Dua Pahlawan Wanita yang “Bersentuhan” Dengan Balaraja

Artikel Dari Supi El Bala:

Ilustrasi Pahlawan Perempuan

Pascaperang Banten VS Kompeni, tidak begitu saja usai. Kompeni ternyata tidak mulus menguasai Banten dengan tenang. Perlawanan-perlawanan tak begitu saja mereda. Kompeni Belanda harus siaga dan waspada menghadapi milisi yang dimotori Ulama dan Jawara (pendekar).

Dari Ujung Kulon hingga Tangerang Kompeni terus menghadapi perang parsial. Banyak kisah mengenai sempalan perang Banten yang belum terungkap. Selaksana kedigjayaan si Pitung yang menjadi Zoro Betawi. Tentu saja ini menjadi legenda lisan yang jika tak dituturkan via tulisan media, begitu saja terkubur dalam benak wajah generasi mudanya.

Sebut saja, Syech Yusuf, Pangeran Purbaya, Pangeran Kidul di Tangerang, Kiyai Zakariya Ujung Kulon, Ki Asnawi Caringin, generasi berikutnya Nyimas Gamparan Hingga Nyimas Malati yang wilayah teritorial perjuangannya di Tangerang dan sebagian Serang. Dua pejuang wanita Banten ini jarang disebutkan dalam buku matapelajaran sejarah nasional maupun lokal.

Balaraja, catatan lisan menyebutkan bahwa pasukan darat Sultan Ageng Tirtaya ketika hendak menyerang Batavia. Salah satu markas amunisi dan dan dapur umumnya dipasok dari Balaraja.

Sebagai daerah transit, tentu saja banyak meninggalkan catatan sejarah yang tak bisa begitu saja lekang. Termasuk kepahlawanan dua singa wanita ini.

Nyimas Gamparan dan Milisi Srikandi

Pasca perang Banten dan gerilyanya Sultan Ageng Tirtayasa di daerah hutan pinggiran Bogor, Sajera (1683) hingga tertipu oleh utusan keluarga keraton Surosowan atas permintaan anaknya, Sultan Haji. Sekenario selanjutnya, ditangkap dan meninggal dalam penjara Kompeni Belanda, Benteng Batavia (1692). Perjuangan menghadapi penjajah di Bumi Banten tidak begitu saja pupus. Diantaranya, perang dengan milisi pimpinan Nyimas Gumparo (1829-1830).

Nyimas Gumparo alias Nyimas Gamparan bersama 30 milisi wanita dan saudara-saudaranya menyerang kompeni belanda yang waktu itu sedang gencar-gencarnya melaksanakan program Cultuurstelsel (1830) dengan membangun jalan Anyer-Panarukan. Perang Cikande, Rangkas, Serang hingga ke Pandeglang pun tak terelakan. Serangan-serangan dilakukan Nyimas Gamparan beserta pasukannya. Korban dari kedua belah pihak pun tak terelakan.

Pasukan Srikandi ini bermarkas di Balaraja. Tempat singgah para raja (Asal Kata Balai Raja) atau ada yang menyebutkan tempat berkumpulnya BALA tentara RAJA. Serangan sporadis pasukan Nyimas Gamparan ternyata membuat repot kaum penjajah. Disebutkan Kompeni Belanda pada waktu itu telah banyak mengalami kerugian dan kebangkrutan.

Pasukan Nyimas Gamparan tidak mudah ditumpas oleh pasukan Kompeni Belanda. Kenyataannya, pasukan wanita ini mampu bertahan menghadapi serangan pasukan pengalaman perang. Adapun keunggulannya antara lain: Pertama, Pasukan wanita ini tangguh di medan perang (salah satu kaol menyebutkan sakti-sakti mandraguna). Yang kedua, pasukan Nyimas Gamparan menguasai medan perang gerilya di teritorialnya.

Ada satu daerah yang menjadi persembunyian orang-orang Balaraja ketika zaman ngeli (hijrah) yakni di Desa Kubang Kec. Sukamulya (Pemekaran Kec. Balaraja). Banyak diyakini oleh orang Balaraja bahwa jika ngeli ke daerah tersebut susah dilacak oleh tentara penjajah.

Diperkirakan tempat penyumputan (persembunyian) Nyimas Gamparan di daerah tersebut. Sebab daerah ini letaknya berada jauh di pedalaman.

