“Jalan Neraka” di Balaraja

Bukan hanya macet, tapi juga tumpukan sampah yang menggunung, bau, menguarkan penyakit, serta becek kala hujan. Inilah yang bisa dinikmati pengguna jalan di Balaraja. Kendaraan mengular panjang, terutama di jam-jam pergi dan pulang kerja (pagi dan sore), hadir di ruas Jalan Balaraja Kresek. Ada jalur alternatif yang lancar, tapi menadah resiko tumpukan sampah (di Jalan Baru, Santiong – PT. PEMI). Baca lebih lanjut

By Tangereng Barat Posted in Berita

Revolusi (dan Sejarah) Perjudian di Balaraja…

Gambar

Hari ini, di Balaraja terjadi Revolusi Judi yang luar biasa daya ledaknya. Melibatkan ribuan orang, dari pria, wanita, muda, tua, dengan beragam-ragam profesi (guru, petani, buruh, polisi, dan bahkan sejumlah “pemuka” agama). Pun akumulasi total uang yang berputar, mencapai ratusan juta rupiah —per malam. Saban malam, di tiap-tiap tongkrongan warung kopi dan kedai Indomie, orang berkerumun memperbincangkan judi. Baca lebih lanjut

Uniknya Pemilihan Kades (di Balaraja) Zaman Kuno….

Pilkades Era Kumpeni

Menurut Ong Hok Ham, dalam buku Wahyu Yang Hilang, Negeri Yang Guncang, diterbitkan Majalah Tempo, 2003, di zaman kolonial Pilkades dilakukan benar-benar murni, dan mencirikan demokrasi yang utuh.

pilkades

Gambarannya adalah: para calon kepala desa di beri kursi di ujung lapangan, mereka duduk berdampingan. Lantas di hadapan para calon itu, dipasang garis memanjang, untuk membentuk antrean para pemilih secara rapi. Jika misalnya ada lima calon, maka akan ada lima baris antrian yang berjejer rapi, dari bagian depan hingga mengular ke belakang. Baca lebih lanjut

Dua Pahlawan Perempuan Pejuang di Balaraja

Kisah Heroik Nyi Mas Gamparan dan Nyi Mas Melati

Nyi Mas Melati

Tulisan ini duplikasi dari penelusuran dokumen oleh Supi El Bala

Nyimas Gamparan dan Milisi Srikandi
Pasca perang Banten dan gerilyanya Sultan Ageng Tirtayasa di daerah hutan pinggiran Bogor, Sajera (1683) hingga tertipu oleh utusan keluarga keraton Surosowan atas permintaan anaknya, Sultan Haji. Sekenario selanjutnya, ditangkap dan meninggal dalam penjara Kompeni Belanda, Benteng Batavia (1692). Perjuangan menghadapi penjajah di Bumi Banten tidak begitu saja pupus. Diantaranya, perang dengan milisi pimpinan Nyimas Gumparo (1829-1830). Baca lebih lanjut

Kisah Anak Kecil diculik Kelong Wewe (Wewe Gombel) di Balaraja

Kelong Wewe

Ini tahun 2013, Mas Bro!!!

Tapi dongeng anak kecil diculik kelong masih “cetar membahana”, bergaung ke seantero Balaraja, mengundang ribuan orang berduyun-duyun datang ke lokasi, persis di Gedung SDN Desa Tobat, Kecamatan Balaraja.

Cerita kuno yang hidup kembali itu memang sudah berlalu (karena si anak hilang sudah kembali). Namun ada beberapa catatan yang lumayan lucu tapi tak perlu ditiru. Baca lebih lanjut

By Tangereng Barat Posted in Berita Dengan kaitkata

Daerah Paling Seram di Balaraja!!!

Serem

Di televisi, saban tahun ada even pemilihan Puteri Indonesia. Dara-dara cantik berlaga mewakili daerah masing-masing. Ada dari daerah Sumatera, Daerah Jawa, Daerah Bali… Tapi, tak ada puteri yang mewakili daerah seram…

Cerita tentang wilayah angker, maka di Balaraja adalah gudangnya (terutama di era 80-an). Jika dikelompokkan, maka ada sejumlah jenis daerah yang menakutkan untuk dilewati (terutama di malam hari). Beberapa diantaranya adalah berbentuk: (1) kuburan atau makam tua; (2) pohon besar; (3) hutan bambu; (4) rawa-rawa; (5) rumah kosong; (6) sumur tua; (7) jembatan; (8) sungai; (9) daerah persawahan yang jauh dari rumah penduduk; dan (10) tempat-tempat khusus yang memang terlihat seram, seperti gedung yang tak terpakai…

Tambahan lain, ada juga lokasi yang tiba-tiba menakutkan. Misalnya, bekas terjadinya kecelakaan, atau lokasi ditemukannya orang tewas dalam karung. Ini bukan khayal. Tahun 80-an, adalah tahun adanya Operasi Penembak Misterius, atau Petrus. Operasi ini dilakukan oleh Militer RI, untuk menghabisi para preman dan begundal yang pentuh tato. Biasanya, mayat di buang dipinggir sawah atau di kolong jembatan.

Sudah pasti, pengelompokan itu tak memasukan manusia yang berwajah jelek dan seram. Karena, itu namanya penghinaan.

Ingat. Semua jenis daerah yang membuat merinding itu terjadi di Balaraja masa silam. Hari ini, tak ada lagi tempat yang sepi. Kalaupun ada, bukan membuat takut. Malah jadi ajang pacaran dan mesum.

