dibuat pasak untuk meletakkan kaki (seperti alat untuk berpijak). Dan butuh teknik khusus agar bisa berjalan dengan tiang bambu itu…
  11. Main Wayang Golek. Waktu itu, tahun 80-an, jagat Balaraja dan sekitarnya sangat gandrung dengan Wayang Golek. Dalang paling beken, dikenal via Radio dan Kaset, adalah Cecep, Utju Sita, Suwanda, dan entah siapa lagi (lupaJ). Mainan Wayang Golek dibuat dari potongan dahan dan daun pisang, dibentuk menyerupai kepala golek. Atau kalau ada kertas tebal, digunting membentuk tubuh wayang.
  12. Main Sandal Bakiak. Waktu itu, sandal favorit dan dianggap bergengsi adalah Sandal Plastik Merek Lily. Sandal itu bukan main awet, pasti bukan dari bahan plastik limbah. Tapi ada juga sandal bakiak, yang terbuat dari kayu, dan bisa dipakai bermain. Kletok, kletok, kletok…
  13. Main Bakar-Bakaran atau Babeleuman. Maksudnya adalah membakar kayu, sampah, di kandang kerbau atau di tempat terbuka lain. Lalu, setelah api padam dan tersisa abu arang, maka mulailah beraksi. Dengan membuat pais kejo (nasi dibungkus daun pisang), dan dimasukan ke dalam sisa-sisa bakaran api. Kalau tidak begitu, bisa juga dengan memasukkan singkong dan ubi. Semua makanan itu, diangkat atau diambil setelah dianggap matang. Rasanya? Tak tahulah…

//

Daftar Hiburan Era 80-an di Tangerang Barat

Daftar Mainan (dan Hiburan) Moderen di Tangerang Barat

(Berlaku di Balaraja dan Sekitarnya, Era Tahun 80-an)

 

Tahun 80-an, bukan berarti kuno atau Jadul sekali. Karena saat itu, dunia sudah mengenal teknologi moderen. Hanya belum terdigitalisasi seperti saat ini. Bahkan, beberapa cikal bakal teknologi moderen sudah dikenal. Misalnya televisi, film, video, Tetris, Gamewatch, atau bahkan komputer (untuk komputer, saya pribadi mengenalnya di awal tahun 90-an, masih sangat kuno, pakai disket, dan kemampuan komputer saat itu hanya untuk mengolah data).

Berikut Daftar Mainan Anak-Anak Tahun 80-an, yang bernuansa moderen, di Balaraja dan sekitarnya:

Tetris atau Gamewatch. Nama Tetris memang belum dikenal, tetapi display dan bentuk permainannya sudah ada. Gamewatch saat itu hanya titik-titik gambar  bergerak, dengan suara berisik, dan “diinstal” di dalam kotak persegi, dengan layar yang sempit.

Video. Tahun 80-an itu, di kampung saya, di Desa Parahu, Kecamatan Balaraja, hanya ada dua orang yang punya piranti video, yaitu Almarhum Haji Astadjaja, beliau adalah Mantri Kesehatan yang buka praktek dan klinik di Desa Parahu (dulu namanya terkenal sekali). Satu lagi adalah Haji Dedi (mantan Kepala Desa Pasir Gadung, dan mantan Anggota DPRD Kabupaten Tangerang, Fraksi Golkar, dulu beliau sering datang ke Desa Parahu, karena isterinya berasal dari situ).

Tapi ingat, file film tersimpan dalam pita seluloid, dalam kotak persegi seperti Batu Bata, kalau tak salah merk video cassete-nya adalah Betamax… Sudah begitu, kualitas gambarnya juga buram berbintik-bintik, dengan suara kresek-kresek. Yang saya ingat, untuk menonton video,harus antri dan duduk berjejer, karena orang berjubel ingin ikut menonton.

Radio. Program Radio Favorit era 80-an, kalau tidak musik Jaipong, musik dangdut, musik pop, maka pastilah bernama: Dongeng Berbahasa Sunda dan Sandiwara Saur Sepuh…

Khusus tentang Dongeng Radio, yang menjadi favorit adalah Abah Selud, Aki Balangantrang, Abah Mangku, dan … (lupa). Judul-judul dongeng dan tokohnya yang terkenal, misalnya, Si Kulub, Si Rawing, Martini Tanding Werjit, Liontin Emas, Harendong, dan entah apalagi. Sementara untuk Sandiwara Radio, yang meledak dan benar-benar ditunggu adalah: Saur Sepuh, Tutur Tinular, dan Nenek Lampir…

Ukuran Radio waktu itu memakai istilah band (dibaca ban, bukan ben). Bentujk radio selalu kotak persegi. Paling kecil adalah ukuran 2 band, paling besar 6 band (itupun yang saya tahu). Belum ada stereo set, minicompo, atau Radio Digital seperti sekarang. Malah, di beberapa tempat, misalnya di warung-warung tempat nongkrong, Radio menggunakan cashing kayu tripleks, dan gelombangnya dipatri hanya di satu saluran, alias tak bisa diputar ada digerakkan ke channel yang lain…

Oh, iya. Energi untuk menyalakan Radio di waktu itu adalah dengan memakai batu baterei, ukuran kecil, sedang dan besar. Merek Batu Baterei yang terkenal bagus saat itu adalah National, ABC, dan Eveready.

