Berbalas Pantun Ala Balaraja (era 80-an)

01

Para pelawak di televisi paling hobi berbalas pantun. Mereka bahkan cenderung memperlebar fungsi pantun. Dulu, pantun adalah gaya bahasa yang indah, halus, dan sopan. Kini, pantun menjadi bahan olok-olok, saling ejek, ledek-ledekkan, dan jauh dari etika kepatutan.

Berpantun ala pelawak memang bertujuan meledakkan tawa. Tetapi, sayangnya, kerap bablas. Lantaran mereka tak sungkan lagi menghamburkan kata-kata vulgar. Pokoknya lebay bin alay…

Di luar lingkungan pelawak, penggunaan pantun saat ini sudah menjadi “gaya hidup”. Para pengguna pantun, tersihir oleh kaidah pantun para pelawak. Mereka pun ikut-ikutan main ledek-ledekan dengan menggunakan pantun. Sesekali, pantun juga dipakai untuk merayu dan menggoda lawan jenis. Contohnya:

Ikan hiu pegel-pegel,

I Love You, Girl…

Atau contoh pantun untuk membuat segar suasana, seperti yang ini:

Buha kopi, buah kedondong,

Ngopi dooonggg…

Pantun Balaraja

Jangan salah, generasi Balaraja era 80-an juga mengenal (dan gemar) berpantun. Dengan beragam variasi. Ada pantun yang menggambarkan suasana sepi di tengah sawah; pantun untuk mengejek perempuan; pantun untuk menertawakan orang tua; atau pantun untuk sekedar mencairkan suasana…

Contoh pantun untuk mengejek perempuan atau lawan jenis:

Salawe dua puluh lima, amis henteu ladana bae…

Awewe zaman ayeuna, geulis henteu, lagana bae…

(Artinya: perempuan zaman sekarang, tidak cantik tapi hanya genit! Nah, pantun ini jelas akan membuat pedas lawan jenis).

Malah ada pula pantun yang sifatnya mengolok-olok perempuan:

Salawe dua puluh lima, sireum ateul dina gelas,

Awewe zaman ayeuna, kelek ateul dihampelas…

(Artinya: perempuan zaman sekarang, kalau ketiak gatal, diampelas, digosok pakai ampelas. Ini jelas ejekan, karena tak mungkin dilakukan).

Berikut pantun yang menggambarkan rasa putus asa karena cinta:

Kica-kica, kuku cina

Teu dipiceun kalokopna…

Cita-cita hayang kadinya,

Teu dibikeun ku kolotna!

(Artinya: cita-cita ingin memilikinya, apa daya tak diberikan oleh orang tuanya).

Lalu, ada juga pantun yang kurang ajar, mengolok-olok orang tua:

Dumanini, batu jajar,

Samping beureum disoekeun,

Nini-nini kurang ajar,

Ndeuk dibeuleum teu daekeun…

(Artinya: ada nenek-nenek yang menurut mereka adalah kurang ajar, tetapi mau dibakar tidak mau, jelas dong, siapa yang mau dibakar, emang jagung?)

Nah, itulah sepetik pantun di Balaraja Era Silam.