Semisal Contoh

Mari lacak contoh satu per satu. Tentang kuburan seram, maka ada beberapa. Di Kedaung, Balaraja (arah mau masuk ke PT Dharma Polymetal) atau makam besar, yang sekaligus dirimbuni pepohonan besar. Ini benar-benar membuat bulu kuduk berdiri. Tahun 80-an, masih jarang rumah di sana. Lalu ada juga kuburan cina di Pasar Sentiong. Waktu itu, melewati (malam hari) Pasar Sentiong sama saja dengan menantang hantu muncul. Hiiii…

Sebetulnya, terlalu panjang jika cerita satu per satu. Pada umumnya, daerah yang dianggap seram adalah lokasi yang jauh dari rumah penduduk. Tetapi selalu dilintasi orang yang berpergian —karena tak ada lagi jalan masuk. Maka lahirlah berbagai versi tentang cerita hantu. Ada yang kesurupuan, ada yang mengaku diganggu suara tertawa, ada yang melihat kuntilanak. Dan lain-lain.

Tak heran pula. Di tahun 80-an, karena masih sepi, maka cerita seram terus berkembang. Terutama untuk membuat orang waspada. Maklum, selain ancaman setan, juga ada ancaman dari para garong yang mengincar barang berharga. Maka, lengkap sudah…

 

 

//

Mengenang Sebuah Zaman Tanpa (Lampu) Listrik

Artikel ini adalah kenangan di Balaraja, pada era 80-an…

Listrik

Mengenang Zaman Tanpa (Lampu) Listrik

—Balaraja Era 80-an—

Masih lekat dalam batok kepala. Ketika Ketua Umum Golkar (saat itu, Tahun 1987), yang bernama Soedharmono (beliau kemudian menjadi Wapres, mendampingi Pak Harto), meresmikan pemakaian Tenaga Listrik PLN untuk daerah Balaraja dan sekitarnya. Lokasi peresmian adalah di Kampung Pekong, Desa Saga, Kecamatan Balaraja. Tepat di sebuah lapangan besar, yang biasa digunakan untuk pertandingan Sepakbola. Baca lebih lanjut

Berbalas Pantun Ala Balaraja (era 80-an)

01

Para pelawak di televisi paling hobi berbalas pantun. Mereka bahkan cenderung memperlebar fungsi pantun. Dulu, pantun adalah gaya bahasa yang indah, halus, dan sopan. Kini, pantun menjadi bahan olok-olok, saling ejek, ledek-ledekkan, dan jauh dari etika kepatutan.

Berpantun ala pelawak memang bertujuan meledakkan tawa. Tetapi, sayangnya, kerap bablas. Lantaran mereka tak sungkan lagi menghamburkan kata-kata vulgar. Pokoknya lebay bin alay…

Di luar lingkungan pelawak, penggunaan pantun saat ini sudah menjadi “gaya hidup”. Para pengguna pantun, tersihir oleh kaidah pantun para pelawak. Mereka pun ikut-ikutan main ledek-ledekan dengan menggunakan pantun. Sesekali, pantun juga dipakai untuk merayu dan menggoda lawan jenis. Contohnya:

Ikan hiu pegel-pegel,

I Love You, Girl…

Atau contoh pantun untuk membuat segar suasana, seperti yang ini:

Buha kopi, buah kedondong,

Ngopi dooonggg…

Pantun Balaraja

Jangan salah, generasi Balaraja era 80-an juga mengenal (dan gemar) berpantun. Dengan beragam variasi. Ada pantun yang menggambarkan suasana sepi di tengah sawah; pantun untuk mengejek perempuan; pantun untuk menertawakan orang tua; atau pantun untuk sekedar mencairkan suasana…

Contoh pantun untuk mengejek perempuan atau lawan jenis:

Salawe dua puluh lima, amis henteu ladana bae…

Awewe zaman ayeuna, geulis henteu, lagana bae…

(Artinya: perempuan zaman sekarang, tidak cantik tapi hanya genit! Nah, pantun ini jelas akan membuat pedas lawan jenis).

Malah ada pula pantun yang sifatnya mengolok-olok perempuan:

Salawe dua puluh lima, sireum ateul dina gelas,

Awewe zaman ayeuna, kelek ateul dihampelas…

(Artinya: perempuan zaman sekarang, kalau ketiak gatal, diampelas, digosok pakai ampelas. Ini jelas ejekan, karena tak mungkin dilakukan).

Berikut pantun yang menggambarkan rasa putus asa karena cinta:

Kica-kica, kuku cina

Teu dipiceun kalokopna…

Cita-cita hayang kadinya,

Teu dibikeun ku kolotna!

(Artinya: cita-cita ingin memilikinya, apa daya tak diberikan oleh orang tuanya).

Lalu, ada juga pantun yang kurang ajar, mengolok-olok orang tua:

Dumanini, batu jajar,

Samping beureum disoekeun,

Nini-nini kurang ajar,

Ndeuk dibeuleum teu daekeun…

(Artinya: ada nenek-nenek yang menurut mereka adalah kurang ajar, tetapi mau dibakar tidak mau, jelas dong, siapa yang mau dibakar, emang jagung?)

Nah, itulah sepetik pantun di Balaraja Era Silam.

By Tangereng Barat Posted in Pernik