Televisi. Hanya ada satu saluran, yaitu TVRI (Televisi Republik Indonesia). Gambar televisi pun hanya hitam dan putih (atau degradasi dari dua warna itu, kalau melah tampak coklat, kalau kuning tampak abu-abu). Tak ada suara bass atau treblle. Agar terlihat berwarna, biasanya dilapisi dengan plastik warna-warni, bagian atas merah, tengah biru, dan bawah kuning…

Bentuk Televisi selalu kotak, dengan layar cembung ke depan, dan bagian belakang menggelembung. Televisi biasanya diletakkan di kotak lemari khusus, dan memakai kaki. Televisi bisa dinyalakan normal, kalau cadangan energi dari Accu (Aki) masih penuh. Kalau Accu (Aki) kosong, maka gambar akan tampak bergoyang-goyang, dan ada lipatan hitam di pinggir kanan, kiri, atas, dan bawah, lalu… pyet, gambar hilang sama sekali. Waktu itu, di Desa Saya, di Parahu, Balaraja, belum ada listrik…

Acara favorit saat itu, menurut saya, adalah Selekta Pop (hiburan musik Pop, setiap malam minggu, kalau tak salah per dua minggu). Kemudian Aneka Ria Safari (hiburan campuran, musik Pop dan musik Dangdut, yang dikelola oleh Almarhum Eddy Sud). Lalu, Film Boneka Si Unyil. Berikutnya: Film Akhir Pekan…

Begitu memasuki era 90-an, muncul RCTI dan SCTV. Televisi pun sudah banyak yang berwarna. Nah, acara-acara favorit saat itu mulai bermunculan. Seperti film-filem serial yang tayang tiap malam. Saya pribadi, sangat mengidolakan sejumlah film seri, seperti:

–          MacGyver

–         Air Wolf

–         Knight Rider

–          Miami Vice

–         Satria Baja Hitam

–           My Secret Identity

–          The Real American Hero

–           Beverly Hils 90210 dan 21 Jump Street

Bioskop, Gedung Film. Jangan membayangkan bioskop waktu itu menggunakan AC (pendingin ruang, Air Conditioner). Kursi untuk duduk pun dari kayu, terkadang sudah banyak digerogoti rayap. Layarnya hanya satu, sangat lebar, dan warnanya nyaris kusam. Suara yang keluar juga hanya dari speaker TOA, atau Salon Besar, bising tak karuan. Seingat saya, di Tangerang Barat, Bioskop hanya ada di Cisoka dan Ceplak (nama Bioskopnya adalah Ceplak Permai). Pernah juga ada bioskop di Balaraja, tapi umurnya tak lama.

 

Yang menarik dari Bioskop atau Gedung Film tempo doeloe, adalah tiap sore ada promosi dari mobil yang keliling kampung, membagi-bagikan kertas bergambar film yang akan tayang, serta pembicara berteriak-teriak dari speaker, tentang kehebatan film yang akan diputar. Judul dan artis film yang merajai bioskop era 80-an adalah: Jaka Sembung, Si Hantu dari Goa Buta (eh, salah, Si Buta dari Goa Hantu), dengan aktor: Barry Prima dan Advent Bangun. Kalau artis perempuan, diantaranya adalah: Eva Arnaz, Enny Beatrix, dan Suzzana.

Film Layar Tancap. Ini hiburan murah meriah. Ditayang malam hari. Biasanya untuk merayakan pesta pernikahan atau khitan. Yang unik dari Film Layar Tancap era 80-an, adalah penonton datang berjejal-jejal. Tak sedikit dari mereka yang datang membawa tikar, bantal dan selimut (nonton, atau tidur?). Layar tancap dikenal juga dengan Misbar, alias kalau gerimis langsung bubar. Para pedagang pun berbaris di pinggir jalan. Selain jajanan Bakso, ada juga oleh-oleh: seperti leupeut, bacang, lalemper, dan kacang rebus (atau kacang garing).

Wayang Golek, Jaipongan. Topeng (Sandiwara Panggung, atau sejenis Ketoprak). Wayang Golek, tak perlu diceritakan, semuanya sudah tahu, dan sampai sekarang masih bertahan. Begitu pula Jaipongan.

Yang menarik adalah justru Topeng, yang di Betawi disebut Lenong, di Jawa Ludruk, dan di Jawa Timur adalah Ketoprak. Semuanya adalah panggung komedi para pelawak tradisional, yang mengocok perut penonton dengan bahasa-bahasa lelucon, goyangan lucu, dan gabungan musik serta cerita sandiwara. Di Balaraja dan sekitarnya, Grup Topeng ternama adalah Topeng Tolay, Topeng Gentong, Topeng Centong, dan ada beberapa lagi. Kini, hiburan topeng mulai naik daun lagi (mungkin orang bosan dengan jenis hiburan yang lain).

Masa Kecil Kita di Tangerang Barat

Pernik 1:

Masa Kecil Kita di Tangerang Barat

Ingatan Silam di Tangerang Barat

Masa kecil kita dulu, murah tapi meriah. Segala mainan dibuat sendiri. Dimainkan bersama. Semuanya disediakan oleh alam.

Masih ingat dengan gatrik? Jangan tanyakan itu kepada anak-anak sekarang. Mereka tentu lebih mengenal Point Blank, dan terlalu fasih dengan sejumlah Game di Play Station atau Internet.

Gatrik adalah keterampilan memainkan potongan kayu, dengan cara memukulnya ke udara, hingga melambung jauh. Permainan ini biasa dilakukan anak-anak zaman baheula, di Tangearng Barat (terutama di Desa saya, di Parahu, Kecamatan Sukamulya, dan saya yakin, kawan-kawan di Balaraja, Kresek, dan yang lainnya juga mengenal ini dengan baik).

Masih ada sederetan daftar “permainan anak-anak” tempo doeloe. Rata-rata dibuat sendiri. Tak pernah beli di Mall —zaman itu, di Balaraja, toko terbesar adalah toko Adul, belum ada Toserba Sahabat. Ciri dan karakter permainan juga mirip-mirip, yaitu dimainkan bersama, alias komunal. Di sini, letak kerjasama tim sangat dibutuhkan. Beda dengan anak-anak sekarang, yang “hanya bermain sendiri melawan komputer”. Nuansa khas permainan waktu dulu adalah tergantung musim. Kadang musim main layangan, musim perang-perangan (atau babedilan, senjata pistol dari bambu). Di waktu lain, muncul pula musim gundu, musim karet gelang, dan musim nonton layar tancap.

Apa perlunya memanggil kembali semua memori yang telah lewat itu?

Pendek saja. Bahwa dulu, anak-anak bebas bermain tanpa harus bermodal uang. Miskin, sangat miskin, kaya, sangat kaya, tak ada bedanya. Semua permainan adalah gratis, hanya tergantung pada keterampilan dan kreativitas. Bahan-bahan untuk bermain, tinggal cari di kebon, ada pohon bambu, ada kulit buah jeruk bali, ada batang pohon kiray untuk membuat lem, ada kali yang airnya bersih dan mengalir deras, ada lapangan terbuka, dan begitu banyak pohon buah-buahan untuk “dicuri”. Catatan penting lainnya: permainan anak-anak zaman itu selalu dilakukan bersama. Hingga terbina watak gotong royong, guyub, ceria.

Beda dengan zaman sekarang. Anak-anak harus membeli semua: mainan di Mall, Play Station, Ninetendo, HP, Laptop, atau bayar sewa Warnet. Lagipula, mereka menjadi sangat individualis, karena bermain sendiri-sendiri…

Inilah yang hilang dari anak-anak era multimedia kini…

Dialog Ringan Aktivis Muda Tangerang Barat

Tukang Becak, Tanjung Pasir, dan Diskusi Subandi Musbah

Oleh: Supi El Bala

Jalan ke Tanjung Pasir masuk ke dalam Pasar Mauk (29 Desember 2011 pkl. 10.30)

Gila tukang becaknya…! ga mau minggir nongkrong aja di tengah jalan padahal mulut gerobakku di depan hidungnya. Kelakson dibunyikan berkali-kali dijawab dengan sengiran. Wajah tak berdosa memperlihatkan kejedingan telinganya. Padahal aku sudah bilang beberapa kali (dengan sopan dan tulus) “mohon maaf, Pak Numpang lewat” tapi tetap jongjon saja dengan sengiran ledekan dan itu ternyata ditujukkan oleh semua komunitas Tukang Becak di sana. What haven with u? Becak drivers community of Mauk Mart? Whats wrong with me? Semua isi grobakku geleng-geleng kepala….

Untung ada tukang Parkir. Selamatlah perjalananku sampai ke ujung jalan Pasar Mauk?

***

Seumur hidupku yang akrab dengan Pasar–krn bapakku seorang pdagang–Aku mengenal Pasar (luar dalam) Kresek (Selasa-Sabtu), Cayur (Senin/Kamis), Bedeng (Jumat), Ceplak (Rabu+Minggu), Balaraja Lama (Senin+Kamis), Balaraja Santiong (all days). Belum pernah kutemukan sikap tukang becak sepert ini.

Dan aku (dulu) kenal dengan beberapa tukang becak karena mereka langganan Bapakku.

Teringat masa kecil, Jika Tukang Becak tersebut istirahat di rumah Ortuku aku paling disayang oleh mereka pujian  yang masih teringat “Si ganteung…” Dijungjungnya aku ke pundak mereka, Gandong Sungkling atau Didudukan aku di becaknya dan mereka dengan senang hati membawaku ke dalam kampung. Nama mereka yang masih nempel di kepalaku: Mang Jumran, Mang Mala dan Mang Marta.

Kriteria Tukang becak terakhir yang paling menyanyangiku, ku beri nilai sembilan (di mana keberadaanmu sekarang Mang?)

Rasanya tak (ingin) kulupakan hingga kini…

Di dalam relung hatiku yang paling dalam tidak ada rasa dendam dan penyesalan terhadap tukang becak tadi siang.

Yang mengganjal di hatiku cross culture saja mungkin atau personality characteristic tukang becak di sana. Jika saja ini ku peroleh informasi dari aktivis daerah sana maka tinggal transfer informasi kepada para pengemudi gerobak di daerahku.

Jika pengemudi di daerahku (lain juga) yang ber-refreshing ke daerah Pantura khususnya Tanjung Kait dan Tanjung Pasir (daripada ke Anyer atau Pantai selatan) efeknya dampak disharmonisasi antara pengemudi dan tukang becak sehingga dapat mengoreksi fluktuasi arus wisatawan domestik ujungnya memberi warna signifikan terhadap sektor real daerah Pantura.

IBROH DARI UNTUNG JAWA (2005-2011)

Pertama kali saya datang ke Pulau Untung Jawa, 2005 suasana pulau itu sangatlah kumuh dengan jumlah pengunjung bisa dihitung.

Tetapi alangkah terkejutnya saya begitu melihat homestay kumuh yang dulu kami (termasuk istri) singgahi sekarang tertata dengan rapi. Saya patut acungi Jempol untuk Pemda DKI. Tidak ada anak tiri dalam hal ini berarti !!

Apa Tanggapan istriku ditanya bagaimana dengan Tanjung Pasir (2005-2011). “Tampak mukanya kasep sebab ada (mungkin dipersiapkan) karena bentuk simbolis peresmian Ibu Ani Yudhoyono. Tempat parkir yang luas. Mushola yang ‘cukup’ refresentatif. Tapi widow….  penataan bangunan pinggir pantainya seperti Betharia Sonata: “Kau masih seperti yang dulu….”

Intinya, Sangat jauh tumbuh kembangnya dengan Untung Jawa.

Objektifitasku. Adalah melihat titik kemajuan Tanjung Pasir yakni bibir pantai yang sudah dihadang dengan Turab kokoh membuktikan bahwa ini salah satu langkah positif untuk membendung Abrasi.

Disisi lain juga sudah terdengar suara drum anak-anak muda. Ini kemajuan mungkin bayangan terinspirasi oleh pantai-pantai Anyer yang menyediakan tempat kreatifitas para kawula tua-muda. Kenapa tempat main belum tercover?