Kalau kita bentangkan garis lurus, Kubang wilayahnya cukup jauh dari proyek Jalan Anyer-Panarukan juga diapit antara Sungai Cidurian dan Cimanceuri. Sehingga transportasi penyerangan bisa dilakukan dari berbagai arah. Selanjutnya, dulu masih banyak peninggalan patung pejuang dan makam tua yang mengarah pada pejuang Banten.

Selain itu, akses dari jalan Anyer-Panarukan (kota Balaraja) menuju Kubang harus melewati hutan lebat (yang sekarang menjadi Kampung Leuweung Gede). Disebelah hutan itulah didirikan barak pasukan yang belakangan disebut Pondok Gede atau rumah besar.

Lagi-lagi, Belanda melancarkan devide et impera. Raden Tumenggung Kartanata Nagara yang menjadi Demang di Jasinga, Bogor (1829) diminta bantuan untuk menumpas milisi Srikandi ini. Dengan iming-iming dijadikan penguasa di daerah Rangkasbitung.

Pasukan Ki Demang inilah yang kemudian diadu dengan Pasukan Nyimas Gamparan. Akibat perang yang berkepanjangan pasukan Nyimas Gamparan yang bergerak dari Balaraja-Cikande menuju Rangkasbitung dapat diperlaya saat perang Pamarayan oleh pasukan Kartanata Nagara. Nyimas Gamparan pun disemayamkan di daerah Pamarayan, Serang-Banten.

Atas perannya tersebut Ki Demang mendapat anugerah dari Kompeni sebagai Bupati Rangkasbitung pertama (1830-1865) dengan gelar Raden Tumenggung Adipati Kartanata Nagara menggantikan penguasa sebelumnya Pangeran Sanjaya. Dari kejadian ini perjuangan pun tak lantas pudar. Perang terus berkobar di bagian lain Bumi Banten atas belenggu penjajah.

Nyimas Melati Putri Sejati                                       

Alkisah tahun 1918, sebagian besar Tangerang telah dikuasai oleh tuan tanah. Sangat sedikit sekali kaum pribumi memiliki tanah pribadi. Sebutan tanah dalam tanam paksa disebut tanah partikelir.

Partikelir antara tahun 1921-1930 di Distrik Blaradja, seperti Blaradja en Boeniajoe, Tigaraksa, Tjikoeja, Karangserang dalem of Kemiri, Pasilian, Djenggati, Tjakoeng of Kresek. Adapun di Distrik Tangerang, diantaranya tjikokol tg., Panunggangan, Pondok Djagoeng, Paroengkoeda, Batoe Tjeper, Tanah Kodja, dll sedangkan di Distrik Maoek antara lain: Kramat en Pakoeadji, Sepatan, Teloeknaga, Ketapang Maoek, Rawakidang, Kampoeng Malajoe, Pekadjangan, Tegalangoes, Bodjong Renget, Ketos dll. Hampir semua tanah dikuasai Tuan Tanah.

Saat sekelompok tuan tanah mendapat dukungan dari kompeni kehidupan Masyarakat Tangerang dikuasai menyebabkan masyarakat melarat akan pemaksaan, pemerasan, dan tekanan atas tanahnya. Salah satu perjuangan milisi yang terkenal adalah Milisi Raden Kabal.

Milisi Kabal sering mengadakan penghadangan di daerah-daerah Tangerang. Dalam pertempuran melawan Kompeni Belanda Sang Raden dibantu putrinya, Nyimas Melati dan Pangeran Pabuaran Subang.

Salah satu pertempuran yang tertulis pertempuran Pabuaran Subang yang dijadikan tempat gugurnya Pangerang Pabuaran dari Subang saat perang dengan Kompeni.

Keberanian Nyimas Melati terkenal akan ketangguhannya dalam ilmu bela diri maupun olah kanuragan.

Konon, kesaktiannya menjadi tuturan para orang tua tempo doeloe. Saat bentrok pasukan terjadi di daerah perbatasan Balaraja. Sambil mengacungkan centong (baca: keris) berteriak lantang “Serang…!” pasukan Kompeni yang dibantu Cina pro Kompeni langsung ciut nyalinya. Suaranya, yang menggelegar meluluhlantakan semangat pasukan lawan. Bahkan diceritakan burung-burung yang mendengar teriakannya beterbangan karena gaungannya.

Nyimas Melati laksana Singa Betina ketika menyerang musuh-musuhnya kebenaranianya tercatat dalam benak para orang tua dahulu. Sehingga untuk mengubur jejak kepahlawanannya Nyimas Melati akhirnya dimakamkan dibanyak tempat, diantaranya di Desa Bunar Kec. Sukamulya (pemekaran Balaraja), TANGERANG BARAT

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s