INTERMEZO SUBYEKTIF

Sebelum Traveling menuju Untung Jawa. Cacing dalam perut kami berdemonstrasi ria. Akhirnya sebagai kepala rombongan saya putuskan untuk memesan ikan bakar CS di Tanjung Pasir. Disela waktu menunggu dahar tiba-tiba HP saya berbunyi Scren menulis nama Subandi Musbah. Pertanyaan pertama sudah dipastikan “Posisi dimana Kang?” kujawab dengan jujur. Pertanyaan kedua biasanya itu “Mengganggu tidak?” tetapi “Weh sudah memberikan memberikan kontribusi dong untuk Pantura?”

Arah pertanyaannya bukan sentimen daerah. Aku faham betul arah pertanyaannya menohok akan inkonsistensi diri ini dalam mempertahankan argumentasi teori terhadap aplikasi diri untuk melaksanakan kata-kata dalam diskusi panjang kami dengan aktivis dan tokoh di Tangerang Barat.

Artinya jangan lips service doang doooong! Ngomong A kelakuan B (ini berkorelasi positif dengan tingkat loyalitas seseorang).

Bahwa dalam sebuah diskusi panjang kami tentang pembangunan daerah mandiri saya pernah mengajukan Swadesi, Mahatma Ghandi. Singkatnya, Akulturasi Swadeshi: jangan sampai uang kita dikarungi di luar daerah. Konsep 3 M, AA Gym jd pisau bedahnya.

Alasan saya (tepatnya ngeles) adalah pertama ini rewards untuk anak yang (memang) memenuhi harapan kami dalam meraih prestasi sekolah. Ini tidak bisa tidak, tuntutannya satu, renang di Laut!

Kedua, tidak ada pilihan lain. Sebab Pulo Cangkir memang ‘sangat’ (yang dipetiki boleh dibaca 2 kali, kok) tidak refresentatif. Pengalaman ini membawa trauma ketika pasca Idul Fitri saya sekeluarga memutuskan menuju Wisata Kronjo.

Alhamdulillah, kami dapat masuk ke pulo yg (juga) sudah lama tak kami kunjungi plus anak-anak pun belum pernah sama sekali ke sana. Itu pun tentunya sudah dengan perjuangan keras. Bayangkan daerah sekecil itu ketika Idul Fitri harus menampung Ratusan Ribu pengunjung dengan manajerial dan dukungan tidak maksimal.

Sangat khawatir sekali ketika si Kakak tetap ngotot kudu nyebur ke air yang luar biasa kotor dan banyak sampahnya. Ibunya sudah luar biasa maksimal melarang. Tapi anak-anak itu Bocah, Bodo cahcahan, Tidak peduli perkatakaan benar asal melihat itu sebuah kesenangan ya kudu dirasakan.

Trauma sangat mendalam di sanubariku ketika jalan menuju pulang begitu keluar dipintu exit kami dihadapkan manusia yang menyemut ribuan. Imajinasiku ingat cerita para Haji yang selamat dari trowongan Mina sehingga dalam rangka melindungi Si Dede ku pasang dada, kami terjepit dalam pusaran ribuan Orang. reaksi spontan, ibunya memindahkan si bungsu ke tanganku. Dijunjunglah anak di atas pundak. Ibunya melindungi si Kakak yang sudah berteriak, nangis.

Tidak cukup disitu panas terik menggosongkan kulit Balitaku. Ibunya berteriak histeris. Ah serba salah…!

Alloh melindungi keluarga kami di belakang gubuk geribik bebas sengatan Matahari yang ku proteksi agar tidak diisi orang lain dan datanglah pertolongan Alloh berikutnya dengan wasilah tukang perahu. Migrasilah 3 orang yang kukasihi ke atas sampan.

Tinggal aku sendiri menerobos barisan ribuan blokade orang-orang yang memiliki nafsu menjambangi Pulo itu, untuk mengambil kuda roda dua yang kutitip di tempat parkir. Sungguh arus keluar masuk pengunjung semrawut kusut tak sejalur.

—Ini mungkin yg bisa sy jawab Kang Subandi. Mengapa inkonsistensi, terjadi. Walaupun ini pertanyaan ke sekian kali dan mgkn mjd renungan sy. Jangan sampai lari ke luar negeri walaupun 1 Penny, mirip asanisasi PEPSI.

BECAK DAN TANJUNG PASIR

Jika saja sanggup sedikit mencontek pantai Anyer atau pantai-pantai yang lain. Bisa saja Becak menjadi kendaraan hiburan alternatif dalam area wisata untuk menikmati keindahan Pantura yang terpampang ehm Panjang di Tangerang.

Dan, minimal membagi jumlah kisaran becak di Pasar Mauk. Tingkat persaingan internal tukang becak dan kemacetan pun diminimalisir. Cuma waspadanya ketika ini digelontorkan pengusaha besarlah nanti memasok becaknya. hahahaha….

Yang jelas saya sepakat dengan Bang Wawan Sanwani dalam diskusi semalaman di rumah Bang Yayat Biaro. Bahwa cost etis itu mahal harganya. Maksudnya cost etis itu pembiayaan untuk penyadaran masyarakat terhadap penyimpangan etika perikehidupan yang terinfeksi virus pragmatis dan instanistis agar tidak menjadi endemi di setiap liding sektor.

Dan konsep Agus Supriyatna saling membesarkan (Saya namai saja Konsep SABILULUNGAN, Bang Agus boleh protes dalam diskusi nanti!) dalam spirit yang sama menjadi terapi kunci diskusi. Cost Etis dan Sabilulungan akulturasi alternasi untuk membentuk civil society.***)

 

SUPI EL-BALA (SUPIYATNA)

Lulusan FKIP Unila

Praktisi Pendidikan

Pernah menulis saja….

Selain itu, tidak ada yang mau dibanggakan dari sosok ini.

Para Tokoh Muda Tangerang Barat

Tokoh:

Akhmad Subagdja (Oha)

Staf Ahli Badan Legislasi, DPRD Provinsi Banten

Akhmad Subagdja

Kiprahnya menjelajah ke banyak tempat. Di lingkungan aktivis di Tangerang (dan juga Banten), nama Akhmad Subagdja atau Oha, sudah sangat “beredar”. Alias hadir di mana-mana. Meski begitu, sosok anak muda kelahiran Desa Saga, Kecamatan Balaraja itu, belum juga masuk Partai Politik.

“Belum saatnya saya berpolitik praktis,” demikian ujarnya.

Kini, Oha berprofesi sebagai Staf Ahli di Badan Legislasi, DPRD Provinsi Banten. Sejumlah Ranperda telah ia garap (dari tahap Naskah Akademik, hingga penyusunan DIM, atau Daftar Inventariasi Masalah). Tentu saja, posisinya ini memungkinkan dirinya memahami betul mekanisme Legal Drafting  (proses pembuatan Perda) di Legislatif.

Terkait proses gerakan politik membentuk Kabupaten Tangerang Barat, Alumni Paska Sarjana Program Ilmu Politik di Universitas Indonesia ini mengaku turut mendukung. Dengan sejumlah catatan…

Menurutnya, Ini penting… Agar Tangerang Wilayah Barat  mampu lebih maju dibandingkan dengan daerah lain. Dengan cara membangun akses trasnportasi yang mengubungkan beberapa titik, misalnya dari Solear menuju Jayanti, atau dari Gunung Kaler menuju Mekar Baru.

Sisi lain yang dilihat Oha adalah jangan sampai ada daerah di wilayah Tangerang Barat yang terisolir dari kemajuan…

Para Tokoh di Tangerang Barat

Tokoh:

Isbandi Ardiwinata

Isbandi Ardiwinata,

Ketua TP2TB

Gerakan Pro Tangbar menggelinding kencang. Arah politik dan agenda pergerakan kian menemukan momentum, dengan hadirnya tokoh muda Tangerang Barat, yang kini menjadi Koordinator TP2TB (Tim Percepatan Pemekaran Tangerang Barat.

Nama yang kini berkibar di media massa (Tangerang, Banten) adalah Isbandin Ardiwinata. Pria kelahiran 5 Oktober ini memang dinamis, mewarnai pelbagai kegiatan Pro Tangbar.
Alumni FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) Universitas Pasundan, Bandung ini, selalu mampu menghadirkan terobosan. Terakhir ini, bersama sejumlah intelektual muda di Tangerang Barat, Isbandi membentuk TIM (Tangbar Intelek Media), sebagai organ pemikir di TP2TB. TIM diberikan ruang gerak untuk melakukan riset, telaah akademik, adu gagasan, dan penyebaran informasi terkait isu-isu aktual di Tangbar.
Langkah awal TIM, yang disokong oleh Isbandi, adalah membuat buku bertema Menuju Tangerang Termajukan!
Tak cuma itu, tokoh muda Tangbar ini juga menjadi kontributor tulisan. Denganmenulis artikel yang menyorot gagasan penerapan e-government (tata kelola pemerintahan berbasis digital/internet).

Tangerang Barat dan Konteks Pemekaran Daerah

Wacana:

Tangerang Barat dalam Konteks Pemekaran Daerah

Oleh: Isbandi Ardiwinata

Ketua TP2TB (Tim Percepatan Pemekaran Tangerang Barat)

Pemekaran daerah menjadi fenomena sistem penyelenggaraan pemerintah yang berasaskan desentralisasi di Indonesia sejak diberlakukannya UU No. 32 tahun 2004.

Data terakhir permohonan pemekaran yang masuk ke Kemendagri saat ini mencapai 181 permintaan baik untuk pemekaran provinsi, kabupaten dan kota. Selama 10 tahun terakhir, telah terbentuk 205 daerah otonom baru yang terdiri dari tujuh Propinsi, 164 kabupaten, dan 34 kota. Dengan pemekaran itu, kini terdapat daerah otonom sebanyak 524 daerah yang terbagi atas 33 propinsi, 398 kabupaten, dan 93 kota.

Sehubungan dengan tingginya tuntutan pemekaran daerah di Indonesia, Pemerintah saat ini sedang membuat grand design daerah pemekaran. Sehingga diharapkan ke depan akan meminimalisasi berbagai problematika yang senantiasa timbul dalam penyelenggaraan pemerintahan pasca penetapan daerah otonom baru.

Terdapat beragam alasan masyarakat di suatu daerah menyampaikan usulan pemekaran daerah di Indonesia, meliputi : pertama, Efektivitas Pelayanan Publik dengan dalih lebih mendekatkan sisi public service pada masyarakat di Wilayah hukum suatu daerah yang banyak terkendala dengan faktor geografis; kedua, Peningkatan kesejahteraan Rakyat dengan dukungan data potensi pendapatan daerah yang mampu dikelola secara mandiri bagi kepentingan kesejahteraan masyarakat, ketiga, Sosial-Budaya merupakan suatu tuntutan akibat dukungan kekuatan identitas sosial-budaya lokal, dan kelima Politis merupakan suatu desakan kepentingan untuk meningkatkan kualitas demokrasi lokal.
Dibukanya keran pemekaran daerah di Indonesia merupakan bentuk konsekwensi dari terlaksananya konsep otonomi daerah dalam tatanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kondisi ini tentu saja berbanding lurus dengan komposisi tata kelola kenegaraan yang memiliki heterogenitas aspek geografis, demografis, dan politis yang ditunjang dengan pola penyelenggaraan pemerintahan demokratis. Oleh karena itu, ditengah merebaknya penilaian terhadap banyaknya kegagalan pemerintahan daerah otonom baru (DOB) dalam melaksanakan otonomi daerah pasca pemekaran, Pemerintah tetap akan melaksanakan amanat pemekaran daerah dengan melakukan upaya perbaikan sistem penilaian serta prosedur penetapan.
Pemekaran di Banten

Provinsi Banten sebagai DOB yang telah menginjak usia mendekati 10 tahun penyelenggaraan pemerintahan, memiliki potensi untuk dapat melakukan upaya pemekaran daerah pada wilayah-wilayah Kabupaten/Kota.

Kondisi ini diperkuat pula oleh statemen Gubernur Banten yang tengah melakukan penggodokan grand design bersama kementrian dalam negeri untuk dapat dikembangkan wilayah Kabupaten/Kota di Provinsi Banten hingga mencapai 14 pemekaran daerah otonomi baru (DOB).

Pemekaran DOB setelah sebelumnya dilakukan pemekaran Kota Serang dan Kota Tangerang Selatan hingga berjumlah 8 Kabupaten/Kota, kini diperkirakan meliputi : 1 Wilayah Kabupaten Serang (Serang Barat), 2 daerah di Kabupaten Pandegelang (Caringin dan Cibaliung), 1 daerah di Kabupaten Lebak (Kabupaten Cilangkahan), dan 2 derah di Kabupaten Tangerang (Kabupaten Tangerang Barat dan Kabupaten Utara).

Dari 6 pemekaran DOB yang direncanakan, baru 2 daerah yang telah masuk dalam proses pembahasan pada kementrian dalam negeri, meliputi Kabupaten Cibaliung dan Cilangkahan.

Konsentrasi rencana pemekaran DOB tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor pengembangan wilayah untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui keunggulan potensi daerah yang dimiliki, sehingga akan menciptakan diversifikasi kompetisi prestasi pembangunan. Apabila ditinjau dari kondisi geografis di Kabupaten/Kota se Provinsi Banten, dapat diinventarisasi potensi pengembangan Wilayah Pembangunan yang mencakup : pengembangan zona perindustrian terkonsentrasi pada sebagian besar Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon, zona perniagaan dan sektor jasa terkonsentrasi pada beberapa wilayah di kota se Provinsi Banten, zona pengembangan agro dan pariwisata terkonsentrasi di Kabupaten Serang, Pandeglang dan Lebak, serta zona pengembangan transportasi dan pelabuhan di Kota Tangerang, Kota Cilegon dan Kabupaten Tangerang.

Potensi dukungan ekonomi pada daerah-daerah otonom menjadi modal besar dalam pelaksanaan pemekaran daerah otnomi baru secara bertahap pada beberapa Kabupaten dan Kota di Provinsi Banten.


Pemekaran TANGBAR

Kabupaten Tangerang sebagai bagian dari daerah otonom di Wilayah hukum Provinsi Banten, memiliki peluang besar untuk dapat dikembangkan menjadi 5 Daerah Otonom. Saat ini telah memiliki 3 daerah otonom yang ada meliputi : Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan yang baru saja resmi ditetapkan pada tanggal 29 oktober 2008.
Melihat pada peta potensi pengembangan wilayah, dimungkinkan ke depan akan segera dikembangkan Daerah Otonomi Baru sebanyak 2 Wilayah, meliputi Tangerang Barat (Tangbar) yang meliputi 9 kecamatan terdiri dari Kecamatan Balaraja, Cisoka, Solear, Jayanti, Sukamulya, Gunung Kaler, Mekar Baru, Kresek dan Kronjo, serta Tangerang Utara (Tangut) yang mencakup 9 kecamatan Sepatan, Mauk, Kemiri, Rajeg, Sukadiri, Sepatan Timur, Paku Haji, Teluk Naga, dan Kosambi.

 

Rencana pemekaran pada Tangerang Barat pada hakikatnya telah diupayakan sejak tahun 2007 hampir bersamaan dengan usulan pemekaran pada daerah Tangerang Selatan. Aspek kesiapan data yang telah terhimpun dinilai memiliki potensi besar untuk mampu menjalankan pemerintahan sendiri di Wilayah hukum Pemerintah Provinsi Banten. Kondisi geografis wilayah Tangerang Barat sangat signifikan terhadap standar ukuran untuk dapat ditetapkan menjadi Daerah Otonomi Baru dengan batas wilayah yang dapat ditentukan Bagian Utara berbatasan langsung dengan Laut Jawa, Bagian Timur berbatasan langsung dengan Kabupaten Tangerang sebagai daerah induk, Bagian Barat berbatasan langsung dengan Kabupaten Serang, dan Bagian Selatan berbatasan dengan Kabupaten Lebak. Sementara jarak tempuh Tangbar dengan Pusat Ibukota Republik Indonesia DKI Jakarta selama 45 menit, dan pada Pusat Ibukota Provinsi Banten berkisar selama 30 menit. Berdasarkan data BPS tahun 2009 menunjukkan bahwa luas wilayah Tangbar adalah 264,03 Km2, dengan jumlah penduduk mencapai 573.742 jiwa.
Ketersediaan infrastruktur pemerintahan dapat terlihat dari berbagai akses sarana transportasi yang cukup mampu mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) yang akan dating dengan pemberian peluang kenyamanan investasi pada berbagai sektor pembangunan.

Oleh karenanya Daerah Pemekaran Tangbar hakikatnya mampu menciptakan suatu kawasan transitor investasi di Provinsi Banten dan Indonesia, mengingat kondisi geografis yang berada pada tiang penyangga transportasi perekonomian nasional.

Secara historis, Tangerang Barat memiliki nilai sejarah penting dalam tata kelola pemerintahan di Indonesia. Kecamatan Balaraja pada masa lampau dikembangkan dalam bentuk wilayah adiminstratif pada masa Colonial. Berdasarkan Staatblad Van Het Nederland Indie tahun 1918 no. 185 menyatakan pemerintahan adiminstratif Tangerang dengan luas wilayah 1.309 km2 dan ditetapkan juga sebagai Controler Avedeling dengan empat wilayah administrasi di bawahnya. Sebagai pemimpinnya di pilih seorang Demang dan kemudian diganti dengan Nama Wedana yakni Tangerang, Balaraja, Mauk dan Curug.

Kewedanaan Balaraja jabatan Demang dari tahun 1881 dan pada tahun 1907 diganti menjadi Wedana, dengan pejabat yang ditunjuk terdiri dari: Rangga Jaban Abdole Moehi (17 Maret 1881 – 1907), Mas Martoni Abdoel Harjo (17 Juli 1907 – 1910), Soeid bin Soeoed (31 Oktober 1910 – 1924), R. Soerya Adilaga (22 Mei 1924 – 1925), R. Abas Soerya Nata Atmaja (26 Februari 1925 – 1925), R. Kandoerean Sastra Nagara (28 November 1925 – 1928), R. Achmad Wirahadi Koeseomah (11 Mei 1928 – 1930), Mas Sutawirya (27 Oktober 1930 – 1932), R. Momod Tisna Wijaya (28 Mei 1932 – 1934), Toebagoes Bakri (1 Februari 1934 – 1935), R. Muhamad Tabi Danu Saputra (20 Juni 1935 – 1940), dan Mas Muhamad Hafid Wiradinata (17 Juni 1940 – …).

Tuntutan pemekaran daerah otonomi baru yang mulai marak ditengah masyarakat tangerang barat, nampaknya menjadi harapan besar dalam mengembalikan identitas lokal sebagai bagian besar dari aspek sejarah administratif pemerintahan di Indonesia. Pada sisi lain, kehadiran tangerang barat sebagai daerah otonom di Provinsi Banten akan menjadi magnet utama dalam pengembangan investasi di Provinsi Banten dengan dukungan infrastruktur pemerintahan yang cukup signifikan dalam mendongkrak pendapatan asli daerah untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat secara holistik.
Semoga tulisan ini akan menjadi renungan bagi peningkatan pelayanan publik dalam tatanan pemerintahan di Provinsi Banten melalui pendekatan asas desentralisasi secara riil melalui proses grand strategy pemekaran daerah di Provinsi Banten.

 

By Tangereng Barat Posted in Wacana Dengan kaitkata

Tangerang Barat Unggul dalam Pendidikan

Testimoni:

Yayat Biaro

Yayat  Biaro,

Lawyer, Wakil Sekjen DPP Partai Golkar

Fokus gerakan menuju pembentukan Tangerang Barat harus mengusung kemajuan pendidikan. Karena wilayah Tangerang Barat secara factual lebih menonjol di bidang pendidikan. Sekolah-sekolah terbaik, dari level SD hingga SLTA, hadir di Tangerang Barat.

Begitu juga pondok-pondok pesantren ternama, baik yang berbentuk Salafiyah atau Moderen, juga berada di Tangbar.

Sisi tambahan lain, banyak tokoh-tokoh pendidikan adalah berasal dari Tangerang Barat. Jangan lupa, Perpustakaan Daerah Kabuapten Tangerang, juga berada di Tangerang Barat.

Spirit Islam Untuk Aktivis Tangerang Barat

Islam:

“Sabar” dan “Syukur” untuk Gerakan Pro Tangbar

Seorang sufi cantik, sholehah, tinggal di gurun tandus. Sehari-hari, ibadat dan munajat kepada Allah. Mukanya cerah dan bening. Selubung melingkar di sekujur tubuh. Dengan setia, hari demi hari, menunggui tenda, demi menjamu Sang Suami Pulang. Namun seperti kontrasnya warna hitam dan putih, Sang Suami justru teramat berbeda. Berkulit hitam legam. Buruk rupa. Dengan akhlak yang tak ketulungan kurang ajarnya. Jika memakai bahasa gaul anak layangan (Alay), tampang Si Suami kagak ngangkat!

 

Karuan kenyataan ini membuat orang-orang geregetan. Bisa-bisanya perempuan sholehah jelita bersuamikan muka jelaga…

Salah satu pihak yang penasaran, adalah seorang Sultan (penguasa di wilayah itu). “Wahai Hamba Allah,” kata Sang Sultan kepada si perempuan cantik, “Mengapa Anda bersedia melayani suami Anda yang buruk itu?”

“Wahai Sultan,” jawab perempuan cantik, “kondisi yang saya alami ini justru menguatkan Iman saya. Bukankah Iman itu terdiri dari syukur dan sabar? Saya bersyukur karena Allah telah memberi karunia atas kecantikan, kesehatan, dan ketekunan beribadah. Lalu, saya juga bersabar atas cobaan Allah, dalam bentuk suami yang jelek…”

Mari ambil penekanan pada dua kata: “syukur” dan “sabar”. Maka opening article dalam naskah ini me

mang mengacu ke situ. Dalam konteks ghirah kawan-kawan di Tangerang Barat, terasa amat mengena. Bahwa ikhtiar politik demi menjadikan Tangbar sebagai kabupaten, akan bergumul dengan rupa-rupa peristiwa. Tak akan selamanya mengasyikan, tentu. Sekaligus juga pasti akan terselip sesuatu yang menyenangkan. Whatever, the show must go on…

 

Tentang Sabar

Tak ada David Coperfield (ilusionis kaliber) dalam politik. Pat gulipat sulap dalam politik, hanya berlaku di ujung cerita (biasanya setelah ada pihak yang kalah dan patah). Tapi jika urusannya etape panjang nan melelahkan (seperti perjuangan pro Tangbar), proses yang terjadi senyatanya adalah fakta dan rangkaian aktivitas.

Kawan-kawan aktivis Tangbar kudu “bernafas panjang”.

Sekarang pun bukan main tantangan yang menghadang. Bisik-bisik tetangga malah ramai dengan cemooh: Belanda masih jauh! Anda tentu mahfum, candaan itu arahnya adalah “mimpi Tangbar” masih ada di surge sono…

Cobaan maha berat justru ada di muara kebijakan.

Isu moratorium (meski normatif saja sifatnya),  adalah penghadang paling kokoh.

Mau tak mau, kebijakan moratorium (penundaan sementara) ini menjadi simpul argumen bagi pihak yang kontra terhadap pembentukan Tangbar (menjadi kabupaten). Lalu hadangan melebar ke segara arah: (1) praktek buying time alias buang-buang waktu oleh para pengambil kebijakan dalam menghadapi advokasi pro Tangbar; (2) sifat oportunistik dari para politisi, ini misalnya dari mereka yang tak mau turun jika tak ada arah angin yang kuat dari para penggede untuk mendukung Tangbar; (3)penghembusan opini buruk atas isu pro Tangbar; dan (4) urusan-urusan teknis yang dipersulit (semacam pengkajian akademik, proses drafting, dan sejenisnya).

Bisa jadi, rangkaian batu sandungan ini membuat kita jatuh mental. Atau berbalik menjadi tindakan yang salah arah (disorientasi).

Tetapi, lagi-lagi berkaca dari hikmah Islamiyah,ada sejumlah cara untuk selamat dari rintangan itu. Dari kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir, tersembul nasehat kuat, bahwa proses ber-sabar akan kokoh mana kala kita “mengenal ilmu” dan “mengenal rahasia”.

Bukankah Nabi Musa tak sabar atas perilaku Nabi Khidir yang aneh, justru karena sang nabi tak tahu “ilmu dan rahasia” dari tindakan Khidir? Jika saja tahu,  maka ia tak akan berang melihat Khidir membocori perahu nelayan, membunuh anak-anak, dan menegakkan tembok yang roboh. Ilmu dan rahasia Khidir, di ujung cerita, justru menjelaskan makna sesungguhnya, bahwa perahu nelayan dibuat bocor agar tak digondol para rampok, anak yang dibunuh karena kalau dibiarkan hidup ia akan durhaka pada orang tua, dan tembok yang dibangun lagi menyimpan warisan orang tua dari dua orang anak… Pendeknya, hanya dengan ilmu dan pengetahuan sajalah kita bisa konsisten dalam bersabar.

Kira-kira, seperti itulah perjuangan kawan-kawan pro Tangbar.

Jangan terlalu bermain-main dengan retorika dan kegenitan ala aktivis Forkot dan LMND (di belasan tahun silam). Jauh lebih berfaedah, jika kita tekun mencari pengetahuan politik, tentang seluk beluk memperjuangkan suatu daerah menjadi kabupaten (dan ini bisa dicari di mana-mana).Gali terus dan lacak ilmu dan rahasia politik, untuk memenangkan advokasi pro Tangbar, karena memang keputusan politik kerapkali ada ilmu dan rahasianya yang tersendiri.

Tentang Syukur

Lalu,  apa yang bisa kita syukuri dari advokasi pro Tangbar ini? Hasilnya belum nongol. Dukungan massif masih samar. Para elit juga masih wait and see…

 

Rasa syukur dalam perjuangan Tangbar ada dalam kalimat berikut: “memetik kemenangan-kemenangan kecil”. Ini prinsip paten dalam advokasi (misalnya perjuangan penyelamatan lingkungan hidup berhadapan dengan kapitalis besar, perjuangan penegakkan HAM, dan lain-lain, yang biasanya berakhir dengan kekalahan total, tetapi diwarnai dengan aneka kebaikan-kebaikan).

Keliru tak terampuni jika mimpi Tangbar hanya bersandar di target akhir: yaitu peresemian menjadi Kabupaten. Maksudnya, jangan terlalu fokus ke situ. Mata bisa silau, bila mengabaikan fakta-fakta lain yang patut kita nikmati. Lagipula, bagaimana kalau misalnya kita kalah? Alias proses pembentukan Tangbar tak pernah jadi?

Percaya saja, ada serangkaian proses yang pasti berfaedah banyak. Dan itu,barangkali, akan berbentuk hal-hal yang terlihat sepele —namun penting.

Di mata saya, setidaknya, ada empat kemenangan kecil yang wajib kita syukuri.  Mari kita rayakan…

Pertama, ini sudah terlihat gelagatnya, bahwa ada konsolidasi, ada wahana, ada ikatan silaturahmi antara para aktivis di territorial Tangbar. Dulu, sebelum isu ini muncul, di mana kita pernah bertemu? Kedua, membuka kesempatan berwacana, sosialisasi, dan belajar mendorong kampanye publik. Saya lihat, kawan-kawan begitu getol di titik ini, mulai dari Facebook, publikasi media, sampai bikin kalender segala. Ketiga, peluang mendeteksi potensi kepemimpinan dan (atau) pemunculan sumber daya politik di sekitaran Tangbar.

Terakhir, kempat, kegairahan untuk mempopulerkan “ikon dan penanda” Tangbar —dalam bentuk budaya khas, keunikan,  dan penyebaran dokumen-dokumen sejarah seputar Tangbar. Jujur  saja, ini bagus. Saya sendiri jadi agak awas terhadap sejarah Tangbar era lampau, melalui kawan-kawan yang rajin mengulik dokumen masa lalu di tanah yang kita cintai ini.

Poin yang keempat barusan, bisa disebut sebagai agenda penguatan local genius (kehebatan-kehebatan local) dan indigenous wisdom/ knowledge (membuka kembali pengetahuan dan kebijakan lokal di Tangbar). Tunggu saja, besok-besok mungkin ada kajian tentang para Ulama, para Abuya, pondok-pondok pesantren yang sangat berjasa dalam penyebaran Islam di Tangbar. Lalu, akankah kita kufur nikmat atas semua fakta-fakta